Sebuah video pendek dari tik tok yang disebarluaskan di group whatsaspp hari ini mengelitik saya. Orang di video tersebut meskipun saya tidak kenal dan tidak tahu latar belakangnya mengatakan bahwasanya kita harus tetap bersyukur di era pandemi yang sudah mulai memasuki tahun kedua.

Bersyukur sebab pandeminya terjadi di tahun 2020-2021 karena coba kalau terjadi di tahun 1990 misalnya, bisa dibayangkan seperti apa susahnya secara internet belum secanggih sekarang. Infrastruktur jaringan mungkin juga tidak sebaik saat ini. Ditambah yang paling penting, E-commerce model Tokopedia, shoppee termasuk Gojek dan Grab belum ada. Nah kebayangkan sulitnya buat kita semua?

Banyak sebetulnya tulisan yang telah menyentil issue mengenai pekerjaan yang akan menghilang nantinya. Tidak ada salahnya saya ulang sekilas, contoh Profesi supir Gojek adalah profesi yang sepuluh tahun lalu tidak ada dan kini menjadi begitu penting bagi kehidupan kita tanpa terasa. Seiring waktu seperti profesi ini, bila ada yang muncul tentunya ada juga profesi lain yang hilang.

Buat saya dan mungkin sebagian orang tua yang memiliki anak di sekolah jenjang menengah, sekarang adalah saatnya galau dan bingung. Mau sekolah ambil jurusan apa supaya yakin bahwa masa depannya terjamin.

Terlepas dari minat yang ada pada dirinya ingin mengikuti jejak ibunya kuliah di FISIP, kok ya tetap harus make sure gitu loh bahwa jurusan yang dipilih adalah yang terbaik untuk masa depannya. Tipikal kekhawatiran ibu-ibu pada umumnya. Padahal kalau dipikir-pikir mungkin tidak ada hubungannya.

Saya yang sedang galau, merasa harus berperan aktif dalam menentukan karir masa depan anak menjadi  berpikir, kiranya apa profesi yang akan berkembang nantinya lima sampai dengan sepuluh tahun mendatang.

Saya ambil contoh profesi dokter. Seiring dengan PSBB kemudian berganti menjadi PPKM yang sekarang diperpanjang masa berlakunya plus kesadaran akan masyarakat untuk sebisa mungkin tinggal di rumah, mulai gencar muncul iklan mengenai konsultasi kesehatan secara online. Macam-macam appsnya bahkan ada yang namanya sangat mirip, sehingga kalau tidak jeli kita bisa salah memilih.

Caranya sangat mudah, saya kira memang itu tujuan dari pengembangan satu apps, kita hanya perlu masuk ke apps pilihan tersebut, kemudian memilih dokter yang sesuai dengan kriteria. Bisa pililh dari profile picture sekiranya meyakinkan atau tidak sebagai dokter, dari usia pengalaman sampai dengan tingkat keahlian yang dimiliki. Bahkan tarif per konsultasi juga begitu transparan.

Artinya, semua menjadi persaingan yang sangat terbuka, tidak ada informasi yang ditutupi dan konsumen menjadi penentu utama. Apalagi ada kolom jumlah review bagi setiap dokter yang akan ikut mempengaruhi pengambilan keputusan bagi pasien.

Kalau begitu bisa tidak ya suatu saat profesi dokter umum, sekali lagi umum ya, juga menghilang digantikan oleh apps atau robot otomatis yang membantu kita menelaah symptom yang ada, plus mencocokkan photo bila memang menyerang permukaan tubuh atau kulit.

Kemudian secara historical berdasarkan symptom atau gejala, si robot atau apapun itu namanya mencarikan obat yang tepat untuk diresepkan ke pasien? Mungkin saja toh? Bila bank data yang dimiliki sudah begitu banyak dan cukup menciptakan satu algoritma untuk menyarankan keputusan yang dianggap terbaik.

Mengerikan? Harusnya tidak. Perkembangan teknologi akan semakin baik, pastinya tingkat error yang terjadi juga bisa diprediksikan dengan lebih kecil.

Kaitannya ke depan, dengan percepatan teknologi dan tingkat persaingan yang semakin tinggi, setiap pemilik profesi harus memiliki nilai lebih yang unik guna bertahan. Nah, bagaimana dengan menyiapkan anak kita dalam dunia pendidikan?

Ditilik dari jaman saya sekolah, mulai dari SMA kita sudah diminta untuk memilih masuk kelas IPA atau IPS atau bahkan Bahasa. Pemikiran pada saat itu mungkin baik karena mempersiapkan siswa dari usia dini akan jurusan atau profesi yang akan mereka geluti nantinya.

Tetapi sayangnya, pengetahuan anak akan profesi masa depan juga seringkali tidak memadai belum lagi ditambah usia pencarian jati diri yang kadang menghadapkan anak mengikuti arus atau keinginan orang tua saja.

Sering kita lihat di masyarakat jurusan di sekolah berbeda dengan bidang yang digeluti. Salah satunya sepupu suami saya, sekolah kedokteran tapi akhirnya menjadi pengusaha mainan anak. Atau rekan kerja saya yang kuliah di jurusan hukum dan kini memilih bekerja sebagai sales alat tulis.

Bagaimana juga bila satu profesi tidak hanya terkait pada bidang ilmu tertentu saja, tapi juga pada ilmu lain yang bisa memperkaya jangkauan wawasan otak dalam bekerja.

Contoh, pada seorang dokter juga bisa belajar mengenai antropologi atau sosiologi guna memahami budaya makan sejumlah warga di wilayah tertentu misalnya yang bisa berakibat pada kesehatan seseorang atau masyarakat tersebut.

Sehingga profesi menjadi lebih kaya karena sudut pandang ilmu berbeda juga ikut ditanamkan, artinya pula kita tidak terkotak kotak untuk belajar hanya satu ilmu, tapi ilmu apapun bisa selagi otak kita mampu.

Dengan demikian, anak juga tidak dibatasi untuk mengeksplorasi ilmu yang ingin mereka pelajari dengan meminta mereka memilih jurusan sejak sekolah menengah.

Biarkan mereka bebas belajar semua ilmu, karena pada dasarnya ilmu akan membantu memberikan kerangka berpikir yang lebih baik. Terlepas dari ilmu apapun itu. Asal jangan ilmu hitam.

Di  perguruan tinggi, kekhususan akan minta profesi ok saja, tapi dibebaskan juga untuk menyebrang ke fakultas lain misalnya. Contoh belajar hukum untuk jadi pengacara tapi bisa juga ke fakultas sastra untuk belajar bahasa Belanda, atau ke fakultas informatika dan teknologi demi memahami suatu program komputer bekerja.

Atau bisa jadi istilah fakultas sudah tidak ada lagi ke depannya, hanya ilmu atau minat. Ilmu kedokteran umum, minat budaya dan bahasa Jepang, dan sebagainya.

Anak dibiarkan bebas menggeluti keingintahuan mereka terhadap bidang apapun tanpa perlu ada pagar  yang membatasi.

Mungkin di atas hanya sebatas angan, tapi siapa tahu suatu saat bisa menjadi nyata. Kesimpulannya apakah sudah tahu jurusan apa yang harus dipilih pada saat anak masuk universitas? Nah pertanyaan bagus, masih saya pikirkan ya. Kalau sudah ketemu nanti saya beritahu.