Mahasiswa
2 bulan lalu · 31 view · 3 min baca menit baca · Seni 91756_65087.jpg
Lakuna

Mereka yang Peduli Kertas

Siapa mereka, yang mau peduli pada kertas dan segala potensinya?

Pertanyaan di atas agaknya menjadi penting untuk memulai paragraf ini. Pasalnya, sampai sekarang, tanpa bermaksud menuding sana-sini, tidak begitu sulit menemukan orang yang hanya memahami kertas sebatas media untuk menulis dan melukis belaka.

Sebagaimana diketahui, kertas merupakan media luhur yang telah banyak berkontribusi terhadap peradaban manusia, dari dulu bahkan hingga sekarang. Semangat dan spirit perubahan yang terkandung pada kertas menjadi penting untuk tetap dihidupkan.

Aspek ekonomi, misalnya, tentu bukanlah satu-satunya cara mempertahankan spirit tersebut, mengingat potensi ekonomi di bidang industri kertas cenderung mengalami pasang-surut.

Sejak November 2018 silam, kinerja industri kertas diyakini telah mengalami penurunan secara signifikan. Kemerosotan harga kertas di tingkat nasional maupun internasional disinyalir sebagai penyebabnya. Masa depan industri ini kerap menjadi satu hal yang dipertanyakan oleh khalayak kebanyakan.


Beragam analisis terhadap realitas ini pun telah coba dipaparkan para pakar. Ada yang mengatakan bahwa lemahnya permintaan mengakibatkan peningkatan persediaan (oversupply).

Selain itu, ketatnya persaingan untuk mengalihkan pasar kertas juga disebut-sebut sebagai penyebab lainnya. Bahkan kehadiran media onlineĀ pun turut dipersalahkan.

Era digitalisasi dipercaya sebagai penyebab lahirnya temuan: sejak 2006 hingga 2016, penggunaan kertas dunia berada pada titik negatif 4,6%; sementara konsumsi kertas yang diperuntukkan bagi keperluan tulis-menulis rata-rata turun hingga negatif 1,3%.

Patut disayangkan tentunya jika industri kertas yang pernah mencatatkan kontribusinya dalam mendongkrak PDB negara hingga menyentuh angka sekitar 87 triliun lebih dan meningkatkan devisa negara hingga mencapai angka sebesar 5 miliar dolar lebih itu harus terhenti di kemudian hari.

Bercermin pada sederet tantangan industri kertas di atas, berpangku tangan pada pelaku industrinya bukanlah solusi jitu dan teruji. Keberlangsungan serta masa depan kertas juga sangat bergantung pada pihak lain, pada mereka yang bersedia mengabdikan kreativitasnya sebagai alternatif baru (red: pasar kertas).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ada tiga sektor yang berperan penting dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia. Pada kuartal pertama tahun 2019, sektor industri sebesar 20,07%, lalu perdagangan 12,20%, dan pertanian 12,65%,

Meskipun sektor industri kertas ambil bagian dalam data BPS tersebut, bukan berarti kondisinya akan bersifat tetap dan kebal dari berbagai ancaman. Pelaku usahanya dituntut untuk terus bergerak melakukan ekspansi secara meluas, baik itu di bidang yang sama maupun pada bidang berbeda.

Komunitas, apa pun namanya, selama ia peduli terhadap kertas adalah jawaban sekaligus solusi kebuntuan dalam melakukan ekspansi itu. Kelompok-kelompok seperti ini memiliki perannya tersendiri dalam meningkatkan volume produksi kertas.


Lebih serius, kehadirannya akan dapat mengisi kekosongan celah pasar sehingga terhindar dari kemungkinan turunnya kinerja penjualan kertas. Bagaimana tidak, melalui tangan kreatifnya, masyarakat diajak untuk melihat kertas dari sudut yang berbeda.

Bukan hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi, orang-orang di dalamnya juga memberi contoh bagaimana merefleksikan kecintaan terhadap kertas dengan beragam cara, mulai dari aspek sosial, budaya, politik, hingga seni.

Dengan seni, misalnya, karya-karyanya disulap sedemikian rupa agar dapat melatih kemampuan sensorik dan motorik anak mulai dari usia enam tahun. Kesadaran yang dibangun setiap komunitas, di tengah-tengah masyarakat, merupakan potensi besar bagi dunia kertas dan industrinya.

Aktivitas mereka yang telah menembus batas dua dunia, online dan offline, setidaknya telah turut andil memangkas biaya yang relatif mahal dalam mengampanyekan isu kertas, pohon, hutan, bahkan lingkungan yang cenderung disalah-persepsikan oleh masyarakat.

Tulisan ini tidak dapat memastikan berapa banyak komunitas seperti itu di Indonesia, akan tetapi, bilamana perlu, pembaca akan menemukan beberapa dari mereka sekaligus jumlah anggotanya setelah berselancar di mesin pencarian Google.

Satu pesan optimisme yang dapat diambil ialah,masa depan kertas menjanjikan kesejahteraan. Hal senada juga telah disampaikan pemerintah sejak 2015 silam, melalui PP No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional.

Keberhasilan industri kertas menyerap tenaga kerja hingga satu juta lebih jiwa cukup menjadi bukti nyata. Jumlahnya akan lebih fantastis tatkala komunitas seperti tersebut di atas juga ambil bagian menciptakan lapangan kerja baru, di mana kertas dijadikan sebagai bahan baku.

Komunitas Pencinta Kertas (KPK) yang dibentuk pada 2006 lalu, misalnya, dengan bermodalkan optimisme yang tinggi, kini telah berhasil memikat hati 5.000 lebih membersĀ dan tersebar di 25 wilayah regional Indonesia. Mereka juga telah berhasil mengantarkan berbagai produknya hingga ke kancah internasional.


Jerih payahnya melaksanakan dan mengikuti kegiatan pameran, workshop, event, project, dan lain sebagainya, agar tetap eksis, pada akhirnya berbuah manis. Kreativitas yang dihasilkannya kini telah banyak dilirik berbagai negara dunia. Satu metode baru untuk menepis ancaman menurunnya penggunaan kertas.

Penulis menyadari, tidak cukup sekadar simpati maupun empati untuk membayar jerih payah mereka dalam menghidupkan spirit kertas yang luhur tersebut.

Guna menunjang kreativitas mereka agar tetap kekinian dan kedisinian, pemerintah, pelaku industri kertas Indonesia (jumlahnya lebih dari 80), serta seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab secara moril untuk terus mendukung perkumpulan seperti ini, apa pun caranya.

Artikel Terkait