Bung Karno, dalam pidatonya di Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, berusaha meyakinkan panitia perihal kesiapan Indonesia untuk merdeka dengan mengatakan bahwa, “di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita!” 

Menurut Bung Karno, tidak bisa menunggu semua urusan beres dulu dan setiap individu sejahtera baru kemudian merdeka. Proklamasi kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju kemerdekaan bagi setiap anak bangsa.

Di bulan Agustus ini, bangsa Indonesia kembali merayakan HUT kemerdekaannya yang ke-75 meski dengan cara yang berbeda. Di usia bangsa yang tidak lagi muda, tebersit satu pertanyaan apakah cita-cita bung Karno untuk memerdekakan setiap anak bangsa telah tercapai?

Mari kita mulai dengan apa itu definisi merdeka. Merdeka adalah ketika seseorang senang melakukan apa yang menjadi kewajibannya, bertumbuh sepenuh potensinya sehingga bisa mencipta karya-karya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta mengerti tujuan hidup dan keberadaannya.

Dari manusia yang merdeka akan lahir karya-karya yang yang membuat Indonesia sejahtera dan menambah daya saing bangsa di dunia. Namun kenyataan berkata lain. Indeks daya saing global (GCI) yang dikeluarkan oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahun 2019 menempatkan Indonesia di ranking 50 dengan skor 64,6, sedangkan Singapura menempati posisi pertama sebagai negara dengan daya saing terbaik dengan skor 84,8.

Fakta di atas juga didukung oleh hasil survei terkini yang dilakukan oleh Cyrus Network pada tanggal 16-20 Juli 2020. Survei ini melibatkan 1.230 responden yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error sebesar +/- 2,85%.

Survei tersebut mengungkapkan beberapa alasan yang menjadi penyebab sulitnya investasi dan memulai usaha di Indonesia adalah produktivitas tenaga kerja yang rendah (60%), skill dan kemampuan tenaga kerja Indonesia yang masih rendah (58%), dan daya saing yang lebih rendah dibanding tenaga kerja asing (57%).

Kenyataan di atas meski menyedihkan namun sudah dapat diprediksi. Salah satu instrumen paling efektif untuk mewujudkan manusia merdeka adalah pendidikan, namun sayangnya sistem pendidikan kita belum efektif menghasilkan sumber daya manusia merdeka yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa. 

Metode Belajar Mengajar di Indonesia

Salah satu faktor penentu kualitas pendidikan adalah guru. Namun, untuk dapat menghasilkan pendidikan yang merdeka guru perlu memiliki kemampuan mengajar yang mumpuni. Setidaknya ada tiga hal dalam praktik mengajar yang menjadi penghambat terciptanya manusia merdeka. 

Hambatan pertama adalah penggunaan metode tipe Lower-Medium Order Thinking dalam mengajar. Taksonomi Bloom, yang digagas oleh Benjamin S. Bloom,  meletakkan kata mencipta di puncak piramida untuk menunjukkan bahwa puncak dari pembelajaran ditunjukkan dengan keterampilan untuk mencipta atau menghasilkan karya-karya original apapun yang menjadi bidangnya. 

Turunan metode belajar dari teori taksonomi Bloom adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS), namun sayangnya metode pengajaran di Indonesia masih banyak menggunakan metode tipe Lower-Medium Order Thinking. Hal ini ditunjukkan oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah survei evaluasi sistem pendidikan yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah.

Hasil PISA di tahun 2018 kembali menempatkan siswa Indonesia di peringkat yang tidak memuaskan dan menunjukkan penurunan hasil di semua kategori dari tahun 2015. Sementara Cina dan Singapura menempati dua posisi teratas. 

Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Lalu pada kategori matematika, Indonesia berada di peringkat ke-7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Sementara pada kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat ke-9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. 

Hambatan kedua adalah digunakannya metode konvensional satu arah sehingga kurang menarik bagi siswa. Temuan dari Uji Kompetensi Guru (UKG) yang tertulis di laman Neraca Pendidikan Daerah (NPD) menuliskan bahwa guru belum memahami dan belum banyak mengetahui teori, metode, dan teknik mengajar.

Akibatnya, banyak siswa merasa belajar sebagai suatu kewajiban yang harus dilalui. Riset fenomena putus sekolah di berbagai kota, seperti Banda Aceh dan Magelang,  mengatakan bahwa motivasi belajar menjadi salah satu faktor internal penyebab putus sekolah.

Hambatan ketiga adalah kurangnya kontekstualisasi dan pemberian pemahaman akan tujuan belajar. Pelajaran akan mudah diserap oleh pelajar apabila difahami sebagai suatu yang relevan dan bertujuan. 

Namun sayangnya, sedikit sekali guru yang menghubungkan konten pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari dan menunjukkannya aplikasinya dalam memberikan solusi bagi permasalahan siswa dan komunitasnya. Akibatnya, banyak pelajaran yang dilupakan begitu saja setelah ujian dan pelajar tidak mengerti bagaimana mengaplikasikan ilmunya dengan menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsanya.

Pendidikan yang Memerdekakan

Indonesia masih memiliki harapan untuk membalikkan tren ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat diterapkan meningkatkan keefektifan praktik mengajar di Indonesia.

Pertama, dengan menerapkan game-based learning atau pembelajaran berbasis permainan. Doug Lemov, dalam bukunya Teach Like A Champion, mengatakan salah satu ciri guru yang unggul adalah mereka yang berhasil menanamkan “J Factor” atau faktor kebahagiaan dalam pengajarannya. Faktor kebahagiaan ini juga yang banyak ditemukan di dalam ruang-ruang kelas di Finlandia seperti yang diuraikan Timothy D. Walker dalam bukunya Mengajar Seperti Finlandia. 

Game-based learning dapat membantu menanamkan faktor kebahagiaan dalam belajar dan membantu pelajar untuk melakukan kewajibannya dengan senang hati. Tentu saja faktor kebahagiaan ini harus mulai dari diri guru, yaitu bagaimana guru memancarkan kebahagiaan dalam segala yang dilakukannya sehingga menular kepada pelajar.

Kedua, dengan menerapkan HOTS dan teori multiple intelligence dalam metode mengajar dan mengevaluasi. Guru memiliki hak istimewa untuk membantu pelajar untuk mengenal diri dan potensinya dengan mengenali berbagai tipe kecerdasan yang dimiliki, serta menginspirasi untuk mencipta melalui ilmu yang dipelajarinya. 

Tentu hal ini harus dimulai dengan guru yang mengenali kekuatannya dan menjadikan inovasi sebagai bagian dari praktik mengajar dan kesehariannya. Dengan demikian, pelajar akan bertumbuh sepenuh potensi dan mampu mencipta karya-karya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Ketiga, dengan menerapkan service-learning (SL) atau pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat. SL merupakan metode pengajaran yang menghubungkan antara konten pembelajaran dengan kegiatan bakti sosial yang memberi jawaban akan kebutuhan di masyarakat. 

Melalui metode ini, guru dapat mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia sejatinya bukan hanya untuk dirinya sendiri namun untuk membawa manfaat bagi banyak orang dan meninggalkan warisan karya dan perbuatan baik yang melampaui usia. 

Untuk melakukan ini guru juga perlu menyadari bahwa mereka berada di profesinya juga bukan kebetulan, melainkan hak istimewa untuk bisa membawa dampak di hidup peserta didik.

Indonesia sudah merdeka, sekarang maukah kita bersama mewujudkan pendidikan yang memerdekakan setiap anak bangsa?