Djonaha hidup dengan realitas pemahaman bahwa membaca itu pekerjaan membosankan. Bikin ngantuk. Tetapi, menurut cerita Pandita Gereja di kampungnya, sebagian orang ada juga yang candu membaca. Bahkan ada bahasa Jerman untuk jenis kecanduan membaca ini, Lesesucht. Dengan segala tetek indah dan bengek jorok hal membaca, Djonaha akan tanpa pamrih sepakat, membaca itu jendela pengetahuan.

Dunia yang tiba-tiba tambah sangat menjengkelkan ketika tahu seorang anak bernama Djonaha ini bercita-cita besar jadi pemulung. “Bebas merdeka!” katanya membalas mata kelam dunia di malam bersabit. 

Bebas jalan ke sana dan ke sini serta tiada setan peduli. Pemulung?! Kerut awan hitam di langit, serupa kerut kulit dahi setiap manusia berpikir, seakan bertanya. Sebab ada jenis pekerjaan yang menyamai hak Tuhan. Hakim. Djonaha suatu waktu tentu akan paham kalau ternyata ketidaktahuan itu benar berbahaya. Mencelakakan.

Sore ini Djonaha sedang membaca beberapa lembar koran bungkusan gorengan, tempe dan tahu goreng yang dibelinya di perempatan jalan, dekat lampu merah berdurasi 120 detik. Koran yang adalah salah satu media sumber berita dan informasi yang konon adalah pondasi yang harus ada di negara yang berdemokrasi. Tahun ini ada beberapa headline koran yang sangat menarik minat banyak pembaca, dari rakyat gembel yang dipelihara negara hingga pejabat negara yang memeliharanya. 

Kembali ke pembungkus gorengan, yang dibaca Djonaha. “Begoe Times,” demikian nama korannya. Berita tentang dihadapkannya Nyona Nuril, seorang pekerja sekolah kejuruan (PSK), dengan kelas ekonomi kategori “tak miskin tak kaya” dihadapan majelis hakim agung di ibu kota negara. Tercurahkan imajinasinya pada percakapan majelis hakim agung dan tersangka Nyona Nuril, berumur banyak tahun, punya seorang anak polos tak berdosa. 

Imajinasi percakapan ini, sempat terbayangkannya akan mirip dengan percakapan "Elly" dihadapan persidangan di Bandung, PSK betulan, yang pernah ditulis almarhum Tuan Mahbub Djoenaedi. Dahulu waktu pernah dibacanya. Ternyata sama sekali bukan! Melenceng jauh.

“Dimana kamu tinggal?” tanya hakim yang bertelinga lebar.

Di rumah KPR Subsidi Bank Tabungan Nagara,” jawab Nyonya Nuril dengan suara dikuatkan.

“Lhooo, kok bisa?”

“Saya pendapatan dibawah UMR majelis, jadi saya berhak.”

“Apa agamamu?” tanya hakim kedua yang rambutnya botak di bagian kiri saja.

Kerudung saya, seharusnya bisa menjawabnya,” jawabnya tegas.

“Kalau begitu kenapa kamu menyebarkan percakapan mesum itu?

 “Biar dunia waspada!”

Tak paham kamu undang-undang ITE?”

UU ITE melarang menyampaikan kebenarankah Yang Mulia?

 Majelis Hakim saling pandang.

Juru tulis media sigap mencatat detil–detil percakapan untuk dikisahkan lebih dramatis dan bombastis.

Seorang hakim di sebelah si jidat luas, yang berjenggot panjang hidung besar berbisik, seperti mengingatkan.

Si Nyonya Nuril ini di pengadilan negeri sudah diputuskan tidak terbukti bersalah, tetapi kiranya ada pesan wanti-wanti, kasusnya ini bisa jadi preseden buruk bagi seluruh pejabat mesum, bos-bos mesum, dan mesumer-mesumer lain se Indonesia.

“Apa kamu mengaku salah menyebarkan sadapan illegal mesum yang menjatuhkan citra si Tuan Kepala Sekolah?” tanya hakim yang berbisik itu tadi.

“Tidak, saya tidak salahTuan Kepala Sekolah itu yang penjahat bukan saya.

Sesudah jawab–jinawab itu, majelis hakim yang berjumlah 3 orang melakukan voting putusan karena semua tidak satu – ia kata. 2 berkata ia menyatakan bersalah dan 1 lagi berkata tidak ia. Tiada musyawarah mufakat. Mayoritas selalu pemenang.

Diakhiri ketok palu. Nyonya Nuril dihukum! Dijatuhi penjara 6 bulan, denda Rp.500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Nyonya Nuril kalah telak dihadapan para hakim. Setiap masyarakat hanya bisa menilai, termasuk Djonaha.

