“Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Saya, sebagai bagian dari rombongan pria-pria yang punya kenangan–jika Anda percaya saya, tentunya–kutipan di atas agaknya bisa dibaca dalam novel “Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990”, karya Pidi Baiq.

Sekian pekan lalu, penulis kesohor asal Bandung itu dimuat di rubrik Sosok di harian Kompas. Di sana, diterangkan bagaimana ia melewati proses kreatifnya dalam menyusun beberapa antologi puisi, seri novel Dilan dan Milea yang bersuasana percintaan remaja zaman lawas, serta ikrar dirinya sebagai Imam Besar sebuah grup musik bernama The Panasdalam.

Entah mengapa, saya sendiri tidak tahu sejak kapan mulai enggan pada novel-novel berhaluan roman. Baik itu yang dideklarasikan sebagai ‘roman islami, penyejuk iman dan takwa’, atau roman-roman lain yang tergolong dalam kategori ‘teenlit’. Ada pengalaman pribadi? Rahasia dong. Tapi agaknya menjadi penting bahwa pada suatu malam, seorang kawan asal Sleman membawa setumpuk novel sepulang dari mudik.

Kawan itu membawa satu set heksalogi Supernova-nya Dewi Lestari, lalu beberapa seri novel terjemahan Percy Jackson, dan juga novel Dilan. Lama rasanya tidak membaca novel roman. Lantas, ketika ia saya dekati–sekalian curi-curi mencomot kue yang dibawa dari kampungnya, ia menceritakan novel-novel itu.

“Novel ini milik kakakku. Sejujurnya, aku belum baca semua, tapi sepertinya bagus,” tuturnya.
Iki pisan Pidi Baiq, rupane apik. Coba tanya kepada sastrawan asal Samarinda, kawan kita Imam Budiman, bagaimana konten dan gaya tulisannya. Dia sepertinya lebih tahu.”

Dan di malam yang gerimis itu, saya membaca novel Dilan bersampul biru. Dan wahai, patut diketahui bahwa kisah percintaan Milea dan Dilan ini bisa begitu apa adanya dan berkesan klise–tapi bisa membawa kepada memori yang gawat. Dilan yang cuek, usil, tapi cerdas, bertemu Milea yang periang dan manja.

Jujur saja, saya belum membaca novel seri keduanya secara utuh yang berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Tapi satu kutipan yang saya tak bisa lupa dari sampulnya: “Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa juga karena berpisah.”

Itu adalah salah satu buku yang pernah direkomendasikan orang kepada saya. Novel Dilan, di balik segala romansa berkesan klise dan klasiknya, membawa nalar percintaan yang barangkali sekarang sudah pudar–atau memang nalarnya yang kelewat unik dan kreatif. Saya sudah menamatkannya dalam semalam, dan saya harus akui novel itu bagus dan saya merasa senang membacanya.

Konon, ketika membaca, seseorang membawa kesan, pengetahuan, dan pengalaman yang sebelumnya sudah ada pada dirinya, berinteraksi dengan bacaannya. Katanya begitu. Begitu pun ketika misalnya membaca novel Dilan, di masa Anda masih SMA, lalu kuliah, bahkan di fase-fase kehidupan selanjutnya, selalu ada makna-makna baru yang tergali dari sebuah teks.

Karena itu, rupanya orang-orang mengembangkan beragam teori analisis teks, bahkan dengan berani menganalisis teks kitab suci. Tentu saja, itu sah dan boleh saja sebagai sebuah metodologi. Sebagaimana disebutkan Roland Barthes, filsuf kenamaan asal Perancis yang kesohor dengan semiotikanya: pengarang toh sudah mati, yang berdampak pada teks menjadi berhak diinterpretasi dan dimaknai siapa saja, dengan pengalaman dan pengetahuannya.

Beberapa hari ini, seorang kawan dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris mengajak diskusi tentang tugas mata kuliah Literatur. Kawan yang pernah mondok di salah satu pesantren modern di Ponorogo ini mendapat tugas dari dosen untuk membuat video tentang tinjauan suatu bacaan, yang kemudian video itu berisi ulasan, sedikit konten, serta ajakan untuk membaca buku tertentu.

