Mahasiswa
1 bulan lalu · 42 view · 6 min baca menit baca · Lingkungan 56100_27787.jpg

Mereka yang Terlalu Angkuh

Kertas mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita sebagai manusia. Hal itu tidak bisa dipungkiri bahwa semua sendi kehidupan manusia pasti sangat dekat dengan yang namanya kertas. 

Namun, paradigma membawa semua manusia yang ketika, melihat sebuah tulisan yang bertuliskan kertas, ataupun mendengar kata kertas, maka akan langsung berpikir erat dengan buku. 

Hal itu tidaklah salah karena sejarah awal mula penemuan kertas sangat erat dengan pengetahuan. Yang artinya bahwa penggunaan kertas oleh masyarakat pada zaman dahulu digunakan untuk mengabadikan pengetahuan dan penyebaran informasi yang kemudian disebarkan diseluruh dunia.

 Karena jika kita berbicara kertas maka kita sedang membicarakan tentang sejarah kemajuan peradaban manusia. Bagaimana tidak, kertaslah yang memegang peranan besar dalam kemajuan peradaban manusia. Bisa kita lihat dari awal mula ditemukannya kertas sebagai medium untuk penulisan pengetahuan. Itulah peranan penting kertas yang mempengaruhi kemajuan peradaban dunia hingga sekarang.

Namun perubahan zaman yang semakin canggih membawa manusia seakan lupa dengan sejarah kertas. Manusia telah begitu lupa diri dan menyombongkan dirinya bahwa kertas tidak akan digunakannya lagi. 

Paperless society begitulah mereka menyebutnya, mereka yang meramalkan bahwa eksistensi kertas akan tergantikan oleh era digitalisasi yang kemudian banyaknya bermunculan dokumen-dokumen elektronik yang akan menggantikan peranan kertas.


Paperless society sangat terlalu berlebihan ketika mereka berkata bahwa mereka tidak akan menggunakan kertas, hal itu merupakan pernyataan yang sangat keliru. Padahal sangat berbeda rasanya jika kita menulis dikertas dibanding dengan menulis dimedia elektronik yang terdapat dalam smartphone atau perangkat elektronik kita. 

Jika kita menulis dismartphone, ada sepertinya rasa yang kurang atau kalau menurut saya jika menulis di smartphone kita tidak bisa berekpresi dengan bebas dengan apa yang akan kita tulis. 

Tentu saja sangat berbeda dengan kertas karena jika menggunakan kertas kita akan bebas mencoret disana sini atau melingkari hal-hal yang kita rasa penting. Walaupun menulis dikertas lebih cenderung berantakan namun hal itulah yang menimbulkan kesan berbeda.

Konon lagi bagaimana dengan pelukis. Jika seorang pelukis menggunakan media elektronik dalam pembuatan karyanya, apa yang akan terjadi? apakah sang pelukis bisa membuat karyanya? jika saja menjawab pertanyaan itu mungkin bisa saja karyanya akan jadi. 

Tapi bagaimana dengan kualitas karya lukisnya? apakah baik atau buruk. Jika kita bandingkan kemudian seorang pelukis yang melukis dimedia elektronik dengan pelukis yang menggunakan media kertas. Manakah karya yang lebih bagus? mungkin persepsi semua orang akan memilih bahwa pelukis yang menggunakan kertaslah yang lebih bagus karyanya. 

Karena jika menggunakan media elektronik pelukis juga akan semakin bingung bagaimana cara menggradiasi warna lukisannya. Dari hal itulah dapat kita sepakati bahwa penggunaan media elektronik dalam menulis dan melukis hanya akan membatasi daya kreasi pikiran manusia.

Media elektronik tidak hanya membatasi pikiran manusia dalam menulis dan melukis, tetapi hal tersebut juga berlaku dengan membaca buku-buku cetak. Seperti menurut Benedict Anderson dalam A Life Beyond Boundaries, kertas menawarkan lebih banyak sensasi ketimbang buku-buku elektronik. 

Dia mengatakan buku-buku elektronik menghilangkan kesan keacakan sekaligus keberuntungan. “Tak ada kejutan, afeksi dan skeptisisme,” tulis Anderson. Bagi Ray Bradbury, buku-buku cetak lebih baik karena bisa dihidu. “Buku memiliki aroma. Buku baru beraroma luar biasa. Buku tua bahkan lebih baik. Aromanya seperti Mesir kuno,” ujar penulis novel Fahrenheit 451 itu dalam sebuah wawancara dengan majalah Time.

Permasalahan mengenai paradigma buruk seputar kertas adalah mengenai bahwa kertas tidak ramah  lingkungan. Karena bahan utama pembuatan kertas adalah pohon. Banyak orang kemudian enggan menggunakan kertas karena takut turut serta mendukung dalam penebangan pohon ataupun hutan secara liar. 

Argumentasi tersebut telah terbantahkan karena industri kertas sudah memiliki lahan khusus yang digunakan dalam penanaman pohon untuk memproduksi kertas atau yang lebih dikenal dengan istilah Hutan Tanaman Industri (HTI). Bahkan skema HTI sendiri sudah diatur oleh pemerintah secara khusus agar industri kertas mempunyai batasan dan tidak merusak hutan. 

