Indonesia sekarang sedang mengalami keretakan pluralitas. Bagaimana tidak, kasus penangkapan mahasiswa di Malang dan Surabaya (Sabtu, 17/08/2019) menyulut api kemarahan berupa aksi unjuk rasa yang digelar oleh sekelompok orang di Merauke dan Sorong.

Bahkan di lokasi titik nol kilometer Malioboro Yogyakarta (20/08/2019), digelar aksi unjuk rasa oleh Aliansi Mahasiswa Papua Yogyakarta. Penyebabnya adalah adanya pernyataan negatif bahwa orang Papua dikatakan sebagai “monyet” (bbc.com).

Penganalogian julukan orang Papua dengan julukan monyet merupakan bentuk labelling bahwa orang Papua adalah sama dengan binatang, yaitu monyet. Terlepas dari tabiat manusia yang jauh lebih buruk dari binatang, kata “monyet” sedikit banyak mengandung stigma terhadap sesama saudara kita orang Papua.

Tulisan ini merupakan narasi pengalaman saya bergaul dengan dua orang perempuan dari Papua. Karena pengalaman, tentu tulisan ini berdasarkan subjektivitas penulis.

Tujuan dari tulisan ini adalah bentuk usaha menunjukkan bahwa orang Papua yang saya kenal adalah mereka yang baik, cerdas, memiliki pengaruh sosial yang baik, taat dalam beribadah, dan dari keluarga terhormat.

Dolly Pince Waine: Perempuan Cerdas & Religius Dari Wamena 

Dia biasa dipanggil Dolly, atau kakak Dolly. Usianya sekitar 30 tahun, warna kulit gelap, rambut keriting, postur tubuh agak gemuk, dan menggunakan kacamata.  

Saya kenal dengan dia ketika satu program dalam kegiatan Belajar Bersama Centre of Social Exellent (CSE) angkatan VI tahun 2018 di Kebumen Jawa Tengah selama 12 hari.

Dalam rentang kegiatan tersebut, kakak Dolly mendapat jatah sekamar dengan saya. Karena sekamar, di sela-sela jam istirahat, kami berbagi cerita seputar pengalaman dan aktivitas masing-masing.

Yang saya tahu, Kakak Dolly bergelar Magister Ilmu Tumbuhan di Universitas Cenderawasih, dengan spesialisasi keilmuwan adalah Hama. Sebelumnya Dolly pernah mencalonkan sebagai anggota DPRD tingkat kabupaten tetapi gagal, tetapi dia punya rencana untuk mempersiapkan pencalonan diri sebagai calon Bupati di daerahnya.

Kakak Dolly berprofesi sebagai peneliti bagian tumbuhan di LIPI, sebuah lembaga non-pemerintah di Papua yang bergerak di bidang penelitian sosial dan alam.  

Kakak Dolly memiliki banyak pengalaman mengikuti event-event nasional maupun internasional mewakili anak muda dari Papua, baik ke Surabaya, Jakarta, Thailand, dan beberapa negara lainnya. Bahkan, sertifikat mengikuti program tersebut ia dokumentasikan di media sosial, baik di Facebook maupun Instagram pribadinya.   

Di dalam kelas, ketika kegiatan berlangsung, kakak Dolly termasuk peserta yang super aktif. Dia selalu memberikan komentar, ide, dan gagasan terkait persoalan sosial yang terjadi di daerah hutan. Sharing pengalaman dan pengetahuan yang disampaikan oleh kakak Dolly dalam kegiatan tersebut selalu menjadi pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut.

Sebagai peserta yang datang dari wilayah Timur, menurutku kakak Dolly diperlakukan “istimewa” oleh peserta. Jika kakak Dolly yang berbicara, maka narasumber, fasilitator, dan peserta yang lain akan menyimak apa yang disampaikan olehnya.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Papua memiliki persoalan yang kompleks. Mulai dari penjarahan hutan besar-besaran, eksploitasi sumber daya alam berupa tambang emas, konflik menggunakan senjata, kemiskinan, persoalan buruknya akses kesehatan, dan persoalan sosial lainnya. Semuanya tenti membutuhkan solusi yang tepat.

Ketika kak Dolly menyampaikan persoalan itu, cara dia menyampaikan persoalan yang runtut dan penyampaian gagasan yang segar berpengaruh terhadap kualitas substansi pembicaraan yang disampaikan. Sehingga ketika kak Dolly yang berbicara, maka yang ada di kepala saya, kak Dolly adalah perempuan yang cerdas.

