Di meja kecil berwarna putih, duduk seorang laki-laki berusia 25 tahun yang memiliki panggilan "si Monyet". Ia tengah mengaduk-ngaduk bubur putihnya dengan sendok perak di tangannya. 

Panggilan monyet yang disematkan padanya bukan tanpa cerita dan juga bukan karena parasnya yang seperti monyet. Tidak-tidak. Bahkan sebaliknya; ia memiliki wajah yang tampan dengan mata biru, hidung mancung, dagu lancip, rambut cepak dan bulu-bulu tipis di sekitar pipinya. 

Dengan kesempurnaan itu, seharusnya ia mampu menaklukkan puluhan hati perempuan. Namun hingga sekarang tidak ada yang satu pun perempuan yang ia dekati dan mendekatinya.

Si Monyet mendapatkan panggilan monyet karena kisah tragis keluarganya tersebar di mana-mana. Kurang lebih 10 tahun yang lalu, kota Depok atau tepatnya di kampung Anggrek digemparkan berita duka sekaligus sesuatu yang tidak mampu mereka percaya. Mereka mendengar ada sepasang suami-istri yang dibunuh oleh seekor monyet. Kabarnya, sang Ayah adalah seseorang tukang monyet keliling atau seseorang yang mempertontokan atraksi seekor monyet.

Kehidupan keluarga yang bergantung pada penghasilan sang Ayah memaksanya untuk bekerja lebih keras dengan cara memaksa monyetnya untuk bekerja tanpa henti. Dalam sehari, ia dan monyetnya bisa bekerja hampir 18 jam dengan berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain.

Hingga tiba di hari itu, hari di mana para warga kampung Anggrek merasa heran dengan raut wajah monyet yang terlihat sangat kelelahan, bahkan warga setempat malah merasakan iba terhadap monyet yang seakan-akan meminta tolong pada mereka agar diberi air dan makanan. Setiap kali monyet itu merasa tidak mampu bergerak lagi, sang Ayah akan memicut punggungnya atau menarik rantai yang terikat di leher monyet itu.

"Pak, kasih dulu monyetnya minum, kayanya sakit tuh," celetuk salah seorang ibu rumah tangga yang tengah mengenakan daster sembari menyuapi anaknya yang berusia 2 tahun.

"Iya, Pak. Coba bapak berhentiin dulu," timpal warga yang lain.

Perhatian warga sekitar tidak dipedulikan sang Ayah. Ia menggeleng dengan senyuman lebarnya, memperlihatkan gigi-giginya yang sudah hitam kekuningan karena rokok. "Nggak apa-apa. Udah biasa ini mah. Dia memang suka akting aja."

Mendengar ucapan sang Ayah, monyet itu menoleh ke arahnya dengan pandangan kesal dan tajam. Pandangannya tidak lepas dari sang Ayah meskipun badannya bergerak-gerak entah ke mana-mana. Malam ini, rasa sakit yang ia rasakan selama akan kubayar tuntas, geram monyet itu. Pecutan kembali diayunkan tatkala sang Ayah melihat monyet itu memelankan gerakannya dan terlihat tidak semangat.

"Bangsat kau, monyet. Bergerak yang cepat. Pikat semua penonton dengan atraksimu sehingga aku mendapatkan uang yang banyak hari ini. Dewi Ayu telah menungguku di ranjang dengan kedua paha yang terbuka lebar. Aku harus bisa menidurinya malam ini!" bentak sang Ayah dalam hati.

Matahari mulai tenggelam. Sudah hampir pukul enam sore. Sang Ayah tertawa puas ketika melihat pendapatan yang ia hasilkan dua minggu ini telah mencapai target yang ia inginkan. Tentu target itu adalah bayaran untuk selangkangan Dewi Ayu. 

Belum sampai situ, sang Ayah benar-benar sudah hanyut dalam kegembiraan sehingga ia mampu membayangkan bagaimana Dewi Ayu berlutut di hadapannya, membuka celananya dengan pelan lalu mengusap-ngusap burungnya hingga terbang. Sial! Membayangkannya saja sudah membuatku tidak tahan, batin sang Ayah.

