2 minggu lalu · 1318 view · 3 min baca menit baca · Ekonomi 38271_19725.jpg

Meski Kalah Pilpres, Sandi Makin Kaya

Sttt.. Jangan bilang-bilang, ya. Sandiaga ini untung besar di dalam pemilu kali ini. Bagi pebisnis, tidak boleh ada kata rugi. Semua harus untung. Karena kalau tidak untung, nanti tidak ada uang tutup mulut.

Kita harus tahu betul bagaimana strategi perang dagang yang dikerjakan Sandiaga Uno ini, adalah sebuah hal yang tidak pernah rugi. Dia adalah pebisnis yang mahir dan bisa mengambil untung, bahkan dari keterpurukannya.

Dalam pasar saham, ini adalah sebuah hal yang sudah biasa kita lihat. Modal capres untuk lima tahun ke depan rasanya sudah diamankan. Ratusan miliar keuntungannya per tahun. Prinsip ekonominya sederhana, yang penting uang keluar tidak lebih banyak uang yang masuk. Ini namanya untung alias profit.

Sahamnya melonjak tinggi di pasar modal. Mengapa dia yang kalah pilpres itu tetap bisa membuat sahamnya melonjak? Sederhana. Permainan saham ini menjadi permainan yang sudah biasa dikerjakan. Dalam pasar modal, pasti ada fluktuasi.

Orang yang sukses adalah orang yang bisa menahan diri dalam bermain saham. Saham Sandiaga memang sudah begitu besar. Jadi kira-kira sederhananya seperti ini…

Sandiaga ini memiliki saham dengan nilai tertentu. Orang membangun perusahaan pasti ingin untung. Tidak mungkin mau rugi. Paling banter, uang itu bertahan. Kalau sudah turun, maka harus segera berawas-awas. Jangan sampai terlalu rendah.


Buat orang-orang pemain saham, naik-turunnya nilai saham itu sering dihadapi. Tapi bagi beberapa orang, khususnya para elite ekonomi dan penggerak saham, merekalah yang menentukan kenaikan dan penurunan. Dalam dunia pasar modal, kita sudah biasa melihat bagaimana saham itu dikelola.

Pemahaman akan saham ini sudah begitu maju. Dunia berkembang, perekonomian juga berkembang. Jargon orang kaya makin kaya dan orang miskin makin miskin adalah benar adanya.

Sandiaga adalah orang kaya. Dia mungkin bisa dikatakan sebagai pemain ekonomi yang paling kaya. Saham perusahaan Sandiaga masih dianggap menarik oleh investor.

Para investor masih berani berinvestasi di perusahaan Sandiaga Uno. Maka tidak heran, jika di dalam kekalahannya dalam pilpres, dia masih bisa meraup untung ratusan miliar.

Apa yang saya katakan ini tidak bohong. Jadi sebenarnya, perekonomian dan politik itu nyaris tidak berkorelasi satu sama lain.

Tapi yang kasihan adalah pengikutnya. Mengapa? Karena pengikutnya itu lelah-lelah mengumpulkan uang untuk Prabowo dan Sandiaga. Dan diambil pula, bukannya dikembalikan. 

Padahal kita tahu bahwa Sandiaga ini adalah orang kaya raya. Tapi begini. Tajir melintir, jika tidak diikuti dengan kebesaran hati dalam menerima kekalahan, di sana kita melihat ada yang kurang.

Jadi, secara bisnis, perusahaan Sandiaga masih bertahan. Bahkan bisa untung 200 miliar. Maka nilai 1 triliun yang disebut-sebut Andi Arief untuk PKS dan PAN itu tidak seberapa. Karena setiap tahun, sahamnya berpotensi untuk untung ratusan miliar rupiah.

Jadi uang sebanyak apa pun yang dikeluarkan Sandi, asal tidak lebih besar dari pemasukannya, masih aman. Di sinilah kita memahami bahwa ada permainan ekonomi di sini. Buka keran sebesar-besarnya, tutup bocor sekecil-kecilnya.

Prinsip ekonomi ini adalah prinsip menabung dan menghasilkan untung. Uang yang menjadi keuntungan pun bisa digunakan untuk membuka bisnis baru yang berpotensi melipatgandakan keuntungan Sandiaga Uno.


Dalam perusahaan, kita biasanya mengorbankan satu hal untuk meninggikan hal yang lain. Ini adalah strategi bisnis. Misalnya dalam ekonomi penerbangan juga demikian. Bisnis, ekonomi memang tidak berkorelasi langsung dengan politik.

Ada pertarungan dua raksasa, sehingga para pesaingnya minggat. Bahkan beberapa maskapai kecil juga sudah tidak terlalu banyak penerbangannya. Satu per satu minggat karena ada dua raksasa yang bersaing dalam penerbangan.

Pada akhirnya, harga sudah bisa mereka atur sampai semahal ini. Ya, ini baru bicara tentang bisnis penerbangan domestik lho.

Bahkan di dalam ekonomi penerbangan, Budi Karya Sumadi sebagai Menteri Perhubungan pun sudah tidak bisa berbuat banyak. Banyak sekali persaingan-persaingan semacam ini.

Jika di dalam agama kita kenal ada hitam-putih, di dalam ekonomi, semuanya nyaris abu-abu. Tidak ada yang benar seratus persen atau salah seratus persen. Salah dan benar pun bisa didefinisi. Baik buruk atau tidaknya bisa didefinisi, tergantung siapa yang bermain.

Inilah esensi ekonomi. Tapi kok sepertinya ada yang mengganjal, ya? Hal yang mengganjal saya adalah begini… Kenapa mereka masih minta sumbangan? Inilah yang mengusik nurani saya dan akal sehat saya.

Terkadang, kita bekerja susah-susah, kemudian menyumbang sesuatu untuk capres dan cawapres. Sayang sekali, ternyata mereka… lebih kaya dari kita. Jadi apa esensi menyumbang?

Berbeda sekali definisi menyumbang dengan memberikan perpuluhan atau persembahan. Kalau kita memberikan perpuluhan dan persembahan, bukan karena Tuhan miskin, tapi karena sebuah perintah beragama. 

Tapi kalau menyumbang ke orang yang sudah kaya, memangnya dia Tuhan? Semoga hal ini bisa mencerahkan kita semua.

Artikel Terkait