Kata sedekah merupakan kata yang sangat familiar dikalangan umat islam. Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. 

Dengan bersedekah seseorang dapat mengetuk pintu langit agar doanya terkabul.

Seperti diketahui bahwa sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu tertentu.

Sedekah lebih luas dari sekedar zakat maupun infak, karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. 

Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam islam, waktu sedekah dibebaskan kapan saja tidak terpaku dalam waktu dan hari tertentu karena semua waktu sedekah itu baik.

Namun menurut Syekh Ali Jaber semasa hidupnya, beliau pernah mengatakn dalam dakwahnya bahwa ia menemukan waktu sedekah yang paling dahsyat yaitu di waktu subuh.

Saat waktu subuh malaikat diturunkan oleh Allah SWT yang ditugaskan untuk mendoakan orang-orang yang berinfak atau menginfakkan hartanya ketika subuh.

Keutamaan sedekah subuh ini terdapat dalam hadist, yang mengatakan: "Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu diantara keduanya berdoa, "Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak", sedangkan yang satunya lagi berdoa, "Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang-orang yang menahan hartanya."(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna dari hadist diatas ialah, setiap subuh akan ada malaikat yang mendoakan kita agar rezeki kita terus mengalir dan lancar. 

Namun malaikat yang satunya mendoakan agar kita miskin sebab kita enggan untuk mengeluarkan sedekah.

Maka dari itu sedekah subuh adalah kegiatan berbagi atau mengeluarkan harta untuk kebaikan bagi yang membutuhkan, mengeluarkan harta dijalan Allah yang dilakukan ketika waktu subuh.

Bagaimana cara melakukan sedekah subuh?

Kita perlu menyediakan satu kaleng atau celengan. Lalu setiap setelah "shalat subuh", kita bersedekah dan memasukan uang ke celengan tersebut.

Tidak ada batasan nominal, namun dengan niatkan dalam hati. Hingga kaleng atau celengan itu sudah terisi penuh, berikan kepada anak yatim piatu atau kaum dhuafa.

Bila yang menunaikan shalat subuh di Masjid, dapat selalu istiqomah untuk mengisi kotak amal di masjid tersebut. 

Tidak memandang seberapa banyak atau sedikit yang kita sedekahkan, namun di lihat dari keistiqomahannya.

Sebab itu yang terbaik di sisi Allah SWT. Ketika kita niat dan sungguh-sungguh dalam meminta, Allah pasti akan qobulkan. 

Niatkan dengan khusyuk ketika kita ingin bersedekah, misal; "Ya Allah, dengan sedekah ini, aku ingin terbebas dari hutang dan dilancarkan rezekiku".

Sedekah di waktu subuh ini berbeda dengan waktu lainnya. Sebab ketika kita sedang bersedekah untuk mendapatkan ridho-Nya, sebagian orang masih terlelap.

Dan malaikat langsung menyampaikan doa kita kepada Allah SWT.

Apakah setiap sedekah itu hajatnya harus sama atau berganti-ganti?

Jika hajat kita sangat diperlukan maka disarankan satu sedekah satu hajat, missal hari ini kita bersedekah satu kali maka hajat yang diminta pun hanya satu hajat, begitupun seterusnya.

Bentuk sedekah subuh tidak hanya uang saja, bisa berupa makanan dan dilakukan ketika waktu subuh. Contohnya kita memberi makan kucing dijalan.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk melakukan sedekah subuh?

Sedekah subuh bisa dilakukan ketika adzan berkumandang di Masjid, dari mulai adzan subuh berkumandang sampai sebelum matahari terbit. 

Jika sudah terbit matahari maka tidak lain dinamakan dengan sedekah pagi.

Sedekah subuh ini tidak harus besar nominalnya, akan tetapi diperlukan keistiqamahan dalam melakukannya.

Jika lupa sehari tidak melakukan sedekah subuh maka diganti bersedekah di pagi hari atau di siang hari, yang penting diniatkan harus bersedekah setiap harinya.

Bolehkah hasil sedekah subuh diberikan kepada orang tua?

Sedekah sebenarnya dapat diberikan kepada siapa saja, namun Allah menganjurkan untuk memberikan sedekah kepada orang tua.

Apalagi orang tua yang tidak mampu. Seperti yang dijelaskan QS. Al Baqarah ayat 215 yang artinya:

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". 

Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Penjelasan Tafsir Jalalayn terkait QS. Al Baqarah ayat 215 adalah (Mereka bertanya kepadamu) hai Muhammad (tentang apa yang mereka nafkahkan)

Yang bertanya itu ialah Amar bin Jamuh, seorang tua yang hartawan. Ia menanyakan kepada Nabi saw.

Apa yang akan dinafkahkan dan kepada siapa dinafkahkannya? (Katakanlah) kepada mereka (Apa saja harta yang kamu nafkahkan)

Harta merupakan penjelasan bagi apa saja dan mencakup apa yang dinafkahkan yang merupakan salah satu dari dua sisi pertanyaan.

Tetapi juga jawaban terhadap siapa yang akan menerima nafkah itu, yang merupakan sisi lain dari pertanyaan dengan firman-Nya.

(maka bagi ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan).

Artinya mereka lebih berhak untuk menerimanya. (Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat) baik mengeluarkan nafkah atau lainnya, (maka sesungguhnya Allah mengetahuinya) dan akan membalasnya.