Lantunan panggilan Ilahi terdengar di masjid Al-Hidayah. Lantunan itu menjadi tanda untuk sang Ayah agar bergegas ke rumah Dewi Ayu. Karena Dewi Ayu mensyaratkan pada siapaun yang ingin menidurinya bahwa ia bersedia ditiduri saat bayaranya sudah tercukupi dan tatkala orang-orang ramai pergi beribadah pada Tuhan. Ia mensyaratkan syarat pertama karena ia menganggap bahwa dirimu adalah barang yang memiliki nilai. 

Adapun syarat kedua, ia mensyaratkan itu karena ia menganggap bahwa ia telah berhasil mengalahkan Tuhan. Buktinya adalah rumahnya selalu ramai saat lafaz-lafaz suci itu dikumandangkan, berbeda dengan rumah Tuhan yang terlihat sepi. Dari sisi ini, Dewi Ayu merasa ia telah berhasil mengalahkan Tuhan.

Setelah menenggak satu botol Kratingdaeng, sang Ayah menyuruh monyetnya untuk pulang. "Pulang sana! Aku ada urusan penting yang tidak bisa kutunda. Ini menyangkut maslahat kepala bawahku," ucap sang Ayah pada monyet. "Dan berikan uang ini pada istriku!" lanjutnya sembari memberikan selembar uang bernilai sepuluh ribu pada monyet. Sepuluh ribu sangatlah kecil dibandingkan uang yang telah diterima sang Ayah selama dua minggu ini.

Monyet itu menerimanya dengan api yang berkobar di dadanya. Lalu melihat langkah kaki sang Ayah yang hilang ditelan persimpangan jalan. Monyet pulang dengan tangan yang menggenggam selembar sepuluh ribu tadi. Ia melompat-lompat tidak sabar bertemu dengan istri sang Ayah.

Sesampainya di rumah, monyet menggedor-gedot pintu rumah. Pintu itu terbuka meski diiringi dengan decitan yang menyakiti pendengaran. Monyet berlari-lari menyusuri rumah, mencari sang Istri. Semua ruangan sudah ia telusuri, namun ia tidak mendapati keberadaan sang Istri. Tidak! 

Ada satu ruangan yang belum ia datangi; kamar sang Istri. Monyet mendekat dengan pelan. Ia mendengar sesuatu dari kamar itu. Seperti desahan dan erangan dari seorang perempuan. Hingga suara desahan itu semakin jelas saat monyet menempelkan telinganya di badan pintu.

Tanpa basa-basi, monyet membuka pintu itu dan mendapati sang Istri sedang membiarkan seorang preman pasar yang ia kenal dengan julukan "si Iblis dari gua hantu" tengah menciumi paha putih sang Istri. Keduanya terkejut melihat kedatangan monyet. 

Dan dengan sekali gentakan, si Iblis itu menyuruh monyet keluar dari kamar agar ia bisa melanjutkan kenikmatannya. Monyet yang sadar ia tidak bisa apa-apa menutup kembali pintu kamar sang Istri dengan kegeraman dan kemarahan.

Tepat pukul sepuluh malam, si Iblis keluar dari kamar sang Istri seraya menarik resleting celananya. Monyet yang tengah duduk di sudut lantai ruang tamu memandangi tubuh si Iblis yang basah oleh keringat. Dan tanpa satu kata pun, si Iblis keluar dari rumah dan pergi. Beberapa menit kemudian, sang Istri keluar dari kamar seraya mengikat rambutnya dengan karet gelang bekas nasi uduk. Monyet menyambutnya dengan mata yang mengisyaratkan pertanyaan kenapa.

Sang Istri yang menangkap maksud dari pandangan itu, mengeluarkan nada tinggi, "Nggak usah memandangiku seakan aku adalah pelacur!" sang Istri meminum segelas air putih lalu melanjutkan perkataanya, "Kamu pikir aku nggak tahu kalo suamiku sedang menggenjot perempuan bernama Dewi Ayu itu?! Kamu pikir aku mampu hidup dengan kemiskinan ini?!"

Monyet mulai sadar bahwa selama ini sang Istri merasakan tekanan dalam hidupnya.

"Aku bisa bertahan hidup sampai sekarang ya karena aku menjual kemaluanku! Meskipun harganya tidak setinggi punya Dewi Ayu, tapi setidaknya kemaluanku menyelamatkanku dari kematian!" sambung sang Istri. Air mata mulai mengalir dari sudut mata sang Istri. Monyet merasakan setiap butir air mata itu mengandung kepedihan dalam kehidupan yang telah sang Istri jalani.