Hal itu karena apa yang disampaikan oleh Kak Dolly adalah pengetahuan baru yang langsung merupakan hasil saringan pengalaman diri orang Papua. Dan pengalaman masing-masing individu adalah kebenaran mutlak darinya.

Di sisi yang lain, kakak Dolly adalah perempuan Papua baik dan umat Nasrani yang taat. Setiap kali dia akan tidur dan bangun tidur, ia selalu berdoa. Sebelum makan juga berdoa. Bahkan, kak Dolly mengawali aktivitas paginya dengan membaca Kitab Suci (Injil) yang dia bawa dari Papua ke Kebumen.

Saya sebagai perempuan muslim juga mengawali aktivitas pagi dengan beribadah, yaitu melaksanakan salat dhuha dan membaca Alquran. Hampir setiap pagi kami mengawali aktivitas peribadatan pagi dengan bersamaan, taitu saya membaca Alquran dan kak Dolly membaca Injil.

Sungguh saya merindukan suasana yang seperti itu dengan kak Dolly, perempuan Nasrani yang taat dari Papua. Saya melihat makna toleransi dan keberagaman yang sejati dari bilik kecil penginapan di kampung Lemungsur Kebumen Jawa Tengah.

Natalia Tafor: PerempuanTaat dari Kerom 

Natalia biasa dipanggil dengan nama panggilan Lia. Dia adalah perempuan Papua dari Kabupaten Kerom. Di mataku, Lia adalah perempuan yang manis. Warna kulit hitam, rambut panjang keriting, postur tubuh tinggi, dan mata bulat yang indah.

Saya mengenal Lia ketika satu kamar penginapan dalam sebuah program Sekolah Kepemimpinan Feminis (SKF) angkatan 1 yang dilaksanakan oleh Solidaritas Perempuan Nasional di Jakarta tahun 2017 selama kurang lebih 5 bulan.

Lia bergelar sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di Papua. Lia adalah aktivis perempuan di Papua yang bergerak di isu lingkungan dan tanah.

Sebagai pejuang perempuan dari Papua, Lia berbagi pengalaman tentang kehidupan perempuan Papua yang dirampas tanahnya oleh perusahaan kelapa sawit sehingga terjadi pembalakan liar di hutan.

Lia juga bercerita tentang kehidupan perempuan Papua yang berubah manakala pemerintah menggalakkan program tanam padi agar masyarakat Papua beralih makan dari sagu ke nasi beras.

Cerita Lia mewakili persoalan khususnya perempuan dan masyarakat Papua secara umum bahwa Papua mengalami persoalan yang sangat kompleks. Aksi penolakan masyarakat Papua terhadap perusahaan kelapa sawit yang berbuntut aksi kekerasan juga turut menyisakan trauma bagi masyarakat Papua, khususnya untuk Lia sendiri.

Tetesan air mata Lia ketika menceritakan kisah tragis tersebut menyentuh nurani saya bahwa sebenarnya persoalan keluarga Lia dan persoalan rakyat Papua adalah persoalan Indonesia.

Kembali ke cerita tentang Lia.

Sebagai perempuan dari Papua, makanan sehari-hari Lia adalah ubi-ubian dan ketela. Di minggu kedua ketika mengikuti kegiatan di Jakarta, Lia mengeluh sakit perut. Katanya, Lia tidak biasa makan nasi. Akhirnya makanan khusus untuk Lia setiap waktu makan adalah rebusan ubi-ubian. Setelah itu, Lia tidak mengeluh sakit perut.

Selama bergaul dengan Lia, Lia adalah perempuan yang baik dan ramah. Tak pernah saya mendengar dan melihat Lia berantem dengan teman-teman satu program.

Bahkan ketika hari minggu, saya bersama teman-teman Nasrani yang dari Poso, Palu dan Lia dari Papua datang ke gereja untuk beribadah. Lia adalah umat Nasrani yang taat beribadah.

Ketaatan tersebut saya melihat dari aktivitas sehari-harinya yang mana sebelum makan berdoa dulu, sebelum tidur berdoa, bangun tidur berdoa dan rajin beribadah ke Gereja di akhir pekan.

Relasi pertemanan saya dengan orang Papua, yaitu kakak Dolly dan Lia, sesungguhnya menafikan stigma bahwa orang Papua adalah monyet. Sejatinya mereka adalah makhluk Tuhan yang harus dimuliakan derajad kemanusiaanya.

Memperlakukan orang Papua dengan hormat, adil, dan setara dalam semua lini kehidupan menjadi niscaya karena Papua adalah bagian dari Indonesia. Stop diskriminasi terhadap orang Papua.