Apakah para pembaca memiliki teman yang gemar memamerkan gengsinya entah lewat foto-foto atau barang mewah yang sering mereka bawa sehari-hari? Atau, apakah para pembaca memiliki teman yang rela mengikuti trend terkini nan mahal demi menjaga gengsinya dan meraup like di Instagram?

Gaya hidup mengejar gengsi merupakan salah satu fenomena yang mungkin sudah akrab bagi kita. Demi mengejar gengsinya, tak jarang orang-orang menghabiskan banyak uang atau bahkan waktu mereka yang berharga. Mereka beralasan bahwa mereka mengejar gengsi demi mendapatkan kebahagiaan.

Apakah benar gengsi identik dengan kebahagiaan? Bagaimana dengan orang-orang sudah mengeluarkan uang banyak demi gengsi namun pada akhirnya tidak merasa bahagia? Lantas bagaimana cara kita memperoleh kebahagiaan?

KebahagiaanMenurut Aristoteles

Salah satu pemikir pada zaman Yunani kuno yang memikirkan tentang kebahagiaan adalah Aristoteles. Corakpemikiran Aristoteles adalah bersifat teleologis, artinya selalumelihat pada tujuan akhir. Dalam merenungkan tentang kebahagiaan pun,Aristoteles mengaitkan kebahagiaan dengan tujuan hidup manusia.

Bagi Aristoteles, menjadi bahagia (eudamonia) adalah tujuan hidup manusia. Untuk sampai pada tujuan tersebut, manusia perlu hidup dengan menghidupi keutamaannya. Secara sederhana, manusia meraih kebahagiaan dengan menjadi orang yang baik.

Untuk membantu memahaminya, kita ambil ilustrasi sebuah laptop. Kita akan senang bila laptop kitamampu memproses pekerjaan dengan cepat, memiliki baterai yang tahanlama, serta diperkaya dengan berbagai fitur unggulan lainnya. Kita dapat mengatakan bahwa laptop yang seperti ini adalah laptop yang baik karena telah mampu mengoptimalkan seluruh potensinya dan mampumemenuhi tujuannya. Laptop yang baik mampu memenuhi tujuannya sebagailaptop.

Demikian pula diri kita manusia.Aristoteles berpendapat bahwa tujuan kita untuk mencapai kebahagiaan dapat tercapai bila kita mampu mengoptimalkan seluruh potensi kita dan dengan demikian menjadi orang baik. Orang baiklah yang mampu meraih kebahagiaan.

Aristoteles juga mengajarkan bagaimana untuk menjadi orang yang baik yaitu dengan hidup berkeutamaan. Hidup berkeutamaan yang dimaksud oleh Aristoteles adalah hidup yang serba seimbang atau dengan porsi yang tepat, tidak berlebih dan tidak kurang. Misalnya, makan makanan bergizi dengan porsi yang tepat, mengatur jadwal antara kerja, istirahat, dan olahraga agar seimbang, dan lain sebagainya. Bandingkan misalnya dengan orang yang hanya berfokus pada kenikmatan melalui makanan sehingga ia makan makanan enak secara berlebih. Dalam jangka pendek hidup seperti ini mungkin menyenangkan namun dalam jangka panjang gaya hidup seperti ini dapat mendatangkan banyak penyakit sepertidiabetes yang tentu akan membuat orang tersebut tersiksa dan tidak dapat hidup secara seimbang.

Pujian yang Datang Setelah Kebaikan

Aristoteles menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk mengejar kebahagiaan dan bukan melulu untuk pujian dan kesenangan. Lantas, bagaimana dengan orang yang hidup gengsi yang mengatakan bahwa dirinya tidak dapat hidup tanpa likes dan pujian yang ia dapatkan? Dalam hal ini pun Aristoteles sudah memberikan penjelasan.

Kita kembali lagi kepada ilustrasi laptop tadi. Laptop yang bagus dengan banyak fitur unggulan tentu akan dengan sendirinya mendatangkan pujian. Bandingkan dengan laptop keluaran pabrik ternama namun ternyata memiliki performa yang mengecewakan. Laptop yang seperti ini tentu lama-lama akan ditinggalkan karena ia tidak mampu memenuhi tujuannya sebagai laptop.

Demikian pula hidup kita. Seseorang yang baik akan dengan sendirinya mendapatkan pujian dan memang layak untuk dipuji. Misalnya kita lihat atlet-atlet berprestasi. Sepanjang hidupnya ia berlatih dan menjaga pola hidupnya secara seimbang hingga ia berhasil mewujudkan potensi terbaiknya sebagai seorang atlet. Akhirnya, dari hasil kerja kerasnya, ia mampu menjadi atlet yang baikdan berprestasi. Tentu atlet yang seperti akan mendapat banyak pujian dan tentu memang layak untuk dipuji.

Demikianlah Aristoteles lagi-lagimemberikan argumen yang masuk akal mengapa kebahagiaan yang dikejar dengan hidup berkeutamaan merupakan tujuan hidup manusia dan bukan melulu kenikmatan.

Kenikmatan Secara Seimbang

Namun, bukan berarti Aristoteles sama sekali melarang orang untuk merasakan kenikmatan. Kita boleh mencari dan merasakan kenikmatan namun harus dengan takaran yang tepat. Aristoteles menganjurkan agar kita melatih diri kita untuk merasakan kenikmatan dari apa yang baik seperti merasa puas setelah bekerja dengan baik.

Mengapa kenikmatan itu tetap menjadi hal yang penting? Menurut Aristoteles, kenikmatan itu penting karena dapat memberikan motivasi kepada seseorang untuk terus mengejar apa yang baik. Kita dapat menjadi malas makan hingga akhirnya menjadi sakit karena kurang makan ketika makanan sehari-hari yang kita berikan bagi diri kita selalu terasa hambar. Di sisi lain, makanan yang enak akan mendorong kita untuk makan lebih. Demikianlah kenikmatan begitu mempengaruhi hidup kita.

Melihat pengaruh kenikmatan akanhidup kita, Aristoteles lalu menganjurkan agar kita memberikan bentuk-bentuk kenikmatan dengan porsi yang sesuai bagi diri kita untuk memotivasi diri kita. Misalnya, kita sesekali makan di rumah makan yang enak bila kita merasa butuh tambahan semangat untuk mengerjakan pekerjaan kita. Atau, kita merencanakan cuti liburan keluar kota untuk menyegarkan pikiran kita yang sudah penat oleh pekerjaan. Coba para pembaca membayangkan sendiri bagaimana rasanyatubuh dan pikiran setelah sejenak liburan, tentu akan merasa segar kembali untuk melanjutkan pekerjaan bukan? Inilah pentingnya memberikan kenikmatan kepada diri sendiri.

Demikianlah Aristoteles mengajarkan kepada kita bahwa kenikmatan dan pujian bukanlah segalanya. Kenikmatan memang enak ketika dirasakan namun bukan berarti hidupkita melulu untuk mengejar apa yang enak, bukan. Apa yang pantas kitakejar adalah kebahagiaan dengan cara menjadi orang yang baik.Kenikmatan dan pujian ada justru untuk membantu kita agar kita tetap menjadi orang yang baik. Oleh karena itu, gengsi bukanlah takaran untuk kebahagiaan, namun apakah kita sudah menjadi orang yang baik dan dengan demikian memberi makna dan manfaat bagi hidup kita.