"Aku hanya ingin bebas, monyet. Aku hanya ingin bebas," parau sang Istri sembari menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tiba-tiba monyet mendapatkan sebuah gagasan untuk menyelamatkan sang Istri dari tekanan kehidupan tanpa sang Istri perlu menjual kemaluannya hanya untuk sesuap makanan. Sang Istri mengusap air matanya lalu masuk ke kamar meninggalkan monyet sendirian setelah ia berkata, "Maaf, monyet. Aku tidur duluan."

Monyet mengangguk. Ia menatap keluar jendela, mengamati bintang-bintang yang menggantung di langit malam ini lalu berkata dalam hati, "Akan aku bebaskan kamu dari dunia ini."

*****

Malam ini bulan tidak muncul. Jarum pendek sudah berbaris sejajar dengan angka satu malam. Monyet berjalan menghampiri kamar sang Istri, membuka pintunya secara perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Dilihatnya sang Istri tengah terlentang menggunakan daster, meski pahanya tidak tertutupi. Lampu remang-remang menerangi kamar ini.

Monyet semakin menipis jarak dengan sang Istri. Ia mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang. Lebih tepatnya ia duduk di samping perut sang Istri. Dengan sekali tusukan, pisau dapur bergagangkan coklat itu menancap di perut sang Istri. Mata sang Istri seketika terbuka lebar. 

Sebelum ia berteriak kencang, monyet menginjak mulut sang Istri dengan kakinya lalu kembali melanjutkan aksinya. Ia mencabut pisau dapur itu dan menancapkannya kembali di sisi perut yang berbeda. Ia melakukan itu berkali-kali hingga ia bingung harus menancapkan pisau itu di mana lagi.

Cukup dengan waktu tiga menit, sang Istri telah menemui malaikat maut dengan ranjang penuh darah. Monyet tersenyum dan berkata, "Kini aku telah membebaskanmu dari tekanan kehidupan."

Saat monyet hendak turun dari ranjang, ia mendengar seseorang membuka pintu rumah. Ia tahu bahwa itu adalah sang Ayah yang pasti pulang dengan keadaan mabuk. Monyet keluar dan menemukan sang Ayah tengah duduk di kursi ruang tamu dengan kepala yang tergulai ke depan. Sang Ayah mampu melihat monyet meski dengan pandangan yang buram.

"Monyet! Ambilin aku minum! Cepetan!" perintah sang Ayah seraya mengipas-ngipaskan tangannya.

Monyet mengangguk lalu pergi ke dapur. Saat ia tengah menuangkan air dari sebuah teko, ia menggerutu, "Kurang ajar! Bahkan dalam keadaan mabuk pun ia masih menyuruh-nyuruhku."

Teringat bagaimana sang Ayah menyiksanya, monyet tersenyum bahagia karena malam ini ia akan bebas dari siksaan itu. Ia tidak akan menjadi budak sang Ayah lagi. Ia akan benar-benar merasakan kehidupan yang bebas. Monyet kembali dengan membawa segelas air putih. Ia memberikan itu pada sang Ayah. Sang Ayah mengambilnya lalu mendangakkan kepalanya ke atas untuk meminum air itu.

Sang Ayah tidak pernah tahu bahwa malaikat maut sudah berada di sampingnya karena tatkala sang Ayah sedang meneguk air itu, monyet meloncat dan menyayat tenggorokan sang Ayah dengan sekali sayatan. Nyatanya sayatan itu merobek tenggorokan sang Ayah. Air putih yang baru ia minum keluar dari luka itu, bercampur dengan darah.

Saat sedang bertarung melawan malaikat maut, sang Ayah menatap mata monyet. "Dasar! A....anak tidak tahu untung!" umpatnya pada monyet. Namun monyet tidak menghiraukan itu, ia malah membantu malaikat maut agar lebih cepat mencabut nyawa sang Ayah. Ia kembali loncat ke pangkuan sang Ayah dan menggorok leher sang Ayah dengan cepat seakan ia menggorok seekor kambing atau sapi yang biasanya ia lihat di Idul Adha.

Buk!

Kepala sang Ayah terlepas dari badannya dan jatuh ke lantai sebelum menggelinding ke dekat pintu rumah. Melihat itu semua, monyet merasa bahagia karena kini dirinya telah bebas dari sang Ayah, begitupun sang Istri. Sang Ayah pun tidak perlu lagi membayar Dewi Ayu hanya untuk memuaskan burungnya karena kini monyet yakin burungnya telah gosong dibakar api neraka.

