Ketertarikan lelaki pada perempuan tak selalu berujung kompleks dengan harapan,seperti siklus alamiah yang banyak meyakini sebagai takdir. Walau tak semua, Tapi demikian berandal itu mengimani. Baginya, begitulah orang-orang mengkalim sakit dari luka atas kenyataan pahit yang ditemuinya.

Pada secangkir kopi lelaki itu berdalih, “Aku mencintaimu!” katanya. Ia menjawab, kopi, senja, pelangi dan hujan. Adalah kata-kata yang terlalu usang dan kaku, aku muntah-muntah dengan itu, muak. 

Tulis lelaki sialan itu pada akun instagramnya, lengkap dengan gambar monokrom sebuah mawar terlihat layu. Pikirannya kakcau, antara jatuh cinta dengan ideologi radikal yang dianutnya, membuat dirinya jengkel pada kebijakan pemerintah yang kacau. Antara cinta dan ingin berontak ia menulis tak teratur.

Ada emas digali dari kubangan lumpur beserta kotoran, ada berlian pada kedalaman laut yang tenang, ada-ada saja ketenangan selepas melewati deretan panjang sebuah derita. 

Tapi kenapa? 

Kenapa? 

Kenapa kita tak pernah ada di puncak bahagia walau risau bergejolak, gelisah mencabik dan masalah terus menggerogoti, telah dilewati  pula.

Selang sajak asmara, ia menulis lagi genre perjuangan, kritik sosial. Di lain sisi ia dibebani pajak negara, terkoyak kerinduan orang tua dan ingin sekali membuat semuanya baik-baik, seterusnya.

Ibuku selalu menanam padi dari butiran keringat, sementara ayahku memanen asa di kepala anak-anaknya. 

Aku yang brengsek ini lalu lihai menetek di dada perempuan, semacam kutukan: siapakah yang paling sakit?

 Berpeluh kesah dalam benak, ia mencoba mengingat-ingat perilaku perempuan di sekelilingnya, ia mengejek.

Aku adalah bara mengelupas bedak dan melalap bibirmu, terbakar. Lapisan tebal kimia di badanmu sia-sia, lelaki butuh kepuasan, sebab itulah perempuan merusuk menuntut kepastian.

Aku berdoa kepada Tuhan agar menciptakan segala kesepian ini untukmu, seorang. Diam-diam aku menyelinap menghadiahimu kembang api, tiba-tiba semua menjadi hari ulang tahunmu, seterusnya.

Kau selalu minta hadiah cokelat, aku balas kau kecupan dari bibirku yang belum sempat kuberi warna.

Sambil menulis, pikirannya mengalir. Sayangnya tak terarah, benar-benanr acak ingatannya. Ia mencoba menikmati khayalannya semasa di tanah rantau dahulu, sebelum ia jatuh cinta dan ditolak mentah-mentah di kampung tempatnya ia melanglang buana.

Semasa kecil aku pikir Jakarta adalah kombinasi surga bernuansa modernitas dengan pemimpin yang belagak pikun, pura-pura tuli tapi doyan korupsi. 

Aku pikir, aku salah. 

Pemimpin kita baik, negeri ini maju, kita lah yang buruk dan selalu terbelakang. Sebab, kita ditakdirkan menunggu sebuah kehancuran.

Merenungkan hilangnya martabat manusia di bumi, lelaki itu menganggap sebuah kewajaran jika semua selesai, atas harapnya pun berlaku sama terhadap sosok perempuan yang diidamkan.

Tak ada luka yang menganga, sakit sudah sebelum binasa. Kita warga negara, lebih mudah berdamai dengan maut dari pada mendapat hak dari negara, kita miskin, dikuras, disiksa, saudara-saudara kita dibunuh, ditembaki di kepala, negeri ini renyah bagi penguasa dan kami sampah dibuatnya.

Ia berusaha mendalami batinnya, untuk percaya. Bahwa dirinya benar-benar hidup. Terus menulis tanpa kesinambungan, ia tak peduli. Baginya apapun harus ditulis, sejarah bukan hanya tentang kebaikan tetapi perilaku buruk dan tragedi paling biadab pun sudah selayaknya jadi sejarah.

Banyak orang menolak percaya, pernah dipatahkan, dalam segala harap ia terbuai, lalu lepas dan lenyap segala raga, menuai ragu.

Tetapi, untuk apa kakta-kata? 

Untuk apa kejujuran? 

Untuk apa puisi? 

Untuk apa semua ada? 

Bila diam juga berarti mati.

Suatu keheranan yang dimaklumi oleh lelaki tersebut adalah stigma yang melekat dalam benak sekelilingnya. Jika ada yang melakukan banyak hal dari kalangan masyarakat kecil, tak ada nilainya. 

Sebaliknya, bila hal kecil dilakukan oleh pejabat atau bangsawan, maka langsung dijamu pujian, dipandang mulia nan terhormat.

Mengapa akar menopang segala pohon, tapi kita yang lunak ini begitu pongah?

Pejabat-pejabat itu hanya memberi setetes keringat buas pada anak terlantar, dari perselingkuhannya dengan beberapa pelacur kota. Tapi kamera menganggapnya bijaksana. Sementara protes kita yang nurani ini, dianggap berontak.

Hidup memang gila. Tapi ia menolak takluk pada kenyataan tersebut, berusaha melawan dengan cara paling sederhana: Itulah membuatnya selalu menulis.

Selama kehormatan masih berkutat pada penampilan, sejauh itu selangkangan mengungguli percakapan sebagai santapan populer setiap pagi.

Tulisan-tulisannya menjejali layar komputer di hadapannya, sementara perempuan dalam kepalanya terus menari-nari. Tak bisa ia tampik, segala sumber inspirasinya berasal dari senyum simpul perempuan yang dikaguminya, walau ditolak berkali-kali membuatnya patah, tapi ia tetap tumbuh.

Sendiri bukan berarti mati, ditinggal tak mesti sepi. Hidup tak se*su itu.

Tulisnya lagi dan lagi. Kata-kata tak hentinya ia produksi, semacam mesin yang tak pernah kehabisan bahan bakar dari alam. Mungkin itulah sebab, ia menamai perempuannya sebagai semesta.

Berandal itu berharap perempuannya tak berubah sikap, polos dan alim. Agar jatuh cintanya giat tumbuh, seperti inspirasinya terus mengalir.