Dunia maya saat ini gaduh sekali. Sangat gaduh dan seringkali menjengkelkan. Agama, politik, moralitas (mulai dari gosip dan dugaan gosip, omong kosong dan njelimet) semuanya dipersoalkan di sana. Ini terkadang membuat saya menyesali kemajuan teknologi, ketika di saat bersamaan harus juga mensyukuri dan menikmatinya.

Saya menyesalinya karena lewat dunia ini orang baik jadi jahat dan sebaliknya. Dunia maya tak memiliki filter khusus yang bisa mendeteksi ketulusan seseorang. Lebih jauh, mendeteksi kenyataan. Namanya juga dunia maya.

Sekarang, kegaduhan itu datang dari orang-orang yang konon adalah pembela orang miskin. Saya tahu sih beberapa dari mereka yang memang akrab dan mendampingi langsung masyarakat yang terpinggirkan. Tapi kebanyakan, blank, saya tak benar-benar kenal seperti apa mereka di dunia nyata.

Tulisan ini hanya refleksi saya terhadap dua subjek yang lagi populer belakangan ini: orang miskin dan para “pembelanya”. Saya pakai tanda petik di sini untuk membedakan si subjek kedua itu dari mereka yang, menurut saya, benar-benar membela orang miskin dalam arti sesungguhnya.

Tentang orang miskin. Menurut saya, orang-orang yang terkelaskan dalam situasi ini ada dua macam. Pertama, mereka yang perlu dibela karena memang tak punya daya untuk membela dirinya sendiri. Misalnya orang-orang miskin yang berada di pelosok sana, jauh sekali dari ibukota, yang kesulitan mengakses informasi, pendidikan, dan perangkat-perangkat lain untuk mencetak sumber dayanya sebagai manusia.

Bukan hanya kesulitan mengakses, tetapi dia juga jarang sekali diakses apakah itu oleh pemerintah atau media. Singkatnya, orang-orang yang tidak bisa bersuara untuk dirinya sendiri.

Kedua, orang miskin yang tak perlu dibela karena pada dasarnya punya kualitas (meski sedikit) untuk membela dirinya sendiri. Menurut saya, orang-orang miskin yang tinggal di sebuah wilayah yang mudah mendapatkan informasi dan pendidikan, mereka punya kesempatan untuk menyuarakan dirinya sendiri. Apalagi kalau sudah menjadi sasaran pemberitaan media.

Yang terakhir ini juga tidak perlu dibela mati-matian jika ia melanggar hukum. Well of course, kecuali oleh pengacaranya jika kemudian ia berada di ruang sidang. Tapi itu di luar konsep pembelaan yang sedang kita bicarakan karena konteksnya lebih kepada hak dia di hadapan hukum.

Bicara tentang orang miskin, saya jadi teringat peristiwa di masa kecil dulu. Ketika saya diajak Ibu ke pasar. Saat itu saya masih kelas dua SD. Di pasar, seorang pengemis yang kondisi fisiknya masih segar bugar, meminta uang pada Ibu.

Ibu menolak dengan mengatakan, “Maaf ya, Pak.” Bapak pengemis itu terus saja menyodorkan tangannya hingga hampir menyentuh muka Ibu. Bahkan ia terus mengikuti kami ketika Ibu akhirnya mengajak saya pergi dari tempat itu. Waktu itu saya bertanya pada Ibu, kenapa pengemis itu tidak dikasih uang saja barang sedikit.

Jawaban Ibu: “Uang kita juga tidak banyak, Nak. Ibu hanya bawa uang pas untuk kebutuhan kita. Lagipula, di rumah ada banyak anak-anak (yatim-piatu) yang lebih membutuhkan uang ini daripada bapak itu. Lihat, menurut kamu, apa bedanya kondisi fisik bapak itu dengan kuli angkut barang di sana?” Ibu mengarahkan matanya pada seorang kuli angkut barang yang dimaksud.

Saat itu saya berpikir: tapi bapak itu pengemis, dan kuli angkut itu punya pekerjaan. Saat itu saya punya konsep: kuli angkut adalah pekerja, tak perlu dikasihani. Pengemis adalah pengemis, yang harus dikasihani, seperti apa pun kondisi fisiknya. Kira-kira seperti itu.

