Ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 77 sudah di depan mata, 77 tahun sudah Negara dan Bangsa ini berhasil berdiri dan menunjukan eksistensinya sebagai suatu negara kesatuan yang utuh setelah sekian lama dijajah

Usia yang ke 77 ini tentu bukan hanya menjadi angka yang terukir, namun mengandung banyak sekali lika liku sejarah yang terlampaui. Dalam momentum peringatan hari kemerdekaan ini, Bangsa dan Negara ini perlu menggali kembali, bagaimana kemudian usia yang ke 77 ini diraih dengan bukan hanya peluh belaka, berbagai pengorbanan darah dan derita begitu panjang telah dilalui demi mewujudkan apa yang menjadi tujuan kita “Merdeka”.

Momentum hari kemerdekaan ini, berbagai hiruk pikuk aktivitas semarak bulan kemerdekaan mulai berlangsung. Warga negara kita, penduduk Indonesia sekalian, berdoyong-doyong melakukan berbagai kreativitasnya demi memeriahkan bulan kemerdekaan ini. Hal ini wajar memang, sebab sebagai warga negara yang cinta atas apa yang menjadi tanah air kita, memeriahkan bulan dan hari kemerdekaan adalah salah satu wujud kecintaan kita. 

Bentuknya begitu beragam, semua elemen masyarakat memiliki ekspresinya yang sangat massif dilangsungkan sesuai dengan kondisi dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. 

Misalnya, di kalangan penduduk komplek perumahan kota maupun kalangan desa, kemeriahan semacam lomba-lomba dilingkungan rumah menjadi fenomena yang hampir setiap tahun dipertontonkan, acara yang bukan hanya menjadi hiburan, melainkan semacam ajang bersuka ria secara berjamaah di tengah kenyataan pahit bahwa hidup yang dilangsungkan oleh masyarakat desa dan penduduk komplek pinggiran kota serasa semakin sumpeg dan sulit.

Di lain sisi, di ranah tata pemerintah negara kita, ada juga yang memperingatinya dengan melangsungkan acara kenegaraan seperti rapat tahunan dewan dan pidato yang sarat akan nilai formal. 

Yang menjadi bahan pembahasan pun beragam, dari mulai laporan kinerja instansi pemerintah, capaian yang sudah digapai, sampai panduan panjang bagaimana memaknai kemerdekaan dengan berbagai program kerja pemerintah yang paling dimungkinkan perlu dilakukan guna mencapai tujuan negara disampaikan dengan lantang, casual dan penuh ornamen.

Ada pula kalangan akademisi, kalangan yang mungkin secara posisi dan proporsinya menjadi penengah antara masyarakat bawah dan penduduk kelas atas. Mereka tak mau kalah memeriahkan semarak kemerdekaan ini dengan laku-laku edukatif yang diselenggarakan melalui berbagai platfrom. 

Tujuannya mungkin sederhana, menjadikan ajang kemerdekaan ini momentum menghitung kembali sebenarnya sejauh mana kemerdekaan ini mampu dimaknai dan dirasakan di kalangan masyarakat kita semuanya, namun dalam pelaksanaannya, diperlukan berbagai macam strategi, tupoksi, dan sumber daya yang di sediakan.

Berbagai kemeriahan yang terjadi mungkin menjadi sangat variatif, wujud dan tujuan pelaksanaanya juga bisa jadi berbeda, namun esensi daripada hari kemerdekaan yang kita amini harus sama-sama ditekankan, di mana umur ke 77 tahun kemerdekaan Indonesia memberikan harapan baru, usia yang semakin bertambah semoga semakin matang pula kita sebagai Bangsa dan Negara, yang semakin serius menggapai tujuan utama, tujuan mewujudkan bangsa yang sejahtera dan berkeadilan.

Siapa yang Berhak Merdeka ?

Merdeka, merdeka yang kita pahami dan jalani harusnya bukan hanya menjadi fenomena yang sarat akan hedonisme belaka, merdeka yang hanya berlaku dan memberlakukan momentun kemerdekaan sebagai ajang agenda tahunan, meriah memang, tapi apakah darah dan peluh para pejuang yang dahulu menetes dan terkapar perlu akan hal itu saja ?

Merdeka, merdeka yang kita jalani sudah bisa mewakili peringatan yang rutin memang setiap tahunnya, sebagai warga negara yang selalu penuh optimis akan hadirnya Bangsa dan Negara yang sejahtera kita selalu lantangkan lagu kemerdekaan yang penuh semangat. 

Tapi apakah itu cukup, di kelas bawah tetap saja setelah perayaan ini masih bakal susah payah mengais rejeki yang serasa seret sekali, padahal kewajiban sebagai warga negara sudah selalu dilakukan secara bertahap dan terperinci. 

Minimal, apakah pergelaran semacam ini di kelas bawah cukup berisik untuk menyampaikan bahwa kelas bawah ini butuh juga hidup yang sejahtera dan penuh akan rasa bahagia kepada mereka yang bertanggungjawab atas kesengsaraan rakyat ?. Saya pikir mungkin saja, mungkin kalau mereka mau mencoba mendengarkan, atau sedikitnya melirik lah ke bawah, bahwa ribuan PR justru mangkrak di bertambahnya usia negara kita.

Saya kemudian secara mandiri dan mendalam berpikir keras, bahwa apa sebenarnya makna merdeka, bagaimana kita merdeka dengan sebenarnya merdeka atau memerdekakan sesuatu yang belum merdeka, kalau kemeriahan kemerdekaan kita ini saja masih simpang siur secara kesejatian. Kenapa simpang siur ? yaa sebab sekali lagi, masih banyak mozaik dalam Bangsa dan Negara tercinta ini yang jauh dari rasa-rasa merdeka di hari kemerdekaan ini.

Bagi mereka yang punya pangku kewenangan, merdeka apa lagi yang hendak disosialisasikan dan jadi rumatan hari raya, apakah nantinya semua yang tersajikan itu benar atas apa yang dilakukan, atau apa yang dijanjikan menjadi prioritas bakal tampil jadi bahan garapan yang luwes dan sampai ke titik utama masalah kita ?. Silakan jawab dan semoga ini jadi doa yang makbul karena keikhlasan bapak dan ibu sekalian.

Jangan lagi lah, hanya jadi lewat, berakhir dan muncul di kesempatan yang sama saja, seperti yang sudah - sudah pun kita bisa maklumi kalau hidup kita bakal setidak enak ini, tapi apakah anak dan cucu turunan kita harus rela merasakan hal yang persis hanya karena niat ikhlas bapak dan ibu sekalian melenceng di tengah perjalanan. Kan sudah semua yang bapak dan ibu dapat itu dalam pertimbangan dan hitungan yang pasti, yaa jatah kami agar tidak susah juga jangan diambil secara rakus dan membabi buta juga.

Jangan karena kewenangan, dan limpahan yang begitu merona, mereka yang di bawah ini dilupakan dan bisa jadi hilang begitu saja lewat dalih kurang berjuang dengan tenaga. Bagaimana kita mau sekuat tenaga, jika jaminan hidup layak saja kemudian yang negara harusnya tanggung itu bisa rusak hanya kerena khilaf yang meraup ribuan, jutaaan, dan lebih lagi kas negara. Kalau terus demikian siapa sebenarnya yang berhak merdeka dan wajib dimerdekakan ?



Ihdinas Shirotol Mustaqim, Semoga Allah meridhoi kita semuanya


Satu lagi, merdeka itu kalau bisa bersamamu hihihi