Tragedi pembunuhan ini tidak akan pernah dilupakan warga kota Depok, bahkan masyarakat Indonesia. Karena saat monyet ditanya oleh hakim di pengadilan perihal motif ia melakukan pembunuhan itu, monyet menjawab:

"Bagi saya kebebasan adalah hak setiap manusia, termasuk saya. Ayah saya tidak memperlakukan saya seperti manusia. Ia memperlakukan saya seperti seekor monyet yang terikat dan harus mengikuti semua kemauannya. Ia menyuruh saya bekerja tanpa henti. Menyuruh saya untuk mencari uang, bahkan dengan cara menjadi manusia bertopeng dan berjoget ala monyet. 

Ayah saya adalah orang yang mempertontonkan seekor monyet, dan monyet itu adalah saya. Ia menganggap saya sebagai seekor monyet yang harus mengikuti apa yang ia perintahkan jika tidak ingin menerima pecutan. Dalam sehari, saya harus menjadi monyetnya selama 18 jam. Ini semua ia lakukan hanya agar bisa memasukkan burungnya di mulut Dewi Ayu!"

Para hadirin yang hadir terkejut mendengar omongan monyet yang terdengar tidak sopan. Hakim pun menegurnya, "Tolong bicara dengan bahasa yang sopan."

Monyet mengangguk, menurut, meski hatinya tidak. Karena ia sadar bahwa dunia bukanlah tempat untuk orang-orang yang lemah dan penurut.

"Lalu jika kamu membenci ayahmu, kenapa kamu membunuh ibumu juga?" tanya hakim.

Monyet membenarkan posisi duduknya sembari memandang sekeliling. Ia tersenyum simpul saat matanya menangkap puluhan kamera tengah menyorot ke arahnya.

"Saya membunuh ibu saya agar ia bebas. Saya merasa kasihan padanya. Ia harus bertahan hidup dengan menjual kemaluannya pada sembarang laki-laki. Saya tidak ingin ada lelaki asing yang dengan mudah dan murahnya memasukkan burungnya di kemaluan ibu saya. Saya tidak ingin harga dirinya jatuh. Maka dari itu, saya membebaskannya dari tekanan hidupnya. Bukankah itu perbuatan yang mulia?"

"Perbuatan yang mulia?" Hakim sangat heran dengan pola pikir remaja di hadapannya. Ternyata di balik wajah tampannya, terdapat jiwa yang lebih bahaya daripada iblis. Jiwa yang menjadi korban penyiksaan.

"Iya, bukankah menolong ibu kandung adalah perbuatan mulia?"

Setelah mendengar semua penjelasan monyet, hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi monyet. Ketukan palu pun terdengar. Monyet bangkit dari kursinya. Bahkan sebelum hakim angkat kaki dari ruang pengadilan. Sebelum monyet melangkah jauh ditemani gerombolan polisi, hakim memanggilnya dan bertanya, "Siapa nama aslimu?"

Monyet memalingkan wajahnya dan tersenyum, "Panggil saja namaku si Monyet".

Semenjak hari itu, masyarakat Indonesia tahu bahwa suami-istri itu tidak benar-benar dibunuh seekor monyet. Mereka berdua dibunuh oleh anak mereka sendiri yang memiliki panggilan "Si Monyet." Sebagian dari masyarakat mengutuk perbuatan si Monyet, dan sebagiannya lagi menyadari bahwa perbuatan si Monyet adalah caranya agar terbebas dari siksaan sang Ayah. Meski caranya salah, namun mereka mengetahu maksud dari si Monyet.

Saat si Monyet tengah mengaduk bubur putihnya, seorang polisi memanggilnya dari jauh. “Monyet! Ada tamu untukmu!”

Tamu itu adalah si Iblis dari gua hantu. Tatapan mereka bertemu dalam satu jalur yang lurus sembari saling melemparkan sebuah senyum, senyuman mengerikan yang tidak bisa dibayangkan.

Dipisahkan sebuah kaca, si Iblis berkata, “Aku datang ke sini untuk memintamu sesuatu.” Tanpa menunggu jawaban dari si Monyet, si Iblis melanjutkan, “Aku memintamu untuk membunuh kedua anakku, si Anjing dan si Bangsat.”