Kita akan dirubah oleh lingkungan jika kita tidak mau merubahnya. Sebagai manusia biasa, tentu kita tidak bisa mengontrol lingkungan yang negatif ataupun mengontrol hal-hal buruk yang datang kepada kita. Namun  kita dapat mengontrol diri kita sendiri.

Banyak yang berfikir ketika kita tidak punya bakat untuk melakukan sesuatu, maka kita tidak akan bisa maju. Terlebih, jika lingkungan atau bahkan keluarga kita sendiri tak pernah percaya dengan kemampuan kita.

Jangankan mengembangkan bakat, terkadang banyak yang tak tau apakah dirinya berguna atau tidak. Dia tak punya apa-apa, mulai dari visi, materi,  hingga relasi tak satupun dimiliki. 

Heh, padahal miskin bukan berarti tidak boleh kaya, bodoh bukan berarti tidak bisa pintar. Walau takdir sudah berjalan, tapi doa masih bisa dipanjatkan. Yap karena hanya doa yang merubah takdir.

Saat banyak yang bercuit ketika kita sedang menjalani takdir dan ketika kita sedang bermimpi ya cuekin saja! Tetap berjalan tegakan kepala dan berkata: santai-santai tuhan pasti kan berikan yang mapan. (nada lagu selow)

Menjalani hidup memang tak semudah membalikan telapak tangan tapi juga tak sesulit menggapai rembulan.

Banyak mereka yang merasa sengsara, entah karena dihina, tidak menjadi kaya ataupun punya fisik yg tak sama dengan kita, alhasil karena lingkungan yang demikian membuat orang-orang tersebut merasa tidak berguna dan akhirnya mati dalam kehidupan dunia.

Di sisi lain, banyak juga manusia yang menjalani hidupnya dengan simple, santai, tahan cacian dan tidak perduli perkataan anjing yang kelaparan.

Nyatanya di salah satu sekolah, ada kok pelajar yang sama sekali tidak mengerjakan satu nomor pun saat ulangan, bahkan ia lebih memilih tidur dari pada berpikir rumitnya kehidupan, ya gimana? Kita juga tidak boleh menyalahkan.

Ia berfikir lebih baik tidak mengerjakan daripada kerja dengan hasil contekan, lebih baik bukan ?

“Bagaimana lagi, wong tidak bisa sama sekali kok, dari pada mencontek ya lebih baik saya tidur menikmati hidup, karena selembar nilai dikertas tidak begitu penting bagi saya. Terpenting itu kan nilai kemanusiaan dan bagaimana kita memanfaatkan ilmunya, toh besok saya akan mempelajarinya lagi sampai saya bisa” ujarnya. Wow, ternyata ada yang hidup sesimple itu ya kawan.

Nah, oleh karenanya hidup itu tergantung siapa yang menjalani, bagaimana cara menghadapi, dan seperti apa mensyukuri. Semua manusia itu sama. Tidak ada yang enak dan tidak ada yang susah, yang berbeda adalah  bagaimana cara kita menyikapi hidup.

Kalau dalam bahasa jawa itu sawang sinawang, tergantung sudut pandang orang dari mana dan tergantung siapa yang memandangnya.

 Yapss pasti akan ada yang mengatakan hidup kita ini baik, tapi juga banyak yang bilang kehidupan kita begitu buruk, bisa juga ada yang memandang bahwa hidup kita biasa saja, bahkan mungkin ada yang bilang kita luar biasa.

Jadi sebenarnya apapun perkataan mereka tidak akan berpengaruh pada kita, terserah kita mau ambil yang mana. Bolehlah sesekali kita ambil pujian untuk memotivasi dan kita ambil hinaan untuk introspeksi. Tetapi, jika banyak cacian yang dilontarkan tanpa ada bantuan, yasudah jangan dengarkan!!!

