Makhluk eskatologi yang satu ini bikin kesal. Bagaimana tidak, keterangan dan penjelasan di kitab-kitab tafsir muktabarah atau tafsir populer sangat terbatas. Pun uraian di dalam jurnal-jurnal yang berbasis kitab-kitab samawi masih samar. Sehingga pembaca masih belum bisa menemukan gambaran fisiologis dan nomenklatur binomialnya yang jelas.

Siapa sih yang gak kenal Gog Magog? Makhluk super-terestrial yang Hollywood saja masih kelimpungan melayarlebarkannya. Nama lain makhluk ciamik ini adalah Yajuj Majuj

Informasi genealogi yang cenderung singkat dan kurang jelas via khotbah-khotbah eksposisi yang bersifat homiletika membuat keberadaan makhluk ini makin dicari konsep-konsep eksegesisnya. Untuk selanjutnya saya akan menyebutnya secara bergantian, antara Yajuj Majuj dan Gog Magog.

Eksegesis modern tentang makhluk ini juga pernah dipaparkan, seperti yang dijelaskan oleh Imran Hosein dalam An Islamic View of Gog and Magog in the Modern Age. Namun tetap saja menemui jalan buntu. 

Selain tidak menyinggung pembedahan fisiologi, morfologi, dan tingkah laku makhluk hidup, penjelasan terbatas dan terkesan melakukan penggiringan opini tentang hubungan Gog Magog dengan pembelaan tanah Palestina. Sungguh sektarian banget. 

Menurut saya, penjelasan dan uraian buku tersebut masih saja berbau eksposisi homiletika yang membabi buta. Belum lepas menuju pembedahan kebebasan fisiologi, morfologi, dan tingkah laku makhluk terestrial. Walaupun saya nantinya tetap menggunakan ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis pendukungnya. Sebagaimana yang telah dilakukan Imran Hosein. 

Saya coba untuk mendedah sisi superfisial dan resopsinya dulu. Kata "Gog Magog" dan "Yajuj Majuj" merupakan kata bentukan hasil proses penggabungan yang kemudian menghasilkan kata dan makna baru. Proses ini dikenal dengan istilah konkatenasi. Contoh lain yang mudah ditemui, seperti Upin Ipin dan Romulus Remus. 

Baca Juga: Mitologi Psikhe

Gog Magog dan Yajuj Majuj masuk dalam kategori proper noun (kata benda nama diri/isim alam). Pendalaman etimologis model ini sering disebut oleh para mufasir dengan istilah tabahhur atau menguasai awal istilah dengan detail dan mendalam.

Hal menarik di dunia tafsir ketika para mufasir melakukan runut etimologis, seperti langkah di atas, dan kemudian makna kata tersebut belum bisa melahirkan sebuah visual dan asosiasi baginya, maka rata-rata para mufasir terus saja merampungkan karyanya agar selesai dan terjual. Sangat mudah memberi final.  

Etimologis kata Yajuj Majuj dan Gog magog melahirkan beberapa derivasi. Dia bisa sebagai isim musytaq (memiliki akar kata). Seperti tinjauan Bahasa Aramik yang mampu mengartikan perkata dari kata "Gog Magog".

Sedang pada surah Kahfi ayat 94, Yajuj Majuj digambarkan sebagai kaum yang kasar dan biadab. Sebagian besar analisis mufasir untuk kata "Yajuj Majuj" adalah sebagi kata benda abstrak. Kenapa kok kata benda abstrak? Ya, karena tidak bisa menjelaskannya secara perkata. Buntu alias berstatus tidak mempunyai akar kata. Bahasa Arab mentok di sini.

Diketahui bahwa setiap kata memiliki tiga level resopsi atau asimilasi makna, yakni makna leksikal (mukjamiyah), makna morfologis (sharfiyah), dan makna sintaksis (jiahwiyah). Rata-rata para mufasir untuk  kata "Yajuj Majuj" mentok di level leksikal saja tanpa melakukan tindakan lanjut, semisal membedahnya dari sisi fisilogis dan tingkah laku makhluk hidup.  

