Penggila United
1 bulan lalu · 210 view · 3 min baca menit baca · Olahraga 45754_53239.jpg
dims.jpg

Merindukan MU yang Malang

Manchester United kini menjadi klub yang paling tersakiti atas pencapaian Liverpool menjuarai trofi Liga Champions musim ini. Betapa tidak, Liverpool berhasil merajai Eropa dengan raihan yang fantastik dan hampir menjuarai Liga Primer.

MU makin bersedih atas pencapaian sang tetangga Manchester City yang menjuarai seluruh trofi domestik yang diperebutkan. Tapi MU tak boleh terus bersembunyi di balik kesuksesan para rival mereka musim ini. 

Praktis, MU tak terlibat dalam satu pun perebutan trofi musim ini. Ini menjadi pukulan berat bagi seluruh Fans MU di dunia. Di saat semua Tim Rival masih berjuang hingga akhir musim, MU malah sibuk mempersiapkan laga memperingati 20 Tahun Kesusksesan MU di masa lalu.

MUyang Malang 

Menjalani musim ini dengan tidak baik, MU tertatih di awal musim bersama Mourinho yang akhirnya dipecat dan digantikan Ole Gunnar Solskjaer. Solskjaer diawal komandonya mampu menunjukkan asa kebangkitan MU hingga pernah singgah di posisi 4 liga Inggris walau cuma sebentar. 

Entah apa yang ada dalam benak Manajemen, MU tak berbuat banyak dalam menjalani musim ini. Hanya mendatangkan 3 pemain ke Old Trafford: Lee Grant, Diogo Dalot, dan Fred, yang seakan menegaskan komposisi MU sudah siap mengarungi musim. 

Tak ada gairah ingin kembali sukses seperti para legenda yang selalu diceritakan dan MU seakan tak bosan menceritakan itu. Hal itu bisa dilihat bagaimana MU mengadakan laga yang memainkan para legenda dalam laga bertajuk Kesuksesan MU Meraih Treble Winner 1999


Seluruh skuad MU saat itu dimainkan, termasuk pelatih MU saat ini, Ole Gunnar Solskjaer, dan pelatih tersukses MU Sir Alex Ferguson menjadi pelatih di laga itu.

Saya tak begitu tahu apa motif di balik laga itu. Jujur saja, saya tak menonton laga itu. 

Bukan saya tak menghormati para legenda MU yang mengukir sejarah sebagai tim pertama asal Inggris yang menjuarai Treble Winner, namun saya sudah bosan menggunakan alasan kejayaan masa lampau untuk bersembunyi atas pencapaian rival MU yang menunjukkan kemajuan yang pesat setiap musim. Bukan seperti MU yang seolah tak lagi berhasrat untuk juara. 

Di saat tim rival berusaha untuk maju, MU justru mundur dan mengingat-ingat sejarah masa lalu.

Kembali Belajar Menjadi Juara

MU terakhir menjuarai trofi Liga Inggris Musim 2012 - 2013. Ya, itu trofi ke-20 MU di liga kasta tertinggi di Inggris. Setelah itu, Sir Alex Ferguson pensiun dengan alasan kesehatan dan fokus pada keluarga, hal yang sebenarnya sulit diterima saat ini di mana Ferguson masih sehat dan selalu hadir di tribun penonton dan acara-acara penting MU. 

Jika Ferguson dijadikan sebagai alasan mendasar MU terpuruk saat ini, ya itu benar dan kita sepakat soal itu, tapi MU tak bisa terus seperti ini. MU harus memiliki hasrat untuk juara. Itu yang tak terlihat dalam skuad MU saat ini.

Hal yang berbeda dimiliki Liverpool meskipun mereka selalu gagal, tapi hasrat untuk juara dalam setiap musim tidak pernah pupus dalam benak mereka.

Saya masih ingat pidato terakhir Sir Alex di Old Trafford. Ferguson seolah mengisyaratkan bahwa dulu, sewaktu memulai awal di Manchester, seluruh fans, manajemen, dan pemain percaya kepada Ferguson. Hal itu juga yang dikatakan Ferguson bahwa MU harus percaya kepada pelatih baru yang kala itu David Moyes. Namun apa daya, modal percaya saja tak cukup mengembalikan kejayaan MU. 

Entah sudah berapa 'New Era' didengungkan oleh pihak klub, mulai dari David Moyes yang gagal total, Louis Van Gaal yang selalu bermasalah dengan media Inggris yang terus mencercanya, meski ia sanggup mempersembahkan trofi FA 2016 dan itu tak cukup memuaskan fans MU dan Van Gaal pun diputus kontrak. 

Jose Mourinho didatangkan untuk masa bakti 2016 - 2020. Mourinho mulai meracik skuad dan membeli Paul Pogba 105 juta Euro yang menjadikan dia menjadi pemain termahal dunia saat itu. 


Di awal kepemimpinan Jose, MU mampu meraih trofi Piala Inggris dan UEFA Europa League. Namun, di Musim ketiganya, 2018 - 2019, Mourinho akhirnya gagal dan tak menuntaskan musim dan dipecat Desember 2018 dan diisukan berselisih dengan Paul Pogba.

Merindukan MU

Musim telah berakhir, saatnya MU harus move on dan menatap musim depan. MU memiliki waktu yang sangat panjang untuk memperbaiki skuad dan lebih siap menyongsong musim baru. 

MU harus kembali ke jalur juara karena memang di situlah seharusnya MU berada. Solkjaer juga sudah mempersiapkan rencananya, namun rasa pesimistis masih ada dalam benak Solkjaer dan merasa MU sudah sangat jauh tertinggal dengan para rival, termasuk Tottenham Hotspur dan Arsenal.

Aneh rasanya ketika pihak klub sudah merasa kalah dulu sebelum melakukan perang. MU memang tertinggal jauh saat ini, namun akan makin jauh jika MU tak berbuat apa-apa. MU harus bergerak cepat dari sekarang, memikirkan cara untuk kembali menjadi penantang juara. Bukan hanya persoalan bisnis yang dikeluhkan seluruh fans MU.

Glory Glory Manchester United!

Artikel Terkait