Dua hari yang lalu, masyarakat dari berbagai belahan dunia baru saja bersukacita sebab masih diberi kesempatan untuk memperingati Hari Bumi – jika tak ingin disebut sebagai peringatan dari bumi. Dengan beragam alasan, situasi, dan kondisi bumi di masa lampau, 22 April dinobatkan sebagai hari penting bagi umat manusia sekaligus masa depannya.

Peringatan Hari Bumi yang telah dimulai sejak 1970 silam merupakan suatu upaya membangkitkan kesadaran setiap manusia untuk selalu menjaga dan merawat bumi; planet yang telah berumur miliaran tahun dan sekarang dihuni 7 miliar lebih jiwa.

Ada begitu banyak tema yang diangkat dalam menyambut Hari Bumi di tiap tahunnya. Jika 2018 lalu dunia mengangkat tema “End Plastic Pollution”, tahun ini, Hari Bumi disambut dengan mengusung tema “Protect Our Species”. Kedua tema tersebut masih memiliki pertalian satu sama lain.

Pada dasarnya, isu lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah kita. Tak ayal, lingkungan acap kali mendapat perhatian dari berbagai kalangan untuk sebatas dikampanyekan. 

Baca Juga: Monster Plastik

Antusiasme masyarakat mewujud dengan beraragam bentuk. Seruan dan slogan bertebaran di mana-mana, mulai dari jalan raya hingga dunia maya dibuat sesak karenanya.

Akan tiba, bahkan mungkin telah tiba masanya, sekadar melihat bumi dari ruang angkasa lebih indah ketimbang harus menapaki jalanan di dalamnya. Benar bahwa perubahan kondisi bumi dari waktu ke waktu adalah keniscayaan. Akan tetapi, membiarkannya berjalan menuju ambang kehancuran adalah kekeliruan.

Pertumbuhan sampah plastik, misalnya, dipercaya sebagai salah satu dalang di balik kondisi bumi yang memprihatinkan. Produksi plastik yang dimulai sejak era 50-an itu kini telah membentuk “The Great Pacific Garbage Patch”, dengan luas lebih dari 960 ribu kilometer persegi (Voa Indonesia). Silakan tambahkan kondisi serupa di tempat lainnya.

Sepanjang tahun 2015 saja, jumlah sampah yang berasal dari produksi plastik telah menyentuh angka 146 juta ton setiap tahunnya. Sektor plastik kukuh di posisi pertama sebagai penghasil sampah terbanyak di dunia (Kompas). Nahas, menurut data Jambeck, di lautan dunia, Indonesia justru ikut menyumbangkan sampah plastik hingga 187 juta ton banyaknya.

Lebih lanjut, keberadaan 65 juta ton sampah Indonesia setiap harinya justru tidak dibarengi dengan kualitas pengelolaan yang baik. Negara +62 ini betah bertengger di posisi kedua sebagai negara yang berisiko dan bermasalah dengan pengolahan sampah. Jelas saja ketika manusia, lingkungan, hingga satwa akan terkena imbasnya.

Saya tak ingin terlibat lebih jauh untuk menghitung tingkat “kemalasan” masyarakat kita. Jelasnya, sampah tidak akan menjadi “masalah serius” bagi lingkungan jika wujudnya dapat terurai dengan mudah. Kertas adalah jawaban atas soal durasi waktu (500 - 1000 tahun) yang dibutuhkan plastik untuk melebur.

Di sektor ekonomi, Industri Pulp dan Kertas tanah air saat ini tengah berada pada posisi yang strategis. Keberhasilannya memproduksi 16 juta ton kertas dan 11 juta ton pulp setiap tahunnya menjadikan Indonesia menempati jajaran 10 besar produsen kertas terbesar dunia.

Rantai produksi kertas akan menyentuh banyak pihak, bahkan setelah ia menjadi barang bekas sekalipun. Dikatakan, sampah kertas nasional saat ini telah menyentuh angka lebih dari 6 juta ton setiap harinya (Detik).

Hanya butuh sedikit sentuhan tangan orang kreatif saja agar kertas dapat menggantikan peranan plastik. Tentunya itu peluang besar yang tidak hanya sekadar ungkapan.

Sistem pengolahan limbah kertas nasional yang baik akan mampu menciptakan circular economy bagi banyak pihak, pengusaha, masyarakat, bahkan pemulung sekalipun. Negara kita bisa menjadikan Jerman, Jepang, atau Korea Selatan sebagai rujukannya.

Dalam dunia wirausaha, masyarakat kita dapat menggali informasi lebih jauh terkait pengelolaan sampah sebagaimana dilakukan Rubicon Global yang didirikan Nate Morris dan Leonardo DI Caprio sebagai direkturnya atau Progressive Waste Management yang didirikan di Toronto, Kanada. Masih banyak lagi wirausaha yang serupa.

Ke depan, mekanisme ini juga diharapkan dapat menekan citra negatif yang dituduhkan kepada pelaku industri kertas dan pulp selama ini. Industri (menanam untuk memanen) ini tidak lagi dijadikan kambing hitam atas kerusakan lingkungan seperti hutan.

Menumbuhkan perilaku tersebut tentu bukan tugas yang mudah, apalagi murah. Tak jarang, alih-alih berkreasi untuk menciptakan produk pengganti plastik, yang ada kita justru disibukkan dengan perdebatan yang berkepanjangan. Terciptanya kekuatan kolektif nasional untuk bersama-sama memerangi plastik hanya masih sebatas angan.

Terlalu berlebihan tentunya jika mengatakan produksi plastik harus dihentikan. Pun demikian, terlalu naif pula bila menganggap peran plastik tidak tergantikan. Dalam hal keperluan sekali pakai, misalnya, kertas memberikan cukup bukti yang menjanjikan.

Sudah sepatutnya Hari Bumi menjadi momen yang tepat untuk mengetengahkan isu lingkungan. Plastik sebagai perusak lingkungan adalah argumen yang tak terbantahkan, dan kertas sebagai sebuah harapan adalah pendapat yang tak boleh dilewatkan.

Terakhir, jika di anatara kita mendebat tulisan ini hanya menggunakan perspektif ekonomi, kemudian menafikan penggunaan kertas karena biaya produksi relatif gede, sejujurnya saya ingin mengatakan, “Menjaga dan merawat bumi memang memerlukan biaya mahal, tidak demikian dengan sebaliknya.”