Ini tentang perjalanan panjang seorang anak lelaki yang keras hati dan pikiran. Ia berasal dari kaki gunung Sibualbuali, menelusuri pelbagai sendi dan lorong kehidupan. Ia mencari hakikat merdeka dan cinta yang hilang. Nama anak laki-laki itu adalah Lafran Pane.

Lafran lahir pada 5 Februari 1922 di Padang Sidempuan,Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, dari rahim seorang perempuan bermarga Siregar, istri dari Sutan Pangurabaan. Lafran adalah adik kandung dari penulis dan jurnalis hebat yang ikut memelopori gerakan-gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa itu: Sanusi Pane dan Armijn Pane.

Lafran dibesarkan oleh neneknya. Ibunya, Gonto Siregar, meninggal sejak ia berusia 2 tahun. 

Sebelum ibunya meninggal, keluarga Pane terlebih dahulu dirundung duka, ditinggal pergi kakak perempuan yang paling disayangi sanak keluarga dibandingkan anak-anak Sutan yang lain, Siti Zahra Pane. Lafran hanya tinggal bersama nenek dan kakak perempuannya yang bernama Salmiah Pane. Sedangkan kakak-kakaknya yang lain tinggal jauh di luar Sumatra: ada yang di pulau Jawa, ada yang ikut suami ke Kalimantan, ada pula yang tinggal di Kota Medan.

Semenjak kepergian Zahra, kondisi kesehatan ibu Lafran menurun pelan-pelan sampai di hari Lafran lahir dan bisa merengek. Lafran kecil, yang menurut neneknya lahir tanpa rasa takut, hanya bisa menangis dengan rasa tidak tahu apa-apa di saat banyak orang hilir mudik di rumahnya menengok jenazah ibunya. 

Barangkali ia menangis karena kehausan, bukan karena menyadari dirinya telah kehilangan sosok terpenting dan paling dibutuhkan dalam kehidupan belia hingga dewasanya kelak.

Seperti pada umumnya, seorang nenek yang berusaha menggantikan sosok seorang ibu akan selalu berusaha seluruh tenaga agar bisa memberikan apa pun yang Lafran inginkan, tanpa tanggung-tanggung, hingga membuat Lafran tumbuh dengan semangat yang besar: apa pun yang dia mau harus bisa dia capai. Lafran pun tidak suka gaya hidup yang terlalu ketat.

Ketika usianya memasuki masa kepantasan, berada di batasan tipis antara usia anak-anak dan remaja, Lafran dimasukkan ke satu pengajian kecil khusus anak-anak Sipirok.

"Pas kali kau bawa kopiah dan sarung. Besok aku mau antar dia ikut mengaji. Sudah enam tahun umurnya. Siapa tahu anak kau ini bisa pula menjadi anak alim, seperti Syekh Badaruddin kakeknya juga," ucap nenernya kepada Sutan Pangurabaan yang baru datang menjenguk anaknya Lafran dan membawa oleh-oleh itu.

Keesokan harinya, Lafran yang gagah berkopiah dan menggunakan sarung Bugis pemberian dari ayahnya diantar neneknya pergi ke surau, tempat pertama Lafran mengenal huruf alif, ba, ta, dan belajar ilmu agama dasar lainnya, rendah hati misalnya. 

Hati Lafran penuh riang-gembira, tapi bukan karena ingin cepat bisa mengaji Alquran, melainkan tak sabar punya teman baru yang bisa diajak bermain bersama. Ya maklumlah, namanya juga anak-anak, dunia mereka bukan memainkan keseriusan, tapi keseriusan bermain.

Kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi pada Lafran, anak kecil yang dibesarkan oleh tangan seorang nenek? Lafran suka mengajak teman-temannya bolos mengaji dan sekolah. 

Kebetulan Lafran juga sudah sekolah di HIS Muhammadiyah, Padang Sidempuan. Ia kerap mengajak teman-temannya bermain ke hutan, mencari buah yang sedap-sedap yang bisa mereka santap bersama. 

Kadang pula Lafran dan teman-temannya berkelahi dengan anak kampung sebelah, bahkan sesekali Lafran pun berkelahi dengan temannya sendiri. Meski tubuhnya kecil, ia telanjur lahir dan tumbuh tanpa rasa takut. Badan kecil, badan besar, dia sikat kalau sudah naik pitam.

