“Sekalipun sastra ditepikan, disepikan, disunyikan, dalam kesepiannya pun akhirnya terdengar bunyinya, suaranya, teriakannya, bahkan dari dalam tempat paling dekat dengan dirinya—kekuasaan yang digugat oleh bangsa penguasa. Di situlah sastra sebagai pengetahuan bersumber satu-satunya dari pengalaman batin manusia.” Pidato S. Jai saat menerima Anugerah Sotasoma Balai Bahasa Jawa Timur Tahun 2019.

Kehidupan memang dikelilingi mitos-mitos. Untuk memahami dan melogikakan suatu fenomena, manusia butuh mitos yang dekat dengan jalan pikirannya. Kisah-kisah kejadian atau peristiwa memunculkan figur tokoh mitologis sebagai kaca benggala manusia untuk berlaku dan bersikap. Kisah-kisah lampau itu menjadi mitos dan itulah mimesis awal terhadap pengetahuan.

Di era milenial ini, S. Jai mengajak kita melampaui keberadaan mitos-mitos tersebut alias mendobraknya dengan senjata pengolahan rasa dan karsa yang baru dan menghasilkan daya cipta yang mendobrak dan kontekstual.

Saat keberadaan mitos-mitos menjadi begitu kuat mengakar, S. Jai, dalam bukunya Post MItos yang memenangi Anugerah Sotasoma 2019 ini, mengajak manusia untuk berani mengeksplorasi kembali pemahaman atas tafsiran mitos-mitos yang berkembang.

Tafsiran baru yang dikehendaki Jai tidak sekadar untuk mengekor, tetapi lebih pada bagaimana kita memperkaya pengembaraan batin atas pemahaman mitos-mitos tersebut memancing karya-karya baru yang segar dan mampu diterima oleh zaman. Dan Jai hendak mengingatkan bahwa yang seperti ini pernah dilakukan Mpu Sedah dan Panuluh.

Dua Mpu Sastra, Mpu Sedah dan Panuluh, menulis kitab Bharatayudha yang bertujuan untuk melampaui mitos-mitos yang ada tentang kebesaran raja Jenggala dan Kediri (hlm. 6).

Post Mitos, buku yang memenangkan penghargaan Sotasoma untuk kategori kritik sastra, memuat tujuh bagian yang berisi esai-esai seputar sastra dan budaya. Ketujuh bagian itu meliputi: Bagian satu, Gerbang, yang mengulas tafsiran atas pemikiran dan pengungkapan batin dari tokoh-tokoh sastra terhadap mitos-mitos lama yang berkembang di masyarakat.

Bagian kedua, Pertunjukan, yang mengulas tentang gelaran seni pertunjukan (teater) yang mampu menggali tema karyanya dengan merekonstruksi mitos-mitos yang ada.

Dari beberapa pengamatannya terhadap pertunjukan teater, Jai menemukan adanya pembaruan spirit tradisi teater dengan mendekatkan diri pada peristiwa-peristiwa sehari-hari melalui naskah yang tertulis bukan lagi improvisasi atas tradisi lisan dari mitologi, epos, dan sebagainya (hlm. 92).

Jai termasuk jeli dalam mengulas teater karena, sebagai pemain dan sutradara teater, ia pun pernah membuat heboh saat mementaskan Racun Tembakau adaptasi dari On The Harmful Effect of Tobacco. Drama yang dipentaskan di tengah isu regulasi tembakau ini berhasil menyita perhatian publik.

Bagian ketiga, Film, diawali dengan ulasan film dokumenter Act of Killing (Jagal) karya Joshua Oppenheimer yang penuh kontroversi itu. Bagi Jai, film ini sangatlah teatrikal dan mampu mendobrak mitos yang ada dari kisah yang menjadi catatan kelam negeri ini; G30S PKI. Ada sudut pandang menarik karena film ini mengisahan sisi psikologis sang algojo sebagai manusia.

Bagian keempat, Sastra. Dalam bab ini, banyak dikupas seluk-beluk sastra, baik tema, fenomena kepengarangan, dan konstruksi karyanya. Sebagai sarjana sastra dan juga penulis sastra, tentunya kelihaian Jai di sini tak bisa dikesampingkan begitu saja. Ulasan yang ditampilkan tak hambar karena Jai mampu berjalan di dua genre ulasan, yaitu prosa dan puisi meski ada sedikit gagap saat ia harus mengulas karya puisi.

Bagian kelima, Kritik dan Timbangan Buku. Di sini, berbagai ulasan buku, terutama buku sastra yang ia hadiri peluncurannya, banyak mewarnai. Meski hanya timbangan buku karena Jai mengulasnya sebagai sarjana sastra yang juga sastrawan, banyak khasanah yang bisa diambil dari ulasannya. Terutama daya telisiknya terhadap struktur bangunan karya sastra, baik itu puisi maupun prosa.

Bagian keenam, Budaya. Dalam tataran ini, esai-esai yang disuguhkan oleh Jai menemukan sentuhan manusiawinya sebagai pengamat sejara, sosial, dan budaya. Bagaimana pengamatannya terhadap kesenian tradisi sebagai bahan tambang harta karun kebudayaan modern di negeri ini tak luput ia kaji.

Sebagaimana kredonya untuk membuka tabir mitos yang selama ini merantai batin kreativitas. Ia banyak mengulas perkembangan fenomena budaya yang berakar tradisi, namun telah terbebas dari kungkungan mitologi. Ia pun menanyakan keabsahan mitos-mitos yang ada karena sebenarnya mitos itu dibangun untuk kepentingan tertentu dan tidak independen.

Bagian ketujuh, gagasan, seolah menjadi kesimpulan dari buku ini meski bukan itu yang dimaksudkan oleh S. Jai dalam esai-esainya pada bab terakhir bukunya ini. Mendobrak kemapanan sebuah mitos adalah gagasan utama. Menggali spirit, menafsirkan kembali adalah juga kegiatan bercerita yang pada akhirnya harus menyentuh sisi kemanusiaan dan pengalaman batin yang mencerahkan adalah saran untuk membongkar mitos yang ada (hlm. 425).

Meski mitos adalah nenek moyang segala ilmu, namun tanpa adanya keberanian untuk menafsirkan kembali kepercayaan yang ada, kita akan menjadi gagap dalam dunia yang serba-virtual. Kita memasuki dunia hiperrealitas yang kadang-kadang realitas itu sendiri menjadi hal yang meragukan. Apa yang disajikan Jai dalam bukunya ini, setidaknya menguatkan kita untuk berani bersuara.

Last but not Least, apa pun mitos yang kita percayai, bagi Jai, kita harus bisa menciptakan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi etika perlakuan terhadap sesama, komitmen terhadap nilai-nilai (idealisme), kepekaan terhadap kebutuhan orang lain (empati), mengembangkan potensikemanusiaan, sabar, dan tekun. Selamat memasuki dunia Post Mitos.

  • Judul: Post Mitos
  • Penulis: S Jai
  • Penerbit : Pagan Press, Ngimbang, Lamongan
  • Tahun: Cetakan I  2018
  • Tebal: xiv+542