Sehingga superfisial kata "Yajuj Majuj" hanya mengerucut pada kata benda abstrak yang musytaq (non root word) atau tak mempunyai akar kata. Paling banter kata "Yajuj Majuj" digolongkan sebagai isim ajam yang bersifat laqob atau julukan.

Tapi, menurut saya, kata Yajuj Majuj bukan musytaq, artinya punya akar kata walau itu dari bahasa Ibrani yaitu "Gog Magog". Atau kalau lebih berani bisa juga merupakan isim alami Manqul (nama dari pindahan perkataan lain).

Selanjutnya mari kita lihat dari sisi fisiologisnya. Paling gampang dengan mengekor pada cara klasifikasi ala Carolus Linnaeus. Dimulai dari bab limbik atau etika berjalan (limbic gesture). Morfologi lokomasi dari Gog Magog atau Yajuj Majuj jika dirujuk pada lafaz yansiluuna (mengalir turun dengan cepat), maka paling tidak mereka mempunyai morfologi lokomasi berjenis bipedal.

Lokomasi limbik bipedalisme berciri menggunakan dua penggerak, yaitu dua kaki. Mereka bukan dari jenis tripedalisme atau dengan tiga penggerak (dua kaki dan ekor) ataupun melata yang kuadrupedal. Tidak ada yang mampu menandingi bipedalisme dengan dukungan tulang belakang yang tegak dalam hal kecepatan dan ketahanan lokomasi. 

Dengan kemampuan lokomasi limbik yang sempurna maka Gog Magog berfilum kordata (mempunyai notokorda) dan bersubfilum vertebrata (bertulang belakang). Mereka juga bukan dari reptilia yang rata-rata adalah kuadrupedalisme. Lebih menarik lagi jika kita memahami tentang reptilian draconian.

Kemudian dengan memperhatikan tingkat dan gaya mempertahankan diri atau survival model yang diberitakan ayat pada lafaz-lafaz  isthoo'u dan yadharuhu, memperlihatkan bahwa Gog Magog menggunakan kata kerja aktif untuk memanjat ataupun teknik pelolosan dari dinding perangkap yang dibangun oleh Dzulkarnain, sang pengurung Gog Magog. 

Teknologi Dzulkarnain ini tidak sembarangan. Dia sudah menerapkan teknologi aliase atau alloy yang mampu mencampur lempeng besi dengan leburan tembaga sebagaimana disebut pada surah Kahfi ayat 96-97. Sungguh mustahil mampu ditembus reptilia yang sangat terbatas daya pikirnya.

Gog Magog tidak memiliki jari-jari kaki yang ber-lamella atau yang memfasilitasi gerakan merayap baik di permukaan halus (aliase besi tembaga) ataupun di dinding. Juga kesulitan melubangi atau membuat naqban (lubang) sebagaimana redaksi hadis terpaut. 

Lubang pada permukaan lempeng alloy mustahil bisa dibuat hanya dengan piranti pedipalpus (cakar) tajam yang biasa dimiliki oleh reptilia. Membutuhkan budi dan daya yang tinggi. 

Pergerakan Gog Magog yang turun dengan deras berdasarkan lafaz min kulli hadabin yansilun atau turun dari tempat-tempat yang tinggi dengan cepat. Hal ini menunjukkan bahwa  bipedalisme Gog Magog tergolong spesies dengan tungkai belakang yang pendek. Jenis ini umumnya termasuk dalam golongan pelari (runner atau pejalan; walker).

Sedangkan pemilik tungkai belakang panjang termasuk dalam golongan perenang (swimmer) atau pelompat (jumper). Golongan ini sekali lompatan saja jarak yang ditempuh 10 kali panjang tubuhnya atau lebih. Namun postur Gog Magog pendek, cocok sebagai runner yang turun dengan deras.

Konsepsi Alquran pada duo manusia dan jin sebagai penghuni bumi cukup memberi batasan pada Earth Resident. Jadi memandang Yajuj Majuj atau Gog Magog dengan visual makhluk yang aneh-aneh seperti cyborg, demigod ataupun jenis gaib lainnya adalah sebuah perundungan. Mereka adalah humanoid. 

Tertarik melayarlebarkan?