Kurang lebih semacam trailer, tapi untuk buku, bukan film. Kebetulan, ia memilih judul buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah tamat membacanya, ia mulai menyusun skrip untuk video dan beberapa efek pendukung.

Tentu, ini menyenangkan. Ada juga ide memperkenalkan buku secara lebih kreatif tanpa harus membaca resensi yang berpanjang-panjang. Saya diajaknya berdiskusi untuk menentukan poin-poin yang pas untuk dimasukkan dalam skrip video tersebut, dan hanya ejaan, penulisan, dan babak cerita yang lebih dramatis yang saya sarankan untuk dirapikan di skrip.

Secara keren, ia sudah memasukkan unsur trailer teater Bunga Penutup Abad, yang dibintangi Reza Rahadian, Chelsea Islan, Happy Salma, juga Lukman Sardi, serta foto-foto lawas STOVIA, HBS Surabaya, dan latar musik yang mantap. Ia kombinasikan sedemikian rupa.

Rupanya, buku juga bisa diulas dan dibikin trailer-nya, batin saya. Dosennya inovatif, mahasiswanya bisa dibebaskan kreatif. Klop. Singkat cerita, video itu selesai.

Saya suka direkomendasikan suatu buku. Di waktu kecil, ada sepupu yang merekomendasikan komik Detektif Conan. Kebetulan, saya senang meminjam setiap seri komik Conan Edogawa sampai Perpustakaan Asri, tempat sewa buku yang berada di seberang jalan Gading itu lenyap.

Selanjutnya, secara bertahap, ada guru SD yang suka meminta anak didiknya membaca buku, terutama yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, seperti yang berjudul Tempe dari Desa Sanansari. Lalu, di pesantren, beberapa kakak kelas mulai menyarankan novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan novel-novel islami lainnya, serta biografi beberapa ulama Nusantara.

Saya sempat baca, tapi mendadak berganti ke arah buku-buku di Gubuk Bambu.

Seorang kawan asal daerah Mergan yang bercerita banyak pada saya tentang buku-buku kisah Habaib, keramat ulama, serta bagaimana seseorang mencari berkah. Secara unik, rupanya ia mengalami perkembangan bacaan, dan saya juga punya pilihan bacaan tersendiri. Ia secara khusus menggemari pemikiran-pemikiran Gus Miek dan Gus Dur, serta kiai-kiai kharismatik.

Dan saya juga mengalami perkembangan bacaan ke arah yang konon disebut-sebut lebih “liberal”, seperti karya Musdah Mulia, Komaruddin Hidayat, Nurcholish Madjid, juga yang cenderung asing di pondok: Pak Quraish Shihab.

Kami berdua kerap kali bertukar pandangan dan rekomendasi buku. Dan setidaknya, kami sepakat bahwa buku Ada Pemurtadan di IAIN dan Mendebat Jaringan Islam Liberal karya Hartono Ahmad Jaiz itu kurang asyik. Dalam merekomendasikan buku, kawan diskusi itu kiranya penting.

Semakin kemari, saya juga merasa senang dengan orang-orang yang suka menyarankan buku. Jika berkaca soal sastra, maka saya akan memohon saran pada seorang penulis sajak asal Samarinda. Untuk buku-buku kenusantaraan, buku bercorak filsafat atau agak “kiri”, saya biasa dapat saran dari seorang senior asal Bondowoso, atau dua juniornya yang penggemar Seno Gumira dan Pram.

Untuk buku-buku Islam Liberal, saya kerap dapat saran dari kawan asal Tuban yang jomblo lapuk itu. Begitu pun ada beberapa tokoh publik yang suka menyebutkan juga membagikan foto-foto buku yang dibacanya. Orang sekelas Elon Musk–pembaharu teknologi abad ini, Bill Gates, Zuckerberg, punya beberapa daftar buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Menyenangkan, orang-orang penting di muka bumi ini membagikan sedikit isi penyusun otaknya.

