Partai final Carabao Cup 2022 telah usai beberapa minggu yang lalu. Hasilnya The Reds Liverpool berhasil mengangkat trophy setelah melalui perjuangan 120 menit plus babak adu penalti. Sebenarnya tidak terlalu penting siapa yang jadi juara, toh baik Liverpool maupun Chelsea telah menampilkan permainan yang layak untuk sebuah partai final.

Terlepas dari hasil 11-10 dalam penalty shootout, kedua tim bermain dengan taktik pressing yang relatif sama. Tim dari Merseyside memang lebih dominan dengan 55% penguasaan bola, berbanding 45% milik Chelsea, namun tim London biru tampak lebih mengancam dalam hal counter attack, terbukti dengan 7 offside yang potensial membikin fans The Kop terkena heart attack.

Untungnya -atau sayang seribu sayang bagi fans The Blues- tahun ini sudah ada VAR. 5 dari 7 offside tersebut sangat potensial untuk menghasilkan angka. Termasuk 3 yang sudah berbuah gol namun kemudian dianulir, masing-masing dari Timo Werner, Romelu Lukaku dan Kai Havertz. Ya meskipun dari sisi Si Merah juga ada 1 gol Joel Matip yang dianulir.

Justru disinilah menariknya. Alih-alih permainan kedua tim, malah VAR yang lebih menarik perhatian saya. Saya jadi membayangkan, how if Filippo Inzaghi ikut bermain di partai final ini?

Filippo Inzaghi sang maestro fuorigioco

Fans bola kolot di Indonesia pasti sudah mafhum bagaimana sepak terjang Super Pippo. Meski demikian, di telinga bola mania milenialis nama attacante asal Italia tersebut bisa jadi masih asing. Mungkin mereka tahunya Pippo adalah pelatih yang pernah menukangi AC Milan dan Brescia.

Sebagai tambahan wawasan untuk fans bola anyaran, semasa masih berstatus pemain kakak Simone Inzaghi ini adalah striker jempolan. Total ada 288 gol pernah dia cetak dalam 608 pertandingan yang dia mainkan di semua kompetisi, baik untuk klub maupun Timnas Azzuri. 

Di level klub, gol-gol tersebut dia buat untuk 3 dari 7 klub magnificent seven di Italia: Parma, Juventus dan AC Milan. Maaf, Atalanta di tahun 90an belum termasuk il sette magnifico.

Meskipun tak sebanyak Ronaldo ori, catatan gol tersebut cukup istimewa untuk ukuran sepakbola Italia yang dipenuhi bek-bek terbaik dunia. Akan terasa lebih istimewa jika menilik proses terjadinya gol-gol tersebut. Hampir separuh dari 288 gol tersebut dicetak di area abu-abu, wilayah perbatasan antara onside dan off side.

Keseruan gol berbau offside sebelum ada VAR

Saya tidak bermaksud mengeluhkan penggunaan teknologi VAR. Sama sekali tidak. Bagi saya VAR adalah keniscayaan dalam sepakbola modern. Teknologi ini merupakan bentuk kemajuan untuk meminimalisir kesalahan wasit. Saya cuma ingin bernostalgia tentang keseruan sepakbola sebelum adanya VAR.

Penggila bola generasi 90an seangkatan saya pasti akrab dengan hal-hal kontroversial berkaitan dengan posisi offside. Moment-moment mengakali fuorigioco setipis rambut seperti yang kerap dilakukan Inzaghi justru menjadi bumbu penyedap dalam menonton pertandingan. Meskipun akan sangat menyebalkan jika tim yang kita dukung kalah oleh gol ala Pippo tersebut. Untungnya saya adalah Milanisti, jadi lebih sering terhibur oleh gol-gol Inzaghi ketika berseragam Rossoneri.

Inzaghi memang identik dengan garis offside. Dia bisa saja seperti tidak terlibat dalam permainan selama 80 menit, namun namanya tiba-tiba muncul di papan skor di 10 menit terakhir. Dan tentu saja dengan gol yang beraroma offside. Suatu hal yang menjengkelkan bagi lawan.

Masih terbayang jelas dalam ingatan saya ketika kiper sekelas Oliver Kahn pernah dibuat keki setengah mati oleh Super Pippo. Menurut pandangan si kiper Munchen, dalam partai 16 besar UCL tahun 2006 tersebut Pippo terlihat hanya ‘berlari-lari gak jelas’ sepanjang pertandingan. Namun dia berhasil menjebloskan 2 biji gol ke gawang Kahn yang ketika itu sedang bagus-bagusnya. Coba saja sobat milenialis googling wajah Oliver kahn, dan bayangkan wajah tersebut sedang sebal.

Ada lagi manajer sekaliber Sir Alex Ferguson yang jengkel bukan kepalang kepada striker Milan ini. Saking jengkelnya, dia sampe mengucapkan "That lad (Filippo Inzaghi) must have been born offside" pasca kekalahan The Red Devils dari il Diavolo Rosso. Dan quote tersebut mengabadi dalam biografi sang manajer. Benar-benar keren nih si Inzaghi.  

Dari sudut pandang wasit pemain semacam Pippo ini juga menjengkelkan. Butuh usaha ekstra keras dan istiqomah sepanjang 90 menit untuk mengawasinya. Bagaimana tidak? Reputasi sang pengadil bisa menjadi taruhan kalau sampai silap mengesahkan gol offside. Wasit-wasit terbaik semacam Pierluigi Collina, Markus Merk hingga Kim Milton Nielsen pernah mengalaminya.

Bagi saya hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan semua hal tersebut: seru. Dan saya merasa sangat beruntung pernah merasakannya.

Masih adakah pemain bertipe Inzaghi di era VAR?

Walau dengan reputasi menterengnya sebagai pencetak gol di area fuorigioco, saya kok ragu Super Pippo bisa berbuat banyak di partai final Carabao Cup 2022 tadi. Lha wong Lukaku yang offside tangannya saja sudah di prit wasit kok. Begitu juga dengan Van Dijk yang sebenarnya tidak aktif berebut bola tetap dihitung offside sehingga gol Matip dianulir. Bagi saya ini mengurangi derajat keseruan sepakbola, setidaknya jika dibandingkan dengan pertandingan di tahun 90an seperti yang saya ceritakan tadi.

Dengan penggunaan VAR akan ada banyak mata yang mengawasi pergerakan pemain bertipe seperti Inzaghi, hingga kecil kemungkinan wasit lapangan bisa tertipu. Keputusan (salah) yang diambil wasit lapangan juga bisa dianulir beberapa detik setelahnya.  Ini adalah hal positif yang perlu diapresiasi dari penggunaan VAR. namun di sisi lain, pemain dengan typical Pippo Inzaghi semakin minim. Dan peluang untuk menikmati keseruan ‘drama’ dalam sepakbola menjadi berkurang.