Hari lebaran atau hari raya idulfitri merupakan momen yang amat dirindukan oleh seluruh umat muslim. Momen dimana semua keluarga berkumpul bersama dengan  mendengar suara gemuruh takbir yang menjadikan eforia di malam menjelang hari raya idulfitri tiba.Momen lebaran akan selalu dirindukan oleh umat muslim.

Namun untuk lebaran tahun ini, harus merasakan perbedaan yang amat besar bedanya dengan cara yang tak biasa di Indonesia. Karena pandemi Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia. Banyak sekali perubahan yang terjadi bagi kebiasaan hidup manusia, hal ini tak biasa dan bukan salah satu tradisi yang ada sebelumnya.

Karena banyak daerah yang di lockdown, membuat sebagian besar daerah meniadakan sholat idulfitri berjamaah. Suasana lebaran yang banyak sekali dilakukan dengan beragam cara, kini harus menyusutkan niat untuk berkumpul bersama. Namun tak boleh sampai lupa untuk tetap selalu bersyukur.

Merindukan suasan lebaran 

Masih teringat sekali dibenak kita, jika hari lebaran tiba, banyak sekali kebiasaan yang ada ketika menjelang malam lebaran. Sepanjang bulan Ramadan, banyak sekali tradisi-tradisi seperti takbir keliling, bersilaturahmi dengan sanak saudara, sholat idulfitri berjamaan di masjid dan lapangan, ketupat, mudik, dan membagi-bagikan THR (tunjangan hari raya) yang kerap sekali mewarnai hari lebaran.

Kalau tahun kemarin sejak awal puasa sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat beragam kue lebaran seperti nastar, kastangel, rengginang, kembang goyang, dan biji ketapang. Kue-kue kering tersebut adalah sebuah tradisi untuk menjamu tamu yang bersilaturahmi ke rumah. Namun kini hanya kerinduan yang harus dirasakan oleh umat muslim di Indonesia.

“Sekarang saya dan keluarga tidak banyak membuat kue-kue lebaran, kue lebaran sebagai salah satu ciri khas di hari lebaran, karena menurut suami saya tidak banyak yang datang bertamu ke rumah. Lebaran tahun ini sangat sepi bagi saya dan keluarga. Tidak seperti lebaran tahun kemarin saya dan keluarga sangat sibuk untuk membuat beragam kue,” kata Mutini.

Meskipun demikian, Mutini mengatakan sangat bersyukur karena mereka sekeluarga tetap sehat wal’afiat di tengah pandemi ini. Bagaimana pun keadaanya mereka akan tetap menyambut lebaran dengan menyemarakkan lebaran dengan sukacita bersama secara virtual.

Merindukan suara takbir keliling 

Suasana takbir keliling adalah tradisi yang selalu dirindukan ketika lebaran tiba, selalu dijalanka oleh umat muslim sebagai ciri khas dan wajib ada ketika malam takbiran. Takbir yang dilakukan dengan menggunakan gerobak sebagai alat roda empat yang didorong atau ditarik, diikuti mulai dari anak-anak hingga dewasa sambil berlarian mengikuti gerobak dengan beduk yang dipukul keliling kampung, tidak lupa membawa obor untuk menambah kemeriahan di hari lebaran.

Beduk adalah sebuah alat besar yang dipukul dengan suaranya yang sangat nyaring, menambah kegembiraan di malam lebaran. Pawai obor dan takbir keliling merupakan sebuah tradisi yang dapat merayakan kesenangan pada masyarakat sekitar. Semua itu adalah ciri khas yang ada di hari lebaran. Di pagi harinya, semua umat muslim pergi ke masjid dan lapangan untuk menuaikan ibadah sholat idulfitri berjamaah.

Namun, pemerintah melarang takbir keliling dan sholat idulfitri berjamaah, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Biasanya anak muda secara bersama-sama membangunkan sahur dan meriuhkan malam lebaran sambil mengumandangkan takbir sambil berkeliling kampung. Kini hanya kerinduan yang harus dirasakan, karena tak dapat merayakkan tradisi-tradisi  seperti ini karena meluasnya pandemi virus Covid-19.

Silaturahmi di tengah pandemi

Setelah menjalankan sholat idulfitri, biasanya setelah itu pergi ke makam atau berziarah untuk mendo’akan kerabat, sanak saudara atau keluarga yang sudah tiada. Kemudian, setelah itu barulah bersilaturahmi bersama untuk berkunjung ke rumah orang tua, sanak saudara, kerabat dan tetangga. Saling bermaaf maafan dan bercengkrama dengan keluarga besar.

Setelah momen bermaaf maafan lanjut untuk menikmati makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, rending, dan aneka kue kering lainnya. Setelah itu waktunya, membagi-bagikan THR (tunjangan hari raya) atau tradisi salam tempel. Biasanya diberikan kepada anak-anak kecil saat bersalaman dengan orang tuanya atau sanak saudaranya.

Momen silaturahmi ini merupakan salah satu momen bersama keluarga besar berkumpul bersama, merasakan kegembiraan di hari lebaran. Momen melepas rindu kepada sanak saudara yang jarang bertemu, biasanya pada momen silaturahmi inilah kita mempererat tali persaudaraan antar umat muslim lainnya. Momen yang akan selalu dirindukan dan dinantikan oleh umat muslim.

Lebaran di tengah pandemi Era New Normal

Meskipun lebaran di tengah pandemi ini, kita harus tetap bersyukur karena masih di pertemukan oleh bulan suci yang penuh berkah. Walau ada yang berbeda, tetap harus merayakan lebaran ini seperti lebaran sebelumnya, merayakan kegembiraan dan merasakan sukacita yang terjadi pada tahun ini.

Tidak banyak tradisi-tradisi yang dilakukan selama pandemi ini, pemerintah juga tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Namun, pemerintah sudah menerbitkan Surat Edaran dalam Tatanan Normal Baru atau disebut dengan  New Normal.

Paska pemberlakuan PSBB dengan kondisi pandemi yang masih berlangsung, maka untuk  optimalkan roda perekonomian di Indonesia harus tetap jalan maka, masyarakat dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada masa situasi pandemi ini dengan New Normal.

Sudah hampir tiga bulan masyarakat menjalankan semua aktivitasnya di rumah saja, seperti bekerja, belajar, beribadah di rumah saja. Ketentuan pemerintah untuk menerapakan New Nornal ini masih dipertimbangkan, kemungkinan akan segera dilaksanakan dengan mengikuti beberapa aturan yang akan diberikan.

Tetap berdo’a dan selalu jaga kesehatan dimana pun kita berada. Memang tidak terlalu stabil lebaran di tengah pandemi ini memiliki banyak pertimbangan dan ketentuan. Semoga secepatnya bumi ini kembali normal seperti sebelumnya, agar kita dapat menjalankan segala aktivitas seperti biasa.