Merdeka !!!

Begitulah pekikan para pendahulu bangsa kita yang berjuang taruhan nyawa demi memperoleh kebebasan. Pekikan yang begitu sarat akan makna perjuangan. Pekikan yang mampu melahirkan semangat yang menggelora untuk sebuah perlawanan terhadap penjajahan. 

Pekikan yang membuat jiwa-jiwa para pejuang seakan tak kenal mati untuk menelan habis penindasan. Pekikan yang menempah harapan yang menyala dengan semangat kemerdekaan. Pastinya pekikan yang kini sudah hampir tak pernah menggaung lagi, alias terlupakan.

Sudah sebuah keharusan bagi kita para penerus bangsa untuk mengetahui sedikit banyak mengenai fakta sejarah negara dimana kita berada. Sudah menjadi tanggung jawab yang tidak terelakkan bagi kita untuk meneruskan amanat dan menyerukan ilham dari para pendahulu kita kepada bangsa dan negara.  

Menjalankan tanggungjawab tersebut dalam volume yang sedikit tidaklah menjadi suatu masalah yang besar dan tak penting untuk diperdebatkan. Hal itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. "Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah," tegas Bung Karno kepada kita.

Pada era revolusi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno, pekikan “Merdeka” seakan memikili makna magis religius yang mampu membakar semangat para pejuang kemerdekaan. Bermodalkan semangat itulah revolusi Indonesia meledak pada 17 Agustus 1945 yang kita peringati setiap tahunnya sebagai hari kemerdekaan republik Indonesia.

Pasca Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, setiap kali orang Indonesia bertemu dengan sesama orang Indonesia pasti akan mengucapkan salam “Merdeka”. Artinya semangat kemerdekaan itu terus mengalir dan menggelora dalam jiwa bangsa Indonesia kala itu. 

Hingga pada akhirnya pekikan “Merdeka” ditetapkan dalam maklumat pemerintah pada 31 Agustus 1945 sebagai salam nasional bangsa Indonesia. Sekali lagi, salam nasional Bangsa Indonesia.

Salam nasional ini resmi berlaku mulai 1 September 1945. Adapun caranya ialah dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan kata “Merdeka”. 

Makna filosofinya yaitu lima jari yang menunjukkan lima sila Pancasila, pundak atau bahu menunjukkan tanggung jawab, dan kemudian teriakan merdeka yang artinya Negara Indonesia hanya dapat berdiri tegak berlandaskan Pancasila bukan oleh ideologi-ideologi lain.

Pekik “Merdeka” menggema di mana-mana kala itu. Semboyan seperti “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” atau “Merdeka atau Mati” juga kerap diucapkan para pemuda dan pejuang, yang menunjukkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Pun demikian pekik “Merdeka” ternyata tak hanya menggema dan digemakan di Indonesia. Bung Karno pernah menggemakan “Merdeka” saat berpidato di negara Singapura.

Pada 1955 sewaktu Bung Karno ingin menjalankan ibadahnya ke tanah suci Saudi Arabia, Bung Karno haruslah terlebih dahulu mendarat di Singapura. Tak lama setelah ketibaannya di sana Bung Karno disambut gegap gempita ribuan rakyat Indonesia yang tinggal di Singapura. Sorak-sorai mengiringi langkah pemimpin besar revolusi tersebut. 

Singkatnya, ribuan rakyat Indonesia tersebut meminta Bung Karno untuk memberikan sebuah wejangan. Bung Karno pun berpidato dengan ciri khasnya dengan retorika yang berapi-api yang selalu mampu menggelorakan jiwa.

Pada saat memberikan pidatonya, acap kali Bung Karno meneriakkan pekikan “Merdeka” yang siapa sangka akan menimbulkan kontroversi oleh media-media di kota singa tersebut. Mereka melayangkan tuduhan kepada Bung Karno bahwasanya Bung Karno terkesan mengompori masyarakat dan dinilai tidak sopan. Para juru berita pun geregetan tak sabar menunggu pendaratan kembali Bung Karno setelah pulang dari Saudi Arabia untuk memperoleh kejelasan.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, Bung Karno selesai melakukan ibadah haji dan kembali ke Singapura. Para juru berita langsung menghampiri Bung Karno dan pada saat itu salah seorang juru berita bertanya, "Tahukah bahwa tatkala Anda meninggalkan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, Paduka dituduh kurang ajar, kurang sopan, ill behaviour, oleh karena Anda memekikkan pekik 'Merdeka!'. Apa jawab Anda atas tuduhan itu?”

Mendengar itu, Bung Karno tersenyum, lalu menjawab, “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu memekikkan “Merdeka”! Jangankan di surga, di dalam neraka pun."

Apa yang kita dapat ambil dari serangkaian peristiwa tersebut?