Di lembar lain koran, yang bulan Mei, di bawah berita tentang korupsi triliunan e-ktp ada lagi berita persidangan dengan tertuduh Tuan Hokcil. Tuduhannya membunuh Tuhan! Diberitakan ditonton oleh khayalak ramai, seriuh orang sekelurahan menikmati hiburan tong setan di pasar malam. Percakapan dalam ruang sidangnya juga memaksa imajinasi Djonaha berkreasi. 

Kalau alur yang ini, mirip alur drama yang tidak pernah ditayangkan dalam karya alm. Pramoedya Ananta Toer berjudul "Max Havelaar". Djonaha suka betul percakapan itu.

“Inilah dia lelaki yang menista Tuhan itu!” buka seorang jaksa. Jaksa ini pastilah ditiap dada kirinya ditatoi dengan wajah Baharuddin Lopa, si pendekar hukum itu, imajinasi Djonaha.

“Dia bersalah! Harus dihukum mati seperti Socrates yang sok berintegritas! Bagaimana cara dia membunuh?” tanya hakim.

“Dia mutilasi dan taburi asam dan garam di tubuh Tuhan!

“Benar–benar terkutuk!”

“Yang Mulia, saya tidak membunuh; Bagaimana bisa saya melakukannya? Saya bahkan memberi orang miskin yang meneladani Nya; mulai makanan murah bergizi, pakaian, pendidikan, kesehatan, rumah ibadah dan merawatnya. Saya menghormati-Nya. Saya bisa memanggil saksi – saksi yang akan membuktikan bahwa saya lelaki baik dan terhormat, dan bukan pembunuh,” jawab lelaki itu.

“Kau harus dihukum! Kau memperberat kejahatanmu dengan keangkuhan. Tidaklah pantas bagi orang yang duduk di kursi pesakitan itu untuk menganggap dirinya tidak bersalah dan bahkan… terhormat,” tegas ketua hakim.

“Tapi, Yang Mulia…”

“Bersalah dan tiada ampun! Kau mutilasi hingga ke tulang–belulangnya. Kau asami dan garami seperti membumbui Gurami asam–manis, dan kau terlihat puas tiada sesal dengan perbuatanmu. Dua tuduhan primer dan satu subsider dan semua tuduhan itu sangat meresahkan umat manusia.”

“Siapakah kau wahai perempuan renta?” tanya hakim menanyakan perempuan di antara keramaian yang dari tadi berdiri terdepan.

“Saya Tuhan,” jawab perempuan itu.

“Syukurlah! Lihat, Yang Mulia. Dia baik – baik saja.” ucap si lelaki.

Jaksa hanya terlongo – longo.

“Hmm! Ya… ya…! Sepertinya begitu… Bagaimana dengan bagian pengasaman dan penggaramannya?” tanya hakim.

“Tidak Yang Mulia, tidak ada, justru… dia lelaki terhormat!”

“Yang Mulia mendengar sendiri, Dia sendiri yang mengatakannya,” tambah si lelaki tertuduh.

“Huuuh! Kamu harus dihukum! Tuduhan ketiga masih berlaku, bawa pergi dan segera tahan lelaki ini!”

Jaksa yang baru sejenak sadar dari terlongo–longo sebelumnya, kembali dilongo–longo putusan hakim.

Djonaha melalui jendela koran, kemudian mengetahui. Hakim–hakim yang terhormat telah memutus nasib Nyonya Nuril dan Tuan Hokcil. Hakim yang Djonaha tak sangsikan kejujurannya dan integritasnya, karena mereka kepanjangan tangan Tuhan yang maha adil. Majelis hakim itu, tiada takutnya hingga rela mati untuk keadilan, pasti sama seperti Syafiuddin Kartasasmita yang dieksekusi Ibrahim. Sogokan dan iming–iming harta, wanita dan tahta tidak mempan untuk mereka. Djonaha pernah dengar kisah Kartasasmita dari penjual VCD ber-genre 17 plus di Pasar Senen.

“Kalau majelis hakim yang memutus nasib Nuril dan Hokcil ini?” tanya Djonaha dalam hati.

Berita koran terbaru, laporan kepada polisi, hal pembunuhan Tuhan kedua kalinya di tahun ini. Calon terdakwanya, Nyonya Grace. Nyonya Grace dibacanya sekilas, kokoh merasa tidak bersalah. Tidak sudi lagi Djonaha lanjutkan untuk baca, saat itu. Imajinasinya sudah diambang batas untuk berkreasi. 

Toh, terlapor Grace belum sampe ke pengadilan. Bisa tambah pening menerka. Disimpannya koran terbaru itu di balik belakang celana pendek merahnya. 

Djonaha tersenyum. Lengkungan kecil di bibirnya, yang kali ini, setiap setan harus perduli.