Dalam media sosial kita dewasa ini, sering kita jumpai penggunaan bahasa slang yang mungkin sekilas asing dan aneh bagi kita. Dalam komunitas game internasional, saya sendiri kerap menjumpai istilah seperti gg, afk, afaik, imo, atau ftw. Banyaknya istilah-istilah baru ini terkadang membuat kita harus mencari terlebih dahulu makna di balik kata-kata tersebut.

Mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya mengapa ada banyak sekali bahasa slang di media sosial atau bahkan ketika kita sekadar chat di Whatsapp ataupun chatroom game multiplayer. Di sini kita akan merefleksikannya dengan menggunakan sudut pandang St. Agustinus.


Menarik Makna Filosofis Pengakuan-Pengakuan St. Agustinus

Ya, tokoh yang saya angkat memang St. Agustinus yang lebih dikenal sebagai Bapa Gereja, orang suci, dan teolog Kristen. Namun, bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menarik makna filosofis dari tulisan-tulisannya dan menerapkannya dalam kehidupan bersama.

Buku I dari Pengakuan-Pengakuan merupakan refleksi dari masa kecil St. Agustinus. Di sana dituliskan masa kecil St. Agustinus dan bagaimana ia merefleksikan tentang kelahiran, pendidikan di masa kecil, dan bagaimana seorang bayi berkembang menjadi anak-anak. Bagian VIII dari Buku I menceritakan bagaimana St. Agustinus merefleksikan dirinya di masa anak-anak belajar bahasa.

Kita bisa melihat dalam tulisannya bahwa bahasa memiliki dimensi internal dan eksternal dari manusia. Pertama-tama kebutuhan untuk berbahasa muncul dari keinginan atau kebutuhan dalam diri seseorang untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan dari orang lain. Inilah dimensi internal dari bahasa. Kemudian, seseorang akan menyerap dari lingkungannya kata-kata yang mampu mewakili apa yang ia ingin ia katakan. Inilah dimensi eksternal.

Kehadiran kedua dimensi tersebut mempengaruhi bagaimana seseorang berbahasa. Seseorang yang suka bermain video game misalnya, akan lebih banyak menyerap kata-kata yang berhubungan dengan video game yang ia sukai karena memang itulah dunia internalnya dan itulah yang ingin ia komunikasikan.

Di sisi lain, lingkungannya juga akan turut membentuk kata-kata apa yang perlu ia ketahui. Contoh pengaruh lingkungan terkait bahasa adalah betapa banyaknya kata untuk menggambarkan tanaman padi dari sejak tanaman hingga menjadi nasi dalam masyarakat Jawa sedangkan di Amerika semuanya hanya memiliki satu ekspresi kata yang sama yaitu rice.

Kedua dimensi ini juga menunjukkan tujuan bahasa yang sebenarnya yaitu sebagai sarana pertukaran ide dan keinginan. Kita akan kesulitan mengkomunikasikan apa yang sebenarnya kita inginkan bila kita tidak memiliki kemampuan berbahasa yang baik seperti halnya kita akan kesulitan untuk sekadar membeli makan di Amerika bila kita tidak menguasai Bahasa Inggris. Inilah pentingnya bahasa.


Refleksi Berbahasa dalam Media Sosial

Seperti yang telah diuraikan di atas, ungkapan-ungkapan dalam media sosial kita sebenarnya juga merupakan pertemuan dari dunia internal kita dengan dunia eksternal yaitu pengguna media sosial lain dan media sosial itu sendiri.

Dimensi internal sebenarnya tidak ada banyak perubahan yaitu tetap apa yang sebenarny ingin kita ungkapkan. Keinginan inilah yang ketika berbentur dengan yang eksternal akan membentuk bahasa di media sosial.

Faktor eksternal pertama adalah media sosial itu sendiri. Media sosial kita saat ini kebanyakan masih berbasis teks. Tidak sedikit orang yang merasa mengetik sebuah teks lebih susah dan lama daripada mengatakan apa yang ingin ia katakan secara langsung. Oleh karena itulah tidak sedikit juga yang kemudian memilih untuk mempersingkat kata-kata yang ia gunakan agar ia dapat mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan lebih cepat. Model kata-kata yang dipersingkat ini sebenarnya juga sudah muncul sejak zaman layanan pesan singkat atau SMS dengan batasan 160 karakternya.

Bahkan bila kita ingin bercerita secara langsung di media sosial, ada aspek-aspek tertentu yang membuat kita perlu membuat video seringkas mungkin. Di dalam Instagram misalnya, kita didorong untuk membuat video di bawah 1 menit karena lebih dari itu seseorang perlu mengklik lagi untuk melihat video secara lengkap.

Faktor eksternal dari media sosial itu sendiri menyebabkan munculnya bahasa-bahasa slang yang sebenarnya merupakan singkatan. Di dalam komunitas game misalnya, orang menggunakan gg atau singkatan dari good game untuk mengekspresikan kepuasan setelah bermain game bersama. Atau dalam kolom komentar orang menggunakan imo sebagai singkatan dari in my opinion untuk menunjukkan bahwa yang ia ketik merupakan pendapat pribadinya.

Semua ini kemudian membentuk dimensi eksternal yaitu bahasa-bahasa media sosial yang digunakan oleh masing-masing komunitas media sosial. Setiap komunitas akan memiliki ciri khas berbahasanya sendiri sebagai bentukan dari keinginan yang ingin diungkapkan sebagai kelompok yang berbenturan dengan fitur atau batasan di media sosial masing-masing. Misalnya, istilah afk atau away from keyboard dalam komunitas game sebagai ungkapan untuk meninggalkan perangkat karena ada kesibukan lain mungkin akan terdengar asing dalam komunitas bukan game.


Tahu Tempat dan Waktu dalam Berbahasa

Seperti saya yang akan terdengar aneh jika menggunakan ungkapan dalam komunitas game ketika saya berkumpul dalam komunitas musik, kita perlu tahu kapan dan di mana kita harus menggunakan bahasa-bahasa tertentu agar maksud yang ingin kita ungkapkan dapat tersampaikan dengan baik. Hal inilah yang terkadang kita lalaikan.

Kita perlu tahu tempat dan waktu dalam berbahasa, khususnya di mana kita perlu menggunakan bahasa formal dan kapan kita cukup menggunakan bahasa informal. Misalnya, tentu saja kita tidak mungkin menulis tugas paper akademik kita dengan menggunakan bahasa informal. Kesalahan dalam menempatkan diri dalam berbahasa akan menyebabkan tujuan dari berbahasa tidak dapat tercapai dengan baik yaitu tersampaikannya dengan baik keinginan dan pemikiran kita.