Dalam faktisitasnya, banyak sekali jenis pemikiran yang dihasilkan maupun ditemukan oleh manusia. Mulai dari paradigma antorposentris sampai ekosentris, mulai dari saintisme sampai realisme teologis, dan banyak lagi. Ini semua merupakan konsekuensi dari pikiran manusia yang tak berhenti bekerja dalam spasial dan temporalitasnya. 

Lantas kemudian apa yang membedakan otak manusia dengan komputer ? Kedua-duanya barangkali memiliki mekanisme yang mirip, namun manusia kita pastikan memiliki dimensi yang lebih kompleks dan akan dipengaruhi oleh suasana hatinya (stimmung). Komputer hanya mampu memilah kasus dan mencari/berangkat dari asas kemunculan pertamanya (prima facie), hanya itu yang dipikirkan komputer.

Tidak semua informasi menuntut pikiran atau pemahaman manusia. Mahasiswa misalnya, dapat memproses informasi tanpa harus memahaminya seolah informasi hanya berlalu-lalang di pikiran mahasiswa. Namun, masih dimungkinkan mahasiswa untuk memahami tiap detil pokok informasi dengan menjaring informasi yang saling berelasi. 

Berbeda dengan komputer, pikiran komputer tidak berisi dan tak berkodrat/tidak berhubungan langsung dengan dunia kodrati non manusiawi. Ini bisa dibandingkan dengan manusia yang memiliki hubungan dengan bahasa. Di antara manusia dan bahasa terdapat hubungan fundamental di mana dari hubungan tersebut dapat dihasilkan makna terhadap dunia yang alami.

Dunia alami bagi manusia memiliki dua peran semantik, pertama sebagai “rumah” dari makna, kedua dunia sebagai makna itu sendiri. Berbeda dengan komputer, di mana komputer dibimbing oleh manusia untuk melihat dunia alami dengan bahasa manusia itu sendiri (manusia sebagai pencipta komputer). 

Namun, dalam kenyataan hari-hari ini kita dihadapkan pada penemuan Artificial Intelligence (AI) di mana melalui sistem Neural Network berusaha menyamai pikiran manusia. Cara kerjanya sederhana, dengan memproses data/informasi yang diinput ke dalamnya dan mempelajari pola-pola informasi. 

Apa yang membuat AI ini istimewa adalah kecepatannya dalam memproses informasi. Manusia sendiri, kita tahu, hanya mampu memproses informasi yang lebih sedikit dan lambat karena sifatnya pikiran manusia yang holistik.

Pemikiran manusia sendiri sifatnya menyeluruh (holistik) sedangkan komputer tidak. Setidaknya, pemikiran manusia tercermin ke dalam tiga cara pikiran bekerja, pemikiran yang mempunyai fungsi biologis, pemikiran yang sifatnya logis, dan pemikiran yang sifatnya kausal. 

Fungsi biologis dari pikiran manusia merupakan cerminan dari manusia yang menyejarah, ia bagian yang integral dengan kehidupan kodrati manusia itu di mana terus berkembang dan berevolusi. Sifat pikiran logis manusia digambarkan dalam kemampuan manusia untuk membedakan dan mengklasifikasi realitas. 

Sifat ini juga memberi kesadaran manusia terhadap hubungannya yang bersifat plural dan berkelanjutan. Pemikiran secara kausal memberikan individu hubungan psikologis antara keadaan mental dengan hal yang lain. Maka hasrat-hasrat khusus akan menyebabkan maksud-maksud khusus dan keyakinan-keyakinan khusus.

Tentu ini membentangkan perbedaan yang sangat jauh bila dibandingkan dengan cara berpikir komputer. Bahkan kata “berpikir” tampak sebagai metafor untuk menggambarkan komputer. Kita dapat simpulkan dengan cepat bahwa yang bermoral adalah manusia dan bukan komputer. Mengapa demikian? 

Seberapa cepat-pun atau seberapa banyak informasi yang dapat diproses, AI hanya melihat kemungkinan yang ada tanpa pertimbangan lebih lanjut untuk mendalami aspek-aspek di dalam sebuah informasi. 

Artinya, dasar berpikir bagi AI adalah bagaimana membuat sesuatu lebih mudah (efisien) dan efektif ketika dihadapkan pada masalah (atau akan dihadapkan pada masalah?). Hal ini tentu selaras dengan visi manusia dalam mengembangkan teknologi bukan?

Lantas yang jadi problem penting adalah—dan barangkali sering menjadi ketakutan awam—akankah posisi kita digantikan oleh AI? Bisa saja demikian, karena kecepatan belajar AI yang begitu dahsyat hingga sangat mungkin ia menguasai seluruh penjuru internet. 

Bahkan, mereka akan dengan mudah meretas segala hal yang dirasa penting dan perlu (kekuatan militer, alat-alat produksi, dsb), juga ia akan mewujudkan dirinya dalam bentuk robot yang mirip dengan manusia. Dengan mesin-mesin pabrik yang sudah automasi (juga menggunakan AI), AI mampu merekonstruksi diri ke dalam wujud fisiknya. 

Kita juga dapat membayangkan sebuah tempat/bumi yang pada akhirnya dikuasai oleh entitas-entitas baru menggantikan manusia (nuansa distopia mulai terasa-kah?).

Bisa saja kemungkinan terburuk hingga terbaik dari AI kita bayangkan sedemikian rupa. Namun, jangan juga lupakan bahwa seluruh kemungkinan tersebut adalah bagian dari rasio manusia. Artinya, itu semua hanya dalam tataran abstrak/hipotesa. 

Barangkali kata yang paling tepat untuk menggambarkannya adalah “risiko”. Ketika kita pahami seluruh konsekuensi dari AI adalah sebuah risiko, maka kita dapat meminimalkan risiko yang akan datang. 

Kita dapat menangguhkan sementara kengerian kita dengan gambaran-gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh AI (barangkali hal yang paling lucu ketika Facebook akhirnya mematikan dua robotnya karena mereka berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri, atau itu semua hanya paranoia?). 

Sikap ini penting, karena akan muncul konsekuensi etis: bila kita paranoid, kita mungkin akan terus cemas dan ketakutan; tetapi bila kita narsis dan solipsis, maka kita akan terjebak dalam hasrat kita sendiri. Jadi, akankah mesin menguasai dunia? (atau kitalah mesin itu?)