Bulan yang saya tunggu-tunggu sekaligus bulan yang membuat perasaan galau, melow tepatnya Juli tahun 2021, dimana saya harus melepaskan anak gadis sulung ku untuk mondok ke Pondok Pesantren (Ponpes) yang berada di kota kami.

Orang tua mana  yang benar-benar siap untuk hidup berjauhan dengan anaknya, walaupun sang anak tersebut hendak dalam upaya mencari ilmu agama di Ponpes. Maka, ada hal – hal yang perlu orang tua ingat untuk menguatkan diri agar ridho dengan penuh keihklasan untuk melepas sang buah hati untuk belajar di pesantren, salah satunya untuk mempertahankan akidah anakku. “anak zaman now” yang sangat sulit untuk mengendalikan sehingga sebagai orang tua harus lebih kuat untuk melepasnya.

Rasanya saya tidak tega melepaskannya walau itu hanya sementara untuk menuntut ilmu. Perasaan tidak tega ini sangat membuat saya kurang bersemangat, gadis sulung ku yang selalu menemani hari-hariku selama 12 tahun. Sekarang dia harus pergi untuk meraih sebuah cita-citanya melanjutkan pendidikan nya kejenjang sekolah lanjutan pertama di Ponpes.

Dari awal saya sudah mengarahkan putriku untuk menempuh pendidikan di Ponpes, walau si anak kurang senang, ini karena si anak tidak mau jauh dari kami. Dia sering menyangkal saat aku bercerita soal alumni – alumni Ponpes. Kami terus mensuport dengan cerita seputaran santri – santri yang memiliki kemampuan khusus seperti hafal Al – Quran, pidato dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab yang tidak ada di sekolah – sekolah umum lainnya.

Kami akan merasa kesepian saat gadisku mondok karena akan hilang kebiasaan gadisku, bercerita manja walau kadang-kadang dia mengoceh asal-asalan. Sifatnya yang kadang bad mood dalam mengerjakan pekerjaan rumah maupun tugas sekolahnya juga sering membuat saya mengomel padanya, walau dengan kelihatan berat dia akan menyelesaikan tugasnya.

Adaptasi si anak terhadap makan di Ponpes juga membuat ke khawatiran bagi orang tua. Makanan yang serba sederhana untuk mendidik mereka hidup sederhana juga, sedang di rumah sebagian anak-anak yang suka makan, ngemil serta jajan berat. Jajanan favoritnya itu seperti KFC, Pizza Hutz dan Donat Jco yang jelas jelas diponpes tidak ada jika mau dimakan kapan saja dia inginkan.

Menjalani hari-hari tanpa putri sulungku benar-benar sesuatu hal yang berat, merelakan anak untuk menempuh pendidikan boarding. Semoga langkah yang kami tempuh merupakan yang terbaik buat putri kami. Di zaman teknologi sekarang ini setiap orang tua pasti memiliki cara cara sendiri untuk mendidik.

Pengaruh teknologi bisa membawa anak ke hal- hal negatif seperti penggunaan android, Wi-Fi, televisi bisa membuat anak menjadi lalai, maka kami bertekad memilih Ponpes sebagai sekolah lanjutan dengan pendidikan agama yang lebih diterapkan baik dari segi ilmu dan kedisiplinan.


Sebagai orang tua memiliki kesibukan dari pagi sampai sore sebagai Aparatur Pemerintahan dan saya merasa takut akan kurangnya waktu dalam pengawasan putri kesayangan kami. Semoga kelak putri ku akan menjadi anak Soleha dan mendapat jati dirinya sebagai seorang perempuan yang bertaqwa.

Saya termasuk seorang ibu yang baru pertama kalinya mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan di Pondok Pesantren (Ponpes), perasaan berat karena anak Gadis tercinta akan meninggalkan kami mondok walau terhitung dalam jarak dekat dalam satu kota. Oleh sebab itu, tak heran jika ada perasaan galau, kehilangan, Kesepian bagi orang tua ditambah lagi pandemi covid yang membuat waktu kunjung dibatasi oleh pihak Ponpes.

Sesederhana apapun perpisahan pasti menyedihkan. Entah itu berpisah sementara atau selamanya. Dengan menulis ini, saya berharap, sesak yang saya rasakan karena harus melepaskan putri sulung saya menempuh sekolah tingkat pertama disebuah ponpes bisa sedikit mereda.

Gadisku ini tergolong penyayang, apalagi dengan adik-adiknya. Dia begitu telaten dalam mengurus adiknya yang paling kecil saat baby sister sakit dan tidak bekerja lagi, aku merasa lega gadisku bisa menjaga adiknya disaat aku ke kantor sedang gadisku belajar daring di rumah. Kebersamaan kami hanya meninggalkan kenangan yang tidak akan terlupakan. Dia juga selalu menciumi ku disaat aku mau berangkat kerja, disaat dia mau sekolah dan mau tidur. Dalam keluarga dia dipanggil dengan sebutan Kaka mungkin karena dia anak pertama kami.

Aku sangat terbantu dihari – hari kami di rumah. Rumah akan sepi karena celotehnya, manjanya, ngambek nya uda tidak terdengar begitu juga kebersamaan kami belanja bersama, mengerjakan pekerjaan rumah sama-sama hingga keluar cari makan bareng hanya jadi memori yang indah antara aku dan gadis Sulung ku yang manis.

Banyak  sekolah favorit diluar sana yang menjadi pilihan setiap orang tua. Tapi ponpes adalah pilihan kami, zaman ini lebih baik memilih kokohnya pondasi agama. Hal ini disebabkan kekhawatiran orang tua dalam salah pemanfaatan kemajuan teknologi. Semoga kesedihan yang saya rasakan sekarang insyaallah akan membuahkan keceriaan dimasa yang akan datang. Aamiin…

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”

Selamat berjuang putriku Semoga kamu menjadi santri yang bisa membanggakan orang tua mu dan bisa kerasan dan semangat terus di Ponpes nanti. Harapan kami sebagai orang tua kamu akan memiliki akhlak yang mulia dan menjadi contoh buat adik – adik dan orang – orang sekitar mu. Kami pasti akan selalu merindukan mu gadis sulung ku.


Semoga Allah menjadikan putriku sebagai generasi muslim yang berilmu dan mampu beramal dengan ilmunya serta mendakwahkannya, dan semoga Allah menjaga hatinya agar tetap berada dalam fitrah dan keikhlasan hingga senantiasa memurnikan niat di setiap aktifitasnya hanya untuk mengharapkan ridho Allah. Aamiin ya rabbal a’lamin.