Si anak suka berkelahi bak petinju itu suatu ketika pulang dengan membawa wajah babak belur. Melihat itu, neneknya yang teramat sayang dan sudah kewalahan menghadapi pola tingkah si cucu, si Lafran, kemudian berkata, "Berkelahi saja kerja kau. Kapan kau jadi anak baik sikit, mau dengar kata nenek."

Lafran tidak punya cara lain menghadapi kemarahan yang mengekspresikan rasa khawatir neneknya itu selain hanya membisu diri.

Tapi makin Lafran tertunduk bisu, telinga Lafran makin dicecar kata-kata. Hingga Lafran bergumam, "seandainya Omak ada...."

Mendengar itu, neneknya langsung memutar wajah ke lain arah, sembari menyeka air mata yang turut tumpah. Mau diapa, Tuhan telanjur memberikan kekuatan pada setiap kata-kata yang keluar dari mulut anak-anak piatu. Bukan cuma nenek, saya pun yang sekadar membaca kisah mereka mata ikut berkaca-kaca menyaksikan Lafran mengucapkan tiga kata itu. Tertusuk di ulu hati, perih dalam kenang.

Hidup Lafran seperti kurang beruntung. Nenek yang menimangnya sejak kecil, yang menyayanginya sepenuh hati, pergi sebelum melihat dirinya dewasa dan menjadi pribadi seperti yang diharapkan neneknya; menjadi anak baik dan alim, seperti kakeknya Syekh Badaruddin. 

Setelah neneknya meninggalkan dunia, Lafran kemudian ikut ayahnya, Sutan Pangurabaan, tinggal bersama istri kedua yang ayahnya nikahi sebelum almarhumah Ibu Gonto Siregar pergi menyusul kakaknya Siti Zahra Pane.

Dan barangkali ini juga faktor lain yang belum saya ceritakan, selain meninggalnya Zahra, yang dulu membuat Ibu kandung Lafran, Gonto Siregar, sakit hingga tidak mampu menggerakkan badan untuk mengurus Lafran kecil. 

Sebenarnya Lafran sudah beberapa kali ke rumah ayah, ibu, dan adik-adik tirinya tinggal. Tapi Lafran kurang senang berada bersama mereka. Ibu tirinya, menurut Lafran, banyak aturan dan suka memarahi Lafran. Lafran sendiri tidak suka diatur dan mudah marah. Marah ketemu marah, menyalalah dunia.

Dari surau, Lafran kemudian disekolahkan Sutan ke sekolah agama berlatar Muhammadiyah. Sutan memang orang terpandang. Selain jadi kepala sekolah, Sutan juga seorang pelopor dan pengurus organisasi Muhamadiyah di sana. Hal itu membuat Lafran dan kakak-kakanya tak sulit mau sekolah di mana saja.

Hidup keluarga Pane cukup mapan, juga bukan keluarga sembarangan di kaki bukit gunung Sibualbuali. Meski petuah Sutan cukup dipatuhi dan Sutan sendiri terbiasa mengorganisasi dan mudah mengatur aktivitas orang-orang di sana, tapi tetap saja sulit bagi Sutan untuk mengubah pola laku anak bungsunya ini, Lafran Pane.

Tingkah Lafran yang tidak suka diatur, mau merdeka sendiri, keras hati, akhirnya membuat ayahnya, Sutan Pangurabaan, ikut merasakan apa yang dirasakan neneknya dulu sewaktu mengurusi Lafran. Bagaimana mungkin Sutan tidak pusing kalau anaknya yang paling bungsu masih suka bolos, keluyuran ke mana-mana, dan berkelahi? 

"Kenapa kau bikin masalah terus. Semua nasihat bagai angin hembus-hembus saja, lewat di telinga kau. Makin diajar, kok makin menjadi-jadi?" tanya Sutan ke Lafran.

Lafran sadar, ayahnya mungkin malu: apa kata orang nanti kalau mengajari anak orang lain bisa, tapi anak sendiri tidak mampu. Sutan pun memukul Lafran dengan lidi. 

