Suwardi Suryaningrat merupakan sosok yang dikenal dengan nyali tinggi dalam melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah. Tulisannya yang berjudul "Als ik een Nederlander was" atau “Seandainya Aku Seorang Belanda” membuatnya harus pergi ke pengasingan di Bangka dan Belanda. Sekembalinya dari pengasingan, ia bertekad untuk mengubah strategi perlawanannya dan berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Bagi Ki Hadjar, kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan akan lebih cepat diperoleh melalui pendidikan. Ia lantas mendirikan Taman Siswa dan menaruh harapan besar agar dari rumah tersebut memancar cahaya yang akan menerangi jagat Nusantara dengan ilmu pengetahuan.

Lebih jauh, tekad terbesarnya ialah menghasilkan generasi yang beradab dan berkarakter, sehat secara lahir dan batin, serta memiliki semangat untuk berjuang membebaskan tanah air dari cengkraman bangsa penjajah. Ia meyakini bahwa jalan menuju Indonesia merdeka harus didasari oleh jiwa merdeka dan jiwa nasional. 

Dalam mewujudkan hal tersebut, Ki Hadjar memiliki empat strategi pendidikan. Strategi pertama ialah terciptanya budaya mendorong siswa agar memiliki jiwa yang merdeka dan mandiri. Kedua, yakni membentuk karakter siswa agar memiliki jiwa nasionalisme namun tetap terbuka kepada perkembangan internasional. Selanjutnya, membangun pribadi siswa agar memiliki jiwa pemimpin-pelopor serta mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat masing-masing siswa.

Budaya nasional seperti permainan rakyat juga sangat dijunjung tinggi pada masa itu. Melalui permainan rakyat, siswa dapat mengembangkan fantasi dan gerak motorik mereka dengan bebas. 

Selain itu, bermain langsung bersama lingkup rakyat sendiri juga dapat membentuk rasa nasionalisme yang didasari oleh sukacita dan cinta kasih kepada bangsa sendiri tanpa disertai kebencian terhadap bangsa lain. Dengan demikian, konsep jiwa yang merdeka juga akan tertanam secara alami.

Penanaman konsep jiwa yang merdeka melalui pendidikan sama halnya dengan mempersenjatai rakyat dalam melawan penjajah. Ki Hadjar meyakini bahwa hanya jiwa yang merdeka yang sanggup memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jika dahulu Ki Hadjar meyakini kemerdekaan dapat dicapai melalui sistem pendidikan yang demikian, lantas bagaimana dengan sekarang ketika Indonesia sudah mencapai kemerdekaan? 

Kebijakan Merdeka Belajar yang baru dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia diklaim memiliki cita-cita serupa seperti apa yang telah diperjuangkan sejak lama oleh Ki Hadjar. Semangat jiwa yang merdeka, baik secara batin, pikiran, maupun tenaga, juga menjadi target utama dalam kebijakan ini.

Bermula dari episode pertama pada Desember 2019 lalu, terdapat empat program dalam mewujudkan Merdeka Belajar. Di antaranya, mengganti sistem USBN menjadi asesmen demi memerdekakan guru dan sekolah dalam menilai siswa; mengganti UN yang selama ini menjadi momok yang menyeramkan bagi siswa; mempersingkat RPP dan membebaskan guru dalam mengembangkan format RPP; serta mengembangkan sistem zonasi menjadi lebih fleksibel demi mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di berbagai daerah.

Tentunya dalam mewujudkan reformasi pendidikan melalui Merdeka Belajar memerlukan proses panjang. Dalam hal ini, jiwa merdeka dalam diri para pendidik juga memegang peranan penting. Seorang pendidik yang memiliki jiwa merdeka tidak hanya terjebak dalam target rutinitas yang harus dicapai di dalam kelas. Namun juga harus dapat berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan suasana kelas yang merdeka.

Dalam bukunya “Teach Like Finland”, Timothy D. Walker menceritakan mengenai bagaimana transformasinya sebagai seorang pendidik unggul memerlukan adaptasi dan proses yang panjang. Perjalanannya dimulai ketika menjadi guru di Amerika di mana ia merasa kewalahan dalam mengajar.

Seperti guru kebanyakan, ia tiba di sekolah pukul 6.30 pagi, pulang malam, dan memastikan rencana pembelajaran sudah tersusun dengan baik setiap harinya. Meski awalnya menyenangkan, pada pertengahan tahun ia mulai merasa gelisah dengan pekerjaannya.

Kegelisahannya mengantarkan dirinya untuk mengenal sistem pendidikan Finlandia. Selama dua tahun mengajar di sana, ia menemukan bahwa beberapa strategi sederhana seperti belajar sambil bergerak, memasukkan musik ke dalam kelas, memasukkan unsur permainan, serta memberi kebebasan bagi siswa untuk memilih dapat menciptakan perubahan suasana yang signifikan di dalam kelas. 

Tak hanya itu, ia juga menyadari bahwa setiap inovasi sederhana yang dilakukan para tenaga pendidik Finlandia dalam mempromosikan proses belajar yang menyenangkan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan sangat baik.

Sejatinya para tenaga pendidik di Indonesia memiliki kewajiban pada ekosistem pendidikan yang lebih besar. Bukan hanya dalam lingkup kelas, namun juga dalam lingkup sekolah dan antar sekolah. Jika para tenaga pendidik saling berkolaborasi dalam menciptakan perubahan-perubahan kecil di dalam kelas, kemerdekaan dalam belajar tentu dapat terwuujud sesuai dengan apa yang telah lama dicita-citakan.

Referensi:

  1. Wiryopranoto, S., Herlina, M. S, P., Tangkilisan, D., Tim Museum Kebangkitan Nasional,. 2017. Ki Hadjar Dewantara "Pemikiran Dan Perjuangannya". Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Walker, T., 2017. Teach Like Finland. Jakarta: Grasindo.