Freelancer
2 tahun lalu · 623 view · 5 menit baca · Politik img_0271.jpg
Dok. Pribadi

Merebut Kembali Ruang Politik Anak Muda

Politik dan anak muda kerap kali dianggap terlalu berjarak. Politik dirasa hanya hidup dalam kamar gelap kekuasaan. Sedangkan anak muda, hidup dengan jalan lain yang menghendaki adanya kesetaraan relasi, kejelasan bentuk, dan konsistensi orientasi. Sehingga, kemungkinan keduanya saling bertemu dalam titik kesepamahaman, seakan mustahil untuk bisa terjadi.

Sebagai kata kerja, politik secara umum dipahami sebagai ikhtiar kolektif yang ditujukan guna menciptakan keteraturan dan kebaikan bersama (public good). Dalam praktiknya, tumbuhlah sebuah institusi bernama negara, di mana setiap individu tunduk dan patuh berdasarkan sebuah kesepatakan yang dijalin menjadi hukum bersama.

Politik sering kali dipahami hanya berkisar pada soal urusan ketatanegaraan: kekuasaan, birokrasi, parpol, legislasi, dan lain sebagainya. Sedangkan, politik secara substansi adalah sebuah peta jalan kehidupan. Politik mengalir di dalam arteri pendidikan. Politik tumbuh dalam upaya mencapai kesetaraan perlakuan. Dan politik hidup dalam bebagai diskursus tentang kemanusiaan.

Pandangan tentang politik yang terlanjur institusionalis di mana subjek negara diletakkan sebagai pusat pembahasan acap kali membuat anak muda gugup dan enggan masuk ke dalam pusaran perdebatannya. Terlebih, ingatan kolektif tentang kehidupan politik yang dibentuk rezim terdahulu, sudah tertanam begitu dalam di tengah memori masyarakat.

Kondisi di atas, secara perlahan namun pasti terwariskan secara generatif ke dalam pemahaman anak muda yang hanya mendapat akses pendidikan politik dari pengalaman akan ketakutan dan apatisme yang sudah terlanjur melembaga.

Konsekuensi dari kondisi seperti itu adalah, terjadinya peminggiran berbagai narasi politik dari panggung perdebatan publik. Sehingga, politik hanya berakhir menjadi sebuah potongan slogan yang dipakai saat menjelang perayaan seremoni elektoral lima tahunan.

Kualitas dan kuantitas sumberdaya informasi, menjadi variabel penting yang ikut menentukan arah pandangan politik anak muda. Konsumsi akan informasi yang kredibel dan berkualitas, akan menjadi nutirisi bagi penyehatan pola pikir anak muda terhadap politik. Meskipun seringkali, masalah kesenjangan antara idealitas politik dalam tataran kognitif, kerap kali bersebrangan dengan kenyataan politik sebagai praktik.

Selain itu, proses internalisasi nilai yang sejatinya diemban oleh agen-agen politik -semacam partai politik- kerapkali gagal guna menunaikan tugas utamanya memberikan pendidikan politik kepada publik. Kondisi ini bisa dilihat dari concern partai politik yang acap kali tidak secara serius menggarap lapangan kaderisasi organisasinya. Yang terjadi adalah, perekrutan kepemimpinan politik yang sejatinya menjadi fungsi partai politik, tidak berjalan secara baik.

Pengisian berbagai posisi jabatan publik, tidak didasarkan pada sebuah proses kaderisasi yang sistematis dan terencana. Namun, proses itu nyatanya dijadikan sebagai lahan basah perburuan rente ekonomi guna mengisi pundi-pundi keuangan partai. Sehingga, pejabat publik yang berasal dari kaderisasi instan tersebut tidak dibekali nutrisi pemahaman akan ideologi partai secara utuh dan menyeluruh.

Sementara, mereka yang terpilih tersebut akan memproduksi berbagai kebijakan politik yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat secara luas. Akibatnya, jangan heran banyak kita temui berbagai kebijakan yang tidak berpijak pada kebutuhan masyarakat yang sesungguhnya.

Menilik dari sejarah, kendati dewasa ini anak muda seakan terasing dan mengambil jarak dari kehidupan politik, peran anak muda sejatinya tidak bisa dikesampingkan dari arena pertarungan politik. Sejak masa perjuangan melawan kolonialisme pra-kemerdekaan, anak muda sudah terlibat secara aktif menjadi katalisator api perjuangan melepas diri dari belenggu keterjajahan.

Ikatan kebangsaan yang diproklamirkan pada Sumpah Pemuda 1928, menjadi saksi historis peran anak muda dalam usahanya membingkai perjuangan politik menuju Indonesia merdeka. Momentum sumpah pemuda menjadi pasak yang menguatkan pengakuan kita atas status ke-Indonesia-an yang berdiri di atas altar kebaragaman.

Tidak hanya berhenti mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Suara-suara muda anak bangsa itu tumbuh bertransformasi menjadi garda terdepan pembela mereka yang tertindas. Tugas moral yang mereka emban, berhasil mengantarkan anak muda yang berasal dari lintas golongan menjadi aktor yang sukses menginterupsi kekuasaan hingga rezim orde lama dan orde baru bertumbangan di fase kekuasaanya yang sudah cenderung absolut.