Hem hem hem memang terkadang kita lupa bahwa dunia itu sementara. He apapun yang kita lewati pasti akan lewat, mungkin kita sekarang sedih, kita galau, kita merasa dikucilkan tapi semua itu akan lewat.

Kita juga boleh bahagia, bersenang-senang, kaya, mendapat hadiah, cantik, pintar tapi ingat, itu semua juga akan lewat. Waktu terus berjalan, akan ada masanya orang-orang baru yang mengungguli kita dan akan ada orang-orang baru yang membantu kita berjaya.

Sekarang kita coba anggap, ada 2 sampah di dunia ini yaitu; hinaan dan pujian. Keduanya hanya sebuah prasangka orang lain dan belum tentu ada pada diri kita karena sejatinya hanya kita sendiri yang tahu bagaimana jiwa kita sebenarnya.

Untuk itu jangan pikirkan pujian apalagi hinaan, ya tapi tadi sesekali kita boleh mengambilnya untuk pelajaran.

Mereka yang merendahkanmu itu bukan urusanmu, seperti judul bacaan ini. Siapapun mereka, setinggi apapun ilmu mereka, sebanyak apapun harta mereka, ketika merendahkanmu tanpa membantumu kamu punya hak untuk tidak mendengarkannya, mereka yang merendahkanmu whatever, bahasa jawanya: sak karepmu.

Untuk membuat hati kita kuat dari berbagai cacian ada beberapa pertanyaan simple, mengapa kamu memikirkan hinaan itu ? apa tidak ada kegiatan lain ? apa kamu tidak melakukan hal-hal bermanfaat untuk manusia lain ? kalau tidak ya jelas saja, bahkan orang yang menghinamu dengan candaan lucu pun kamu akan memikirkannya.

Ayo cari aktivas sebanyak mungkin, berlatih berfikir untuk masa depan setinggi mungkin, beribadah serajin mungkin dan pikirkan ibu bapakmu sebelum mereka tiada.

Kalau kamu sudah melakukan itu semua, yakin masih sempat memikirkan pujian orang? yakin masih ada waktu dengerin hinaan tikus-tikus lucu. Hem, sepertinya tidak akan!

Sekarang coba kita bayangkan, untuk membuat sebuah karya dan berusaha bermanfaat bagi segelintir orang pun membutuhkan tenaga, pikiran,  dan materi yang tidak sederhana. Apalagi melakukan banyak hal di berbagai bidang yang disebutkan. Pasti minim sekali waktu, guna memikirkan hinaan.

Selain itu agar kita menjadi orang kuat sejatinya harus diproses terlebih dahulu, memang harus dihina agar kita berfikir, kita harus berlatih sabar dan percaya bahwa  hinaan itu tidak akan berlangsung lama.

Tanah saja yang awalnya lembek, bisa dibuat menjadi apapun, disentuh siapapun, dan berada dibawah untuk diinjak saja,  bisa menjadi sebuah genteng yang keras, tahan panas, tahan hujan, bahkan berada diatas yang lain.

Itu juga melewati proses panjang kawan, mulai dicampur air, diinjak-injak, dicampuri segala bahan, entah manis atau pahit yang harus diterima, setelah itu dipanaskan dan masih berlanjut dengan dibakar, bisa dibayangkan tuuu gimana sengsaranya.

Jadi entah itu merangkul atau memukul, menghina atau membina, menyayangi atau menyaingi, ramah atau marah semua yang datang kepada hakikatnya untuk mendewasakan kita dan yang terbaik menurut Allah SWT.

Ketika sekarang kita masih gagal, ingat masih ada hari esok. Selama tangan masih bisa untuk makan, kaki masih bisa untuk berlari, kepala masih bisa berkaca , lakukan hal-hal yang bisa kamu lakukan, karena semua tidak ada yang sia-sia. Good luck for you!!!!!

Note: Opini penulis guna mengisi kegabutan dan berharap bisa menjadi teman bagi orang-orang yang merasakan demikian♥️