"Seandainya Omak adak." Tiga kata itu pun keluar lagi dari mulut Lafran, seketika lidi yang saat itu sedang mengudara di tangan Sutan Pangurabaan pun jatuh tersungkur ke lantai. Sutan terdiam, dan pergi tanpa berkata apa-apa. Lafran, oh Lafran.

Tak berselang lama, kakak perempuannya yang bernama Sitiangat Pane datang ke rumah itu. Ini pertama kalinya Lafran bertemu satu lagi kakak perempuannya. 

Setelah beberapa hari berdebat panjang antara Sitiangat dengan ayah mereka, Sutan Pangurabaan, untuk membawa Lafran dan Salmiah pindah tinggal ke Medan, tak disangka berujung pada perpisahan Lafran dan Salmiah, adik-kakak yang belum pernah terpisah rumah sepanjang hidup. Lafran dibolehkan pergi ke Kedan, tapi Salmiah diminta ayahnya untuk tetap tinggal.

Sebagai orang tua, Sutan merasa bertanggung jawab membesarkan dan memberikan pendidikan pada anak-anaknya. Jika Lafran dan Salmiah tak bisa ditanggung sekaligus, satu di antara mereka berdua pun juga tak mengapa. Paling tidak, ada daripada tidak sama sekali. 

Sutan pun harus rela Lafran berpisah jarak dengan dirinya. Tapi Lafran sendiri tidak terlalu memikirkan ayahnya. Ia lebih memikirkan kakaknya Salmiah.

Meski luka hati harus berpisah tempat dengan kakak perempuan yang selama ini tumbuh besar bersama dengan dirinya, Lafran pun ikut harus bersama kakaknya Sitiangat ke Medan dan melanjutkan sekolah di sana. Baginya, apalagi yang membuat dirinya harus bertahan? Omak dan neneknya yang tersayang sudah pergi menyusuli kakaknya, Zahra Pane, ke hadapan Tuhan.

Dari kaki gunung Sibualbuali ke kota Medan. Inilah awal petualangan menggali jati diri, titik balik bagi seorang anak laki-laki dari kaki gunung Sibualbuali mencari hakikat merdeka dan cinta yang hilang. Di Medan, Sitiangat mendaftarkan Lafran ke sekolah Taman Siswa, sekolah yang terkenal dengan semangat kemandirian bangsa.

Banyak aktivitas di luar jam sekolah dan jauh dari pantauan kakaknya Sitiangat yang Lafran remaja lakoni untuk memahami arti sesungguhnya kemerdekaan diri. Di antaranya: ia berjualan tiket bioskop dan es keliling bersama teman-teman barunya di kota Medan. Artinya, Lafran Pane, anak bungsu dari Sutan Pangurabaan dan Gonto Siregar, masih suka keluyuran ke mana-mana.

Di tempat baru ini, bakat berkelahinya tersalurkan tepat guna dan membuat dirinya terkenal: Setelah dirinya melumpuhkan preman pasar yang suka memalaki anak-anak kecil yang berjualan di pasar, Lafran menjadi pahlawan pasar bagi anak-anak lain. Lafran yang suka menonton tinju di pasar malam sempat belajar tinju.

Yang paling mengagetkan dan membuat saya tak habis pikir adalah anak yang sukanya berkelahi berantakan ini kemudian menjelma menjadi petarung disiplin yang menjuarai turnamen tinju kelas remaja.

Dan seperti sebelum-sebelumnya, Lafran yang memilih merdeka dan tidak suka pola hidup yang ketak masih membuat keluarganya pusing memikirkan suram-cerah masa depannya kelak, terutama kakaknya Sitiangat. Kakak perempuan yang sedang cemas dan menyuruh orang mencari Lafran karena masih suka bolos sekolah, yang sudah beberapa hari belum pulang rumah dan lebih memilih tidur bersama teman-temannya di emperan-emperan toko dan depan bioskop.

Rasanya kalau saya ceritakan semua apa yang sudah saya baca sekarang, itu akan memakan waktu lama. Saya juga khawatir subjektivitas saya mengurangi atau melebih-lebihkan kedahsyatan cerita hidup Lafran Pane yang sudah dinovelkan dan tak lama lagi akan difilmkan. 

Semoga pembuatan filmnya cepat selesai. Kalau tidak, di lain kesempatan, tulisan kisah ini akan saya lanjutkan.