Juga hampir setiap pengajian dalam konteks hadis, selalu ada kitab-kitab yang disarankan oleh para pengajar, baik kitab ulama klasik maupun kontemporer seperti Kaifa Nata’amal Ma’a Sunnah karya Yusuf Qardhawi dan As Sunnah baina Al Fuqoha wal Muhadditsin karya Muhammad Al Ghazali. Belum lagi, kawan-kawan baik hati lainnya yang mau menyarankan membaca suatu buku, syukur berkenan meminjamkan bukunya.

Toh, hari ini ajakan membaca buku tidak boleh dimonopoli pihak tertentu. Semangat mengajak membaca buku maupun jurnal mestinya bisa tetap seiring zaman. Kalau membosankan, ya memang kiranya ada kemungkinan: cara promosi yang kurang asyik, atau bukunya yang memang kurang pas, baik dengan kemauan maupun pemahaman.

Yang agak kurang asyik adalah ada orang-orang yang menyuruh baca, baca, baca lagi, tanpa menyebutkan buku secara spesifik. Pokoknya baca. Dan jadilah orang-orang yang membaca apa yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Jika membaca buku menambah interaksi dan kearifan, tentu tidak semacam itu jadinya, sebanyak apa pun sebuah buku dibaca.

Rasanya, sebab itu ada orang-orang yang membagi klasifikasi buku menjadi buku diktat, atau buku referensi dan pedoman, serta buku-buku yang menambah perspektif dan sebagai pengayaan untuk suatu kepribadian.

Mengutip ucapan Sherlock Holmes, “Otak manusia seperti loteng, kau hanya harus mengisinya dengan apa yang kau butuhkan. Otak manusia tak akan mampu menampung semuanya, jangan naif,”. Kurang lebih demikian ditulis Conan Doyle, dalam kisah awal perjumpaan Sherlock Holmes dengan Dokter James Watson.

Saya kurang tahu bahwa di satu sisi, mengapa para pendahulu, juga tokoh-tokoh terkemuka bisa mengembangkan perspektif meluas dari bidang ilmunya. Bertrand Russell, matematikawan, bisa bicara banyak soal teologi, sosiologi, juga filsafat. Atau ilmuwan-ilmuwan yang selalu didaku “islami”, apakah mereka kaum dengan kecakapan generalis? Mungkin tidak.

Tapi, di setiap bidang, mereka punya karya yang menegaskan pengetahuan dan usaha sumbangsihnya untuk bidang tersebut. Dan karya itu secara dialogis tentu dikritik, diapresiasi, lalu juga direkomendasikan kepada generasi ke generasi sebagai suatu tambahan gagasan yang orisinil.

Rekomendasi, atau bisa pula memberi dan menghadiahi buku, juga menggambarkan satu sisi kepribadian. Pernah seorang gadis memberikan buku karya Halimah Alaydrus kepada saya. Maka saya ingin menebak di satu sisi, waktu itu ia punya sisi spiritual yang sedu-sedan seperti dalam buku tersebut. Pun, pada suatu waktu, saya pernah merekomendasikan, juga membawakan seseorang buku Pak Quraish tentang Jilbab dan Perempuan. Dan...

“Bisakah kamu mencari teman dekat yang sealiran saja, nak?”. Orangtuanya bertanya, dengan heran—dan sedikit curiga. Maka mulai ada dugaan Syiah, atau, terduga liberal. Ngeri. Anggap saja itu satu fenomena di masyarakat kita.

Maaf, kita bicara apa? Oh ya, merekomendasikan buku-buku. Ada yang berkata, meningkatkan minat baca bukan hanya dengan jargon-jargon “Ayo Membaca”, “Membaca Jendela Ilmu”, tanpa ada arahan: aku harus memulai dengan baca apa? Meminta membaca, tapi tidak memberitahu apa yang harus dibaca, seperti menyuruh seseorang pergi tanpa memberitahu rute.

Toh, peradaban dimulai dengan saling membagi pengalaman membaca, mengajak membaca buku-buku terbaik yang pernah dibaca, lalu didiskusikan di arena intelektual, atau setidaknya warung kopi. Orang mengeja dirinya sendiri mulai dari bacaan yang ia sukai.