Peran anak muda dalam lapangan politik lintas generasi seperti demikian, tentu bukan tanpa catatan. Namun, sejarah sudah membuktikan, peran anak muda sangat signifikan menjadi penyambung estafet keberlanjutan perjalanan republik kedepan.

Memasuki babak baru kehidupan kebangsaan yang lebih bebas di era reformasi, anak muda dan politik dinilai sudah tidak lagi berjalan beriringan. Akibatnya, perjalanan laju reformasi dengan demokrasi sebagai kemudinya, dirasa tidak berjalan sesuai dengan tujuan awal.

Selepas euforia kemenangan agenda politik sebelum reformasi, anak muda berjalan pulang meninggalkan jalanan arena tempat mereka dulu berjuang. Berbekal kepercayaan reformis-reformis lain akan melanjutkan perjuangan, anak muda ternyata lengah membiarkan kehidupan politik kembali direbut dan dibajak lilitan oligarki yang sudah berganti jubah.

Kini, selepas dua windu reformasi terjadi, kita kembali diingatkan, jika anak muda yang minim pengalaman, memang tidak mewarisi masa lalu dan lebih memberi haparan menjadi benih masa depan. Namun, anak muda tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa tuntunan. Anak muda harus seringkali diingatkan, perkara perjuangan kebangsaan yang tak pernah mengenal tapal batas akhir pengabdian.

Koreksi atas kealpaan anak muda mengawal laju transisi demokrasi, menjadi pekerjaan rumah yang harus dibayar anak muda lewat akselerasi perbaikan kehidupan kenegaraan. Anak muda harus keluar dari keterasingannya akan masalah bangsa yang nyata-nyata ada dihadapannya. Anak muda harus merebut kembali agenda pembaharuan melalui jalur konstitusional yang sejalan dengan nafas demokrasi.

Anak muda harus sadar sepenuhnya, politik adalah cara terbaik mewujudkan cita-cita yang dibangun terdahulu. Lapangan perjuangan tidak harus selalu berangkat dari labirin suprastruktur politik. Masih terbuka jalan revolusi melalui rel infrasruktur politik yang bisa lebih dekat dengan kehidupan sosial anak muda sekarang ini. Aksi-aksi jalanan harus terus digalakan, berbanding lurus dengan peningkatan kualitas inteletualisme anak muda.

Pengetahuan akan politik yang berkeadaban harus terus direproduksi melalui rahim-rahim intelektualitas di perguruan tinggi. Narasi kemanusiaan harus terus mengisi perdebatan-perdebatan di ruang publik. Sehingga, sendirinya politik dan kemanusiaan akan menjadi bahasa bagi semua. Politik akan menjadi jalan kebaruan, karena politik diisi oleh pribadi-pribadi baik guna mencegah yang terburuk untuk terpilih menjadi pemimpin bangsa.

Setiap zaman melahirkan anak zamannya sendiri. Dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah sangat massif seperti sekarang ini, anak muda harus bisa menyesuaikan diri secara cepat. Berbagai agenda politik yang belum terseleasaikan harus sesegera mungkin dituntaskan. Melalui jangkaun informasi yang begitu cepat bekembang di lini masa, harus menjadi media politik yang efektif bagi anak muda guna menyampaikan gagasannya.

Anak muda bisa menjadi bagian dari kelompok penekan dan kelompok kepentingan yang ikut menetukan arah perubahan. Melalui aktivitas pedampingan dan advokasi di level kebijakan, anak muda bisa secara aktif mewarnai gairah kebijakan publik yang berpihak pada demos sebagai pemilik kedaulatan.

Dewasa ini, transparansi dan akuntabiltas menjadi syarat berjalanya sebuah pemerintahan yang baik. Oleh karenanya, ruang partisipasi terbuka sangat luas untuk anak muda terlibat didalamnya.

Di wilayah lain, seiring tren distribusi kekuasaan yang sudah tersebar merata ke daerah, saatnya anak muda melirik potensi mewujudkan berbagai agenda politiknya melalui jalur demokrasi elektoral di aras lokal. Keikutsertaan anak muda menjadi bagian dari proses rotasi dan regenerasi kepempinan lembaga-lembaga politik, kiranya patut menjadi pilihan, baik dengan menggunakan partai politik sebagai jalan, maupun jalur perseorangan sebagai alternatif pilihan.

Selain itu, anak muda bisa pula mengambil peran sebagai pihak penyelenggara di momen pesta demokrasi lima tahunan. Selain kualitas kontestan, kredibilitas penyelenggara pemilu merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan kualitas demokrasi dan pembangunan politik menuju tahap konsolidari demokrasi di level lokal.  

Kini, saatnya anak muda kembali merebut ruang politiknya. Anak muda harus menuntaskan agenda politik yang sudah dimulainya. Membiarkan kembalinya predatoris kekuasaan mengambil alih laju kendali demokrasi, hanya akan semakin menjauhkan republik ini dari tujuan awalnya menjadi pelindung bagi segenap tumpah darah Indonesia.

Anak muda adalah tumpuan bangsa. Generasi yang berkemampuan untuk membangun kembali puing-puing kebangsaan, yang perlahan runtuh mengancam keberlanjutan kehidupan republik kedepannya.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait