Sudah pasti kalian mengetahui window of the world (jendela dunia) atau yang disebut televisi. Karena dari televisi masyarakat mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di dunia yang tidak dapat dipandang mata tetapi dapat di lihat dari televisi.

Menurut wikipedia, televisi pertama kali ditemukan pada tahun 1925 oleh John Logie Baird yang berhasil menunjukan cara pemancaran gambar-bayangan bergerak di London.

Seiring perkembangan zaman,  televisi sekarang mempunyai banyak jenis seperti tv tabung, tv plasma, tv LED, dan tv oled. Kemudian yang dulunya hanya memiliki 2 warna (hitam dan putih), sekarang sudah berwarna-warni saat kita menontonnya.

Menurut Adi Badjuri, televisi adalah media pandang sekaligus media pendengar (audio-visual), yang di mana orang tidak hanya memandang gambar yang ditayangkan televisi, tetapi sekaligus mendengar atau mencerna narasi dari gambar tersebut.

Zaman dahulu, televisi sangat langka untuk dijumpai warga. Orang dahulu berkata, “Dulu orang punya 1 televisi hitam putih di rumahnya adalah orang yang lebih dari cukup untuk membiayai hidup atau disebut orang kaya.”

Kemudian para tetangga menumpang nonton di rumahnya. Bukan hanya itu saja, orang-orang dulu hanya menonton satu stasiun TV, yaitu TVRI yang sampai sekarang masih ada di televisi kita.

Seiring berjalannya waktu,  semakin banyak pula stasiun TV baru bermunculan seperti RTV, NET TV, dan Kompas TV. Bukan hanya stasiun TV saja, tetapi semakin menarik juga disuguhkannya acara-acara baru yang menggugah masyarakat untuk melihatnya.

Di setiap stasiun tv menyajikan acara yang menghipnotis anak-anak sampai orangtua mampu berjam-jam berdiam di depan tv jika mereka tidak mempunyai kegiatan di dalam maupun luar rumah. 

Contohnya seperti film kartun yang disukai anak-anak bahkan sampai kalangan dewasa pun masih menyukai film ini, acara talkshow yang seru dan terkadang disertai perdebatan jika mengundang figur-figur politik atau orang-orang ternama di Indonesia bahkan sampai luar negeri.

Kemudian ada berita gosip yang disukai kaum ibu-ibu dan anak muda, reality show yang disukai semua kalangan, dan sinetron yang disukai dari anak-anak sampai orangtua. Semua orang suka menonton televisi.

Tentu hal itu menimbulkan pro dan kontra bagi kalangan masyarakat, terutama orangtua yang “gemas” melihat anak-anaknya malas mengerjakan PR, tidak mau menyelesaikan pekerjaan rumah, dan berbicara tidak sopan karena menonton dan mempraktikannya.

Contohnya, si Ryu sedang asik menonton channel favorite nya. Pada saat mama berkata, “Ryu, jangan nonton TV saja, kerjakan PR-mu dan sapu halaman depan.” Ryu menjawab, “Bentar, ma, lagi seru nih filmnya. 10 menit lagi selesai.”

10 menit kemudian, mama mengingatkan. “Ayo kerjain PR dan sapu halaman.” Ryu menjawab, “ Bentar, ma, bentar. Pasti aku kerjain kok.” Akhirnya Ryu pun ketiduran di depan TV dan mama pun marah-marah karena Ryu tidak mengerjakan tugas bagiannya.

Secara tidak langsung dari acara televisi membawa dampak buruk bagi masyarakat yang menonton acara-acara yang ada di dalamnya. Karena dengan setiap hari nya mereka menonton acara-acara tersebut membuat dalam kehidupan sehari-hari mereka juga berubah.

Seperti cara berbicara kepada orang lain yang mengikuti gaya bicara di sinetron yang mereka setiap harinya tonton di rumah. Lalu gaya berpakaian mereka yang tampak seperti pakaian-pakaian pemeran sinetron.

Dan karena terbawa suasana, terkadang anak-anak muda membawanya di kehidupan sehari-hari yang menjadikan kehidupan mereka adalah sinetron life. Sungguh sangat disayangkan, bukan, anak-anak penerus bangsa menjadi seperti itu?

Bukan hanya itu saja, saat acara favorite mulai, membuat kita betah menonton tanpa ingat kegiatan-kegiatan yang sudah kita planning sebelumnya dan itu membuang waktu yang cukup banyak. Bayangkan 1 acara favorite jika ditayangkan sekitar 1-2 jam.

Selama waktu itu, tentu banyak hal yang seharusnya kita bisa lakukan. Seperti pergi keluar rumah untuk berinteraksi dengan tetangga, berolahraga, berbelanja keperluan penting rumah, memasak, melakukan hobby, dan masih banyak lagi.

See, televisi layaknya seperti mesin pencuci otak secara tidak langsung. Banyak masyarakat yang terkontaminasi dengan gaya hidup, gaya pakaian, gaya bicara. Siapakah dari kita yang membaca artikel ini sudah terkontaminasi dengan mesin yang satu ini?

Berikut ciri-ciri bahwa kalian sudah terkontaminasi. Pertama, bagi kita yang awalnya tidak intens menonton TV menjadi intens menonton menjadi malas untuk melakukan kegiatan lain karena asik menonton tayangan layar kaca di televisi.

Kedua, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan bahasa “gaul” yang ada di acara-acara televisi yang kita tonton. Ketiga, kita akan menjadi kurang konsentrasi dan tidak connect saat kita sedang nonton kemudian diajak berbicara oleh orang lain.

So, apakah kalian termasuk ciri-ciri di atas? Berubahlah dari sekarang. Boleh saja kalian menonton TV tetapi di batasi atau nonton acara-acara yang mengandung manfaat bagi kehidupan kalian. Jangan menonton acara televisi yang tidak ada manfaatnya bahkan sampai merusak nilai hidup kalian.

Lebih baik kita meluangkan waktu untuk membaca buku daripada menonton acara TV yang terkadang tidak ada manfaat nya. Dengan membaca buku dapat menambah wawasan baru dan informasi terbaru. Budayakan membaca buku setiap harinya.