Di zaman sekarang ini, jangankan memekikkan salam “Merdeka”, mendengar dan mengucapkan kata “Merdeka” pun sudah sangatlah jarang. Kata “Merdeka” seakan tergerus dalam pengertian semu.

Kata “Merdeka” di zaman ini hanya dimaknai dengan bebas dalam artian bebas dalam melakukan segala sesuatu. Bebas menjalankan kemauan sendiri, merampas hak orang lain, bebas mencemooh, bebas menyebarkan paham-paham buruk dan sebagainya.

Lantas apa pengertian Merdeka sesungguhnya?

Pada 1933, Bung Karno menulis suatu risalah yang berjudul “Mencapai Indonesia Merdeka”, dijelaskan bahwa syarat yang pertama sekali dalam menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme adalah kita harus merdeka. Kita bercancut tali wanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme harus merdeka agar supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme.

Oleh karena itu, kemerdekaan adalah syarat yang maha penting untuk menghilangkan kapitalisme dan imperialisme, syarat yang sangat penting untuk mendirikan masyarakat yang sempurna. 

Dengan kata lain, Bung Karno menyebutkan bahwa Indonesia merdeka hanyalah suatu jembatan menuju pengguguran stelsel kapitalisme dan imperialisme yang semata-mata membuat masyarakat Indonesia papa dan membuat segundukan manusia tenggelam dalam kekayaan dan harta. Kita juga ingin merasakan lezatnya buah-buah dari masyarakat kita sendiri.

Saat ini kita sudah menikmati kemerdekaan yang sangat indah itu. Saat ini kita sudah bebas menentukan arah baru negeri ini sesuai dengan jalan yang kita kehendaki tanpa intervensi dari negara-negara lain. Kita tak lagi dijajah tak lagi disiksa, tak lagi ditindas oleh para penjajah.

Merdeka adalah keadaan di mana suatu wilayah bebas menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Merdeka ditandai dengan kondisi di mana dalam suatu wilayah tidak ada penjajahan, penyiksaan, perhambaan, penindasan, perampasan, dan pastinya bebas melakukan apa pun.

Merdeka yang seharusnya adalah bebas yang bukan sebebas-bebasnya melainkan ada suatu aturan (konstitusi) yang mengikat demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan itu. Dalam hal ini Indonesia memiliki konstitusi yang mengendalikan kemerdekaan itu yaitu UUD 1945 dan dasar negara yaitu Pancasila.

Apakah Pekik “Merdeka” masih Relevan sebagai salam nasional di saat ini?

“Merdeka” sebagai salam nasional akan selalu memiliki relevansi di setiap zaman. Salam Merdeka akan selalu mampu membakar semangat dan membuat jiwa-jiwa menyala-nyala.

Tak sebatas membakar semangat, salam merdeka juga dapat menempuh semua batas. Artinya, semua pihak atau golongan mana pun bisa memekikkannya.

Sampai sekarang maklumat 31 Agustus 1945 yang dibuat oleh Bung Karno pada era pemerintahannya belumlah dicabut. Artinya, salam nasional “Merdeka” ini secara yuridis ketatanegaraan masihlah resmi menjadi salam nasional bangsa Indonesia.

Akan tetapi, penggunaan salam nasional ini di muka umum atau kegiatan-kegiatan resmi yang bertajuk nasional sangatlah jarang bahkan sama sekali tidak pernah. Semuanya menggunakan salam agama-agama yang ada di Indonesia yang diurutkan sedimikian rupa.

Hal yang paling kurang mengenakkan adalah adanya stigma yang berkembang yang menyatakan bahwasanya salam “Merdeka” hanyalah salam organisasi tertentu maupun partai politik tertentu. Salam “Merdeka” bukanlah salam untuk seluruh warga negara Indonesia.

Penulis rasa pernyataan tersebut sangatlah keliru, mengingat salam ini masih resmi sampai sekarang dan belum pernah dicopot. Akan tetapi bisa kita lihat sendiri dalam kehidupan sehari-hari, salam ini seakan hilang ditelan bumi dengan berbagai stigmatisasinya. Salam yang membakar semangat para pejuang, menumbuhkan seketika jiwa patriotik dan nasionalisme ini pun nyaris dilupakan.

Salam Merdeka haruslah kembali digalakkan dan digaungkan. Salam merdeka adalah salam yang menyentuh semua golongan tanpa batasan bukan seperti salam keagamaan yang tentunya memiliki batasan-batasan. Salam merdeka adalah suatu salam kebanggaan yang harus terus kita pertahankan dan lestarikan. 

Salam merdeka bukanlah semata-mata salam untuk sapaan melainkan salam yang sekaligus membangkitkan semangat kebangsaan. Salam merdeka adalah bukti bahwa kita akan terus menjaga komitmen untuk terus menjaga keutuhan bangsa dan negara berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan dan tentunya berlandaskan Pancasila.

Merdeka!