Tapi setelah saya dewasa, saya memahami banyak sekali pelajaran dari sikap Ibu terhadap pengemis itu. Pertama, seseorang harus independen, mengusahakan hidupnya sendiri selama ia punya kaki dan tangan. Kedua, konsep kasih-mengasihani itu tidak dibelokkan maknanya sebagai memberi sesuatu yang diminta melainkan mempertimbangkan sesuatu yang sifatnya jangka panjang.

Artinya, bila kita memilih memberikan uang pada pengemis, kemungkinan besarnya ia akan terus menjadi pengemis selama ada orang yang memberinya uang. Selama menjadi pengemis lebih mudah dibanding menjadi kuli angkut atau kondektur.

Lalu, kapan dia bisa keluar dari situasi tersebut? Jujur, apakah seorang pengemis atau seorang miskin, ingin tetap dalam kondisi sama hingga sepuluh tahun ke depan? Pasti tidak, kan? Tapi, kalau mengemis sudah menjadi comfort zone-nya dia, kesempatan untuk mengubah hidupnya akan semakin jauh.

Ketiga, kemiskinan tidak perlu dijadikan alasan oleh siapa pun untuk berbuat kurang ajar. Kegigihan bapak pengemis meminta uang pada Ibu saat itu, membuat kami dipandang seperti manusia paling tak berperasaan.

Saya ingat, di antara orang di sekeliling kami saat itu, ada yang menyindir Ibu: pakai jilbab tapi kok pelit! Mungkin orang yang menyindir Ibu tersebut memang bersimpati terhadap sang pengemis. Tetapi, apakah sebuah perasaan mulia harus disampaikan dengan cara yang tidak mulia?

Keempat, dalam membantu orang, kita harus mempertimbangkan prioritas. Memilah yang lebih dahulu harus kita bantu. Dalam konteks Ibu saat itu, anak-anak yatim piatu di rumah kamilah yang harus Ibu prioritaskan. Nah, ini memudahkan kita masuk pada pembahasan subjek kedua: “pembela orang miskin”.

Jujur, saya baru kenal konsep pembela orang miskin dari dunia maya belakangan ini. Tapi predikat pembela orang miskin yang saya pahami dari pembicaraan di dunia maya sepertinya lebih ditujukan buat mereka yang bicara sangat lantang tentang pihak lawan. Terutama tentang tokoh atau orang tertentu yang kebijakan atau kata-katanya mereka anggap tidak memihak orang miskin (bukan kemiskinan).

Bagi saya, tampaknya ada yang salah dengan sikap para pembela orang miskin itu. Mereka lebih suka menyerang daripada menyodorkan solusi. Kadang saya berpikir, bagi para “pahlawan” ini, menjatuhkan seseorang sepertinya lebih penting daripada benar-benar menolong orang miskin itu sendiri.

Padahal, seorang tokoh yang diserang habis-habisan itu adalah orang baik. Justru tokoh ini dikenal sebagai orang dermawan oleh teman-teman dekatnya. Selain gaya hidupnya sederhana (sementara para pembela kemiskinan menyebutnya gila kekuasaan), dia juga menolong banyak orang di dekatnya yang sedang kesulitan. Oh, ya, dia juga menciptakan lapangan pekerjaan untuk banyak orang.

Singkatnya, dia secara personal adalah orang baik, tapi dicemooh habis-habisan karena perbedaan pandangan. Sama persis seperti ibu saya, yang saya kenal penuh kasih bukan hanya pada anak kandungnya, tapi dipandang amoral oleh orang yang sama sekali tak mengenalnya hanya karena peristiwa itu. 

Coba bandingkan dengan situasi seseorang, yang juga teman saya, yang sering menyemburkan kata-katanya tentang membela orang lemah. Dia bisa digolongkan pada kalangan kelas menengah. Gaya hidupnya khas masyarakat urban yang sedikit berkecukupan. Tetapi, dia galak sama PRT sendiri. Atau, dia tidak peduli dengan kesulitan seorang OB atau bawahan di kantornya.

Jadi, dia keras bicara soal penderitaan orang miskin yang jauh dari kehidupannya, tetapi tak peduli orang miskin yang ada di dekatnya. Jadi, siapa pembela orang miskin yang sesungguhnya? Ah, tapi pertanyaan ini terlalu arogan.