Dalam situasi sekarang, pandemi Covid-19, banyak yang telah membayangkan bagaimana dunia setelah wabah ini. Maksud dari ‘membayangkan’ bukan sekadar duduk di depan rumah, kaki kiri diangkat di atas kursi, dan mengkhayalkan ujung dari kesulitan ini. Bukan, tapi sudah dalam bentuk gagasan sistematis. Bertolak dari situasi yang sedang berjalan serta kemungkinan-kemungkinan matematis dan filosofis kehidupan yang akan datang.

Dalam proses ‘membayangkan’ dunia setelah situasi sulit ini, sosok manusia tidak perlu diperjelas: dia yang menang dari pertarungan dengan wabah. Manusia dengan sendirinya sudah ada di dalam bayangan itu. Maksudnya, tidak mungkin dalam bayangan itu tidak ada manusia di ujung akhir dari wabah ini. Manusia sudah diandaikan menang dalam pertarungan dengan wabah.

Oke, kita semua harus optimis. Kita sebagai pemenangnya. Harus angkuh biar spesies kita sebagai manusia akan tetap bertahan sampai batas waktu yang tidak mungkin ditentukan.

Tapi begini, kalau manusia dipostulatkan ada di ujung dari pertarungan ini, sebagai pemenang, terlebih dahulu mestinya kita menentukan atau membuat satu rumusan ‘apa-apa saja syarat yang harus terpenuhi agar manusia itu tetap hidup’ – dalam situasi setelah wabah manusia yang di maksud adalah manusia yang masih hidup; dia yang berpikir dan berekspresi, bukan bangkai.

Untuk tetap hidup dia harus sehat, tidak mengandung penyakit, termasuk corona. Untuk sehat, dia harus makan. Diharuskan makan makanan yang punya gizi tinggi, tidak asal kenyang.

Harari, dalam Homo Deus, membicarakan soal ‘krisis pangan’ yang kita hadapi sekarang. Makanan yang kita konsumsi tidaklah mementingkan gizi dari makanan itu, “kini lebih banyak orang yang mati akibat terlalu banyak makan ketimbang orang yang kurang makan.” Jadi bisa disimpulkan: makan adalah komponen agar manusia tetap hidup.

Eh, tapi kan, makanan tidak datang dengan sendirinya, langsung tersaji di meja makan. Sultan sekalipun. Harus ada upaya untuk bisa memperoleh makanan. Yaitu: harus kerja; suatu upaya untuk memperoleh makanan.

Ada dua hal untuk bisa memperoleh makanan. Pertama, dengan bekerja; pencurahan tenaga kerja langsung, melalui upaya memaksimalkan tenaga kerja. Bekerja sebagai buruh kasar, nelayan, tukang parkir, atau “jualan lidah”. Semua itu upaya untuk memperoleh makan (dengan pengandaian uang yang didapat untuk subsistensi).

Kedua, dengan bantuan orang lain; saat kita tidak bisa bekerja, belum mendapat pekerjaan, atau dalam situasi-situasi tertentu, seperti sekarang. Misalnya bantuan pemerintah, organisasi, atau orang yang punya kelebihan rezeki.

Jadi bisa disimpulkan, kita tetap bisa makan. Meskipun persoalan utamanya seberapa jauh bisa survive saat berada dalam dua kategori di atas; yang ‘pertama’ yang bisa bertahan lama atau yang ‘kedua’.

Katakanlah kita masuk dalam kategori ‘kedua’ karena wabah ini. Tapi sampai kapan? Sementara kita hanya bisa membayangkan wabah ini akan berakhir tapi tidak bisa memastikan kapan akan berakhir. Terus, jika ditarik lagi pada kategori ‘kedua’, untuk memberikan sumbangan, katakanlah oleh pemerintah, ada juga kerja yang dicurahkan di situ: pajak dari rakyat yang bekerja.

Kesimpulannya: kerja, makan, dan kesehatan sebagai syarat (hierarki) yang harus terpenuhi untuk setiap orang bisa sampai menang melawan wabah ini. Itu yang harus dibayangkan. Bukan sekadar bagaimana membayangkan dunia setelah corona, tapi membayangkan bagaimana manusia bisa bertahan di situasi sekarang, situasi yang serba tidak-pasti.

Kita berada dalam situasi demikian; yang membuat hari-hari kita terus diselimuti kegalauan. Jika bekerja takut tertular – bekerja pun penghasilan kian menurun. Jika tidak bekerja simpanan uang tidak ada. Pemberi bantuan pasti hanya memberikan seadanya, tidak untuk konsumsi jangka panjang.

Yang terjadi tiap hari malah konsumsi harapan yang berlebihan. Atau terus membohongi diri kita seolah-olah akan melewati fase genting ini. Kegalauan ini bukan sekadar kegalauan tingkat ABG. Kegalauan ini persoalan hidup dan mati. Sementara hari-hari kita menerima informasi korban berjatuhan, wabah yang terus memperbanyak diri di tubuh manusia, ekonomi yang kian jatuh, kerja yang terus dibatasi. Terus bagaimana kita tidak akan panik?

Kita telah jatuh pada kekhawatiran yang tak pernah terduga sebelumnya. Bahkan tidak percaya bahwa situasi ini telah terjadi. Kita khawatir karena jangan-jangan sudah tertular; khawatir juga karena pekerjaan yang digeluti telah rentan akibat harus menjaga jarak dan tidak keluar rumah. Bos proyek, pembeli, toko, tempat parkir kosong, hampir semua kerja akan gigit jari.

Pada awalnya orang dengan rutinitas kerja yang padat, tanpa waktu bersama keluarga, dengan penuh syukur memanfaatkan situasi ini untuk kembali lebih dekat dengan keluarga. Tapi, itu hanyalah satu jenis kekecewaan terhadap rutinitas kerja repetitif. Kerja tetaplah hal yang harus terus dilakukan. Makin ke sini orang menyimpulkan bahwa kerja memang suatu kemestian. Dan kerja tentunya melibatkan hubungan sosial.

Situasi terus berubah. Karena kerja begitu vital, kini kemungkinan-kemungkinan terus diupayakan, termasuk aktivitas ekonomi dibuka dengan batas-batas tertentu. Kerja memang punya resiko. Dalam sejarah masyarakat manusia kerja yang dilakukan selalu di dalam itu sebuah resiko.

Untuk waktu-waktu yang luang, karena kerja-kerja yang dibatasi, adalah merenungi kenyataan. Anda punya banyak waktu untuk merenunginya. Merenungkan mesti seperti apa jalannya suatu kehidupan. Apa saja komponen yang penting dalam kehidupan, yang harus dipenuhi dan dilakukan.

Adakah yang salah dengan realitas sehingga kita terus dibuat pasrah olehnya? Kiranya menjadi penting untuk merenunginya.