Pohon utama industri kertas adalah pohon Paperius dan Akasia yang ditanam oleh pihak industri. Biasanya akan dipanen setiap 5 tahun sekali dan kemudian ditanam kembali. Jadi industri kertas sudah tidak perlu memerlukan bahan baku pohon hutan sebagai bahan baku kertas.


Paperless society juga sering berargumentasi tentang bahwa penggunaan dokumen elektronik lebih irit lingkungan. Menurut saya hal itu sangatlah tidak benar. Kita selalu terpaku pada paradigma buruk mengenai kertas yang tidak ramah lingkungan. Namun, kita tidak pernah mengkaji secara mendalam tentang apakah media elektronik lebih ramah lingkungan atau tidak. 

Karena jika kita ingin menggunakan media elektronik untuk membaca ataupun menulis pastilah akan menggunakan perangkat media elektronik seperti smartphone, computer ataupun laptop.

Tentu saja dalam mengakses perangkat elektronik kita juga akan memerlukan listrik sebagai sumber dayanya. Berbeda halnya jika kita menggunakan kertas tentu saja tidak memerlukan listrik sebagai sumber dayanya. Listrik tentu saja tidak lebih ramah terhadap lingkungan karena bahan utama penghasil listrik adalah batubara, minyak bumi, dan bahan bakar fosil. 

Tentu saja jika kita menggunakan perangkat elektronik secara berlebihan untuk menulis dan membaca hanya akan mendukung penghabisan sumber daya minyak bumi dan batubara. Jika dilihat lebih lanjut pengunaan kertas juga memungkinkan lebih tahan lama dibanding media elektronik.

Proses pembuatan kertas juga lebih ramah terhadap lingkungan jika dibandingkan pembuatan media elektronik. Bahan utama pembuatan media elektronik mengunakan emas, perak, plastik dan juga tembaga, yang dalam proses pengambilannya pastilah mengebor dan mengebom tanah. dan pastilah hal itu merusak komposisi sumber daya tanah. 

Jika dibandingkan tentu saja industri kertas lebih ramah lingkungan karena yang digunakan hanya pohon berbeda halnya dengan yang memungkinkan merusak tanah, karena jika tanah tersebut sudah rusak untuk ditanami pohon saja pasti tentu sangatlah sulit untuk tumbuh.

Anggapan buruk lainnya seputar kertas adalah bahwa kertas tercetak yang tak terpakai mudah menjadi sampah. Sebaliknya, menurut data yang dirilis United States Environmental Protection Agency (EPA), lebih dari 65% kertas di Amerika Serikat didaur ulang pada 2012. 

Persentase tersebut menjadikan kertas sebagai komoditas yang paling banyak didaur ulang di AS. Laporan European Declaration on Paper Recycling tahun 2014 menunjukkan bahwa daur ulang kertas di Eropa mencapai 72% pada 2014, dengan 2 ton kertas didaur ulang tiap detik. Dengan kata lain, kertas justru merupakan produk yang paling mudah didaur buat dimanfaatkan kembali.

Berbeda halnya dengan industri elektronik, Menurut laporan United Nations Environment Programme pada 2015, industri elektronik, yang menjadi media akses terhadap buku-buku elektronik justru merupakan salah satu penghasil sampah yang terbesar dan tercepat, dengan jumlah hingga 41 juta ton sampah elektronik per tahun.

Pakar Teknis E-waste atau limbah elektronik dari International Telecommunication Union disingkat ITU, Vanessa Gray mengatakan, meningkatnya konsumerisme menciptakan jumlah limbah elektronik yang mengejutkan. Pada 2016, dunia menghasilkan 44,7 juta metrik ton limbah elektronik, yaitu peralatan elektronik dan listrik yang dibuang. 

Jadi, ini pada dasarnya adalah segala sesuatu yang disetrum di steker atau baterai. Ini setara dengan sekitar 4.500 Menara Eiffel untuk tahun ini," ujar Vanessa Gray.


Gray memperingatkan, pengolahan yang tidak tepat dan tidak aman atas pembuangan limbah elektronik, menimbulkan risiko signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dia mencatat tingkat daur-ulang yang rendah juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. 

Itu dikarenakan kandungan emas, perak, tembaga dan bahan bernilai tinggi lainnya dalam e-waste tidak dapat dipulihkan serta dimanfaatkan ulang. Dari peryataan gray tersebutlah kita bisa mengetahui bahwa dalam penanganan dan pendaurulangan limbah elektronik justru lebih sulit dibandingkan dengan limbah kertas.

Paperless society tentu saja sangat angkuh. Mereka beranggapan bahwa merekalah yang lebih mencintai lingkungan dibanding dengan orang-orang yang menggunakan kertas. Padahal perilaku mereka yang terlalu terlena dengan kemajuan zaman, justru menimbulkan kerugian yang lebih besar terhadap lingkungan dibanding penggunaan kertas. 

Mereka adalah orang-orang yang memiliki daya konsumsi tinggi terhadap listrik dan juga orang yang suka ganti-ganti perangkat elektronik. Merekalah yang secara  langsung lebih tidak mencintai lingkungan. Maka sudah saatnya kita mengubah pola pikir kita dengan melawan paradigma-paradigma buruk mengenai kertas.

Artikel Terkait