Malam kelam sebagaimana rindu kian curam. Alangkah nikmatnya ketika kepala berhasil bersandar di bantal. Namun, ternyata mata enggan terpejam.

Aku rindu. Rindu dengan celotehanku dalam kata dan spasinya. Argh, komitmen menulis susah banget, sih!

Memang, yang namanya niat hanya akan berbentuk abstrak jika tak ada aksi memulai. Padahal aku sangat suka bercerita perihal apa saja.

Orang bilang kalau ada tahi lalat di atas bibir, maka pemiliknya adalah orang yang tak mau berhenti berbicara alias cerewet. Persis, aku sangat cerewet. Coba bayangkan, sudah cerewet dan masih ditambahi kata keterangan sangat.

Aku suka tak bisa mengerem pembicaraanku hanya kepada orang-orang tertentu saja. Jika benar-benar nyaman, maka orang itu pasti terkaget-kaget karena wajahku penuh penipuan, hehe. Maksudnya, aku biasa diam sebagai "pagar" ketika bertemu orang baru atau orang-orang yang menurutku tak sepaham denganku.

Dan, aku mendapat jatah dari Tuhan muka yang "menyeramkan". Ekspresi wajah biasa-biasa saja sering disalahartikan sedang marah. Ya mau bagaimana lagi, dong, bawaan lahir memang begini?

Nah kan, baru mau memulai topik cerita saja pembukaannya sudah sedemikian "heboh".

Sebagai solusi agar mengerem kecerewetan kepada orang secara langsung, maka aku mencari inisiatif untuk tetap cerewet yang elegan. Yups, aku "cerewet" melalui tulisan-tulisanku. Entah ngalor-ngidul pembahasannya, yang penting aku suka berinteraksi dengan orang lain.

Hatiku gerimis dan agak ada petir-petirnya (biar dramatis, hehe). Karena efek virus yang menghebohkan dan mencekam sekarang ini, interaksi secara langsung harus dihindari. Kenapa? Karena untuk memutus siklus pandemi si virus bandel. Jadi, kita interaksi secara tidak langsung saja, ya, pembaca tercinta.

Menyoal bahasa Jawa ngalor-ngidul, aku sebenarnya sangat kesulitan menghafal artinya. Eits, penggunaan kata ngalor-ngidul pada paragraf di atas artinya bukan arah mata angin seperti makna denotasinya. Tapi, artinya pembahasan tulisanku yang mungkin saja "ke mana-mana" atau kugunakan makna konotasinya.

Pada malam menjelang gerbang mimpi seperti ini, aku suka mengingat hal-hal konyol dalam diriku sendiri. Seperti menghafal arah mata angin dalam bahasa Jawa tersebut. Mau berapa kali bapak dan ibu mengajariku, rasanya juga masih sama saja. Aku masih kesulitan menghafalnya.

Kekonyolan selanjutnya adalah susah menghafal rute jalan. Bahkan, rute yang pernah dilewati ketika berangkat, pulangnya sudah pasti lupa lagi. Tapi, ada satu hal yang sulit dilupakan. Betul sekali, ialah kenangan yang sulit dilupakan. Ambyaaar.

Dunia ini memang penuh kekonyolan seperti itu. Eh, seperti diriku maksudnya, hehe. Iya, yang mati-matian diingat malah harus memakai aplikasi gawai bernama Google Maps. Yang mati-matian dilupakan malah merekat erat di pelupuk mata.

Jadi, kenapa semua penuh kontradiksi?

Ada satu lagi cerita kontradiksi yang membuatku setengah mati geram. Katanya, jodoh jangan terlalu dipikirkan. Pura-pura lupa saja, maka nanti segera datang. Jika didesak, maka tak datang-datang.

Jeng-jeng, kok aku ingin berkata kasar, tapi takut menambah dosa yang sudah berbuih-buih. Lelucon macam apa itu, aku tak habis pikir untuk mencerna pernyataan kontradiksi tersebut. Dan, yang lebih gila, aku coba-coba praktik pemahaman seperti itu, walaupun kasusnya berbeda.

Aku pernah lupa meletakkan kunci kamarku. Setelah aku mencoba pura-pura lupa, nah kuncinya ternyata ada di dalam saku jaket. Padahal, menurut perasaanku, aku sudah memeriksa semua saku pakaian yang kugunakan. Dari kisah ini, hikmahnya adalah jangan terlalu banyak memakai perasaan, nanti jadi pusing sendiri. Hehe.

Barangkali aku sudah keracunan pemahaman aneh yang awalnya kubenci. Aku bagaikan terkena Stockholm Syndrome atau jatuh cinta dengan sesuatu yang sudah menyakiti. Pemahaman seperti itu cukup menyakitkan dan aku justru berbalik jatuh cinta. Sungguh, aku yang aneh!

Meskipun aku pernah praktik coba-coba, tapi jangan pernah mencobanya untuk perihal jodoh. Mungkin maksud pernyataan yang sudah membuatku kesal di atas adalah jangan melulu memikirkan kapan jodoh akan datang dan kita malah lupa mempersiapkan diri.

Yasudah, menurut pemahaman masing-masing saja. Yang terpenting adalah persiapan sebaik mungkin untuk menyambut "si dia" datang. Waktunya kapan, perfect timing ala Tuhan pasti so sweet banget, kok. Segala macam konsepnya, ya dipahami yang paling mudah saja.

Tiap orang punya gaya masing-masing. Pun dalam hal penulisan. Aku suka membuat tulisan sederhana sebagai healing untuk diriku sendiri. Mengisi acara me time dengan hal-hal bermanfaat.

Aku tak terlalu bisa menulis tentang politik dan tulisan "tingkat tinggi" lainnya. Berat, aku takkan kuat. Biar Dilan saja!

Gaya tulisanku, ya seperti inilah. Ringan seringan-ringannya. Penuh candaan. Receh.

Tapi, semoga ada hal bermanfaat yang bisa dipetik dari rangkaian kata dan spasi ini. Pada dasarnya, aku juga tak berhenti belajar supaya bisa memperbaiki tulisan-tulisanku.

Nah, tulisan ini malah berisi curhatanku saja. Tiap orang memang berbeda. Aku tak masalah curhat-curhat begini. Curhat mampu membersihkan sampah-sampah di kepala kita. Ya, selama itu masih sifatnya umum. Silakan saja dituliskan di media sosial, boleh kok.

Asal tidak mengumbar masalah yang benar-benar pribadi. Kita tentu punya rules atau batas kepribadian masing-masing dan tentu saja tiap orang berbeda.

Bahwa curhat bukan kesalahan yang memalukan. Bisa jadi, orang lain (yang tak terlalu terbuka) memilih curhat dalam diary-nya. Sama saja, kok.

Hidup ini jangan dibuat ribet. Sesungguhnya ilusi di dalam kepala yang membuat orang kurang bahagia. Dengan segala bentuk ketakutan dan keribetannya, mana mungkin bisa bahagia?

Baiklah, ternyata teknik curhat sebelum tidur ampuh membuat mata berubah penurut. Akhirnya dia lelah juga. Selamat berlayar di pulau mimpi.