Anak muda jangan buta politik. Bila perlu, terjunlah ke politik. Karena anak mudalah estafet politik masa depan dikendalikan. Begitu para pakar politik Indonesia mendorong anak muda mau terjun ke politik. Para pakar politik sepertinya lelah melihat politisi tua yang hasratnya tidak terbendung untuk kembali menguasai eksekutif maupun legislatif.

Pertanyaannya, kalau anak muda yang ingin ke politik, sudah siapkah dengan kondisi politik Indonesia yang begitu transaksional. Pemilihan politik yang seharusnya langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil berubah menjadi permainan uang. Dari tingkat pusat sampai daerah, transaksi politik itu begitu kental. Tidak mengherankan kalau anak muda yang punya kemampuan, memilih menghindari politik. Apa sebab? Berat di ongkos.

Patut berbangga dengan munculnya Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Putra Presiden Indonesia keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu berani menanggalkan karirnya di TNI. Sebuah perjudian yang cukup berani. Banyak pro-kontra mewarnai. Sebabnya tentu saja, lawan Agus adalah petahana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang elektabilitasnya begitu luar biasa.

Di balik majunya Agus, kental nuansa kekuatan Cikeas di belakangnya. Kesepakatan Demokrat, PKB, PAN, dan PPP cukup kencang. Analisis yang muncul kemudian adalah Agus dipersiapkan sebagai penerus Demokrat masa depan. Harus dicermati, apakah majunya Agus ini murni karena panggilan politik atau karena dorongan “syahwat politik” semata.

Mengingat kembali, hadirnya politisi muda ke kancah politik bisa menjadi trigger bagi anak muda lain atau sebaliknya justru memicu apatisme. Di tahun 2016 ada sejumlah politisi muda yang terjerat kasus. Mulai dari penangkapan Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi  terkait narkoba. Usianya menjadi bupati cukup muda, sekitar 28 tahun. Nofiadi adalah putra mantan Bupati Ogan Ilir Mawardi Yahya. Sang ayah memberi jalan yang melapangkannya menjabat Bupati Ogan Ilir.

Sang ayah seharusnya masih menjabat sampai 22 Agustus 2015, tapi memilih mundur tiga hari sebelum penetapan calon Bupati Ogan Ilir di mana Ahmad Wazir akan ikut mencalonkan diri. Politikus Partai Golkar itu mundur supaya tidak menyalahi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 yang menyebutkan setiap calon peserta pilkada tak boleh memiliki konflik kepentingan dengan petahana Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi.

Nyatanya “syahwat” politisi muda Ahmad Wazir Nofiadi tidak terbendung. Sebagai kepala daerah ia malah terjebak dalam penggunaan barang terlarang. Maju hanya mengejar nafsu semata. Muncul istilah melanggengkan dinasti.

Berikutnya ada Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian. Politisi Golkar ini terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Diduga politsi ini menerima gratifikasi. Yan Anton Ferdian menjabat sebagai Bupati Banyuasin setelah berhasil memenangkan pilkada berpasangan dengan SA Supriono.

Sebelum menjabat sebagai salah satu bupati termuda dan memimpin di Bumi Sedulang Setudung, Yan Anton Ferdian pernah menjabat sebagai Anggota DPR-D Provinsi Sumatera Selatan periode 2009-2013. Sama seperti Ahmad Wazir Nofiadi, Yan Anton Ferdian terbukti tidak sanggup mengendalikan “syahwat” sebagai politisi muda.

Tentu saja, kepada Agus Harimurti Yudhoyono semuanya berpulang, apakah politik sebagai panggilan atau hanya mengejar nafsu semata. Politik menjadi instrument menyeramkan bagi anak muda, karena transaksionalnya yang mengerikan. Gaya politisi gaek masih mendominasi.

Seperti diketahui, dalam politik Indonesia tidak ada istilah hitam dan putih. Semua adalah abu-abu, sepanjang untuk kepentingan pribadi atau golongan (baca: partai). Jika arahnya seperti ini tentu saja, politik dalam pandangan anak muda adalah buruk.

Politik Anak Muda Harus Beda

Menurut Harold Laswell terdapat delapan nilai yang dikejar dalam politik yaitu kekuasaan, pendidikan, kekayaan, kesehatan, keterampilan, kasih sayang, kejujuran atau keadilan, dan keseganan. Politisi muda yang baik sanggup mengendalikan delapan hal tersebut tanpa “syahwat”. Politisi muda harus bisa mencari kekuasaan tanpa menyingkirkan.

Tidak perlu mengejar kuasa dengan menjual bualan. Apa yang dikerjakan dan dicita-citakan disampaikan jujur ke masyarakat. Memberi uang kepada masyarakat untuk meraih suara. Transaksional yang sudah dianggap biasa oleh politisi gaek.

Politisi muda harusnya berani menjual keterampilannya. Kemampuan untuk menginisiasi dan memberi contoh bagi anak muda. Membuat gerakan sederhana namun melekat dihati pemilih muda. Menyatukan konsep ini, akan membuat politisi muda tidak fokus mengejar kekayaan.

Yang terjadi, politisi mengejar kekayaan karena berusaha menutup uang kampanye. Gaya transaksional pada pemilih harus diganti. Ini kemudian yang membuat keterampilan yang dimiliki anak muda tidak muncul. Fokus dalam politik hanya mencari rupiah saja.

Konsep politisi muda sebagai pendobrak, cukup berat memang diwujudkan di pusat. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Namun, paling signifikan memulai dari daerah. Para politisi muda menampilkan gaya berpolitik santun nan bersahabat. Tidak berpikir hanya soal kuasa, kekayaan, kebanggaan, dan pikiran pragmatis lainnya. Justru politisi muda sebagai gerbong pergerakan dan perubahan cara pandang anak muda.

Politik dicitrakan sebagai media untuk bertarung ide dan keterampilan. Mengambil contoh di pusat, jarang sekali ada politisi muda yang merangsek ke kelompok-kelompok anak muda setelah duduk di kursi legislatif maupun eksekutif. Mereka sibuk dengan rutinitas dan keseharian.

Sudah sepatutnya politisi muda menebarkan virus politik. Caranya kelompok-kelompok melek politik di kalangan anak muda. Mengajarkan membaca, menulis, dan berdiskusi tentang politik. Medianya tidak usah yang terlalu rumit, bisa melalui media sosial. Rajin membahas isu-isu sentral dan populis.

Jelas, rasanya berbeda ketika anak muda berdiskusi dengan politisi muda. Keakraban dan pola komunikasi berjalan lebih akrab. Selain itu, anak muda lebih diyakinkan bahwa politik itu tidak buruk. Yang buruk adalah orangnya.

#LombaEsaiPolitik