Berapa banyak di antara kita mengenal vulva? Berapa banyak di antara kita masih menganggap vulva sama dengan vagina?

Prancis sedang dihebohkan oleh iklan pembalut bermerek Nana. Iklan yang diberi judul Viva la vulva (Hidup Vulva) ini menampilkan darah merah (bukan biru seperti biasanya iklan pembalut). 

Tidak hanya itu, sesuai judulnya, iklan menampilkan vulva secara metaforik dalam bentuk buah, kue, kerang, spons untuk mandi, dompet koin, boneka.

Nana hendak mengajak masyarakat berhenti melihat menstruasi sebagai tabu dan merayakan vulva, yang banyak di antara kita mungkin belum mengenalnya. 

Vulva ditampilkan dalam beragam bentuk (dan warna), bukan tanpa alasan. Nana bermaksud merayakan keragaman vulva, bahwa setiap vulva berbeda, dan perempuan tidak perlu malu dengan vulvanya.

Pesan yang ingin disampaikan produk Nana tidak diterima secara positif oleh semua kelompok. Iklan ini menimbulkan polemik. Dalam waktu beberapa hari sejak penayangan perdana iklan, lebih dari seribu orang menuntut penarikannya. 

Sebuah petisi di change.org telah mengumpulkan lebih dari 16 ribu tanda tangan. Mereka menganggap iklan sebagai vulgar, menjijikkan, merendahkan citra perempuan, dan membuat syok terutama anak dan remaja. 

Kelompok lain mengacungkan jempol, menganggap ide iklan tidak hanya kreatif tetapi juga realis. Feminis ataupun bukan, mereka memandang penting dan sudah waktunya kita belajar yang real tentang menstruasi dan vulva.

Mereka balik mempertanyakan mengapa iklan dengan perempuan sebagai objek seksual tidak pernah dianggap merendahkan perempuan sedangkan iklan yang menampilkan tubuh perempuan secara realis dianggap demikian? 

Mengapa iklan yang di tahun 2019 ini masih menampilkan peran tradisional perempuan tidak bikin syok? Sementara menampilkan keragaman vulva dan darah menstruasi sesuai warna aslinya membuat heboh? 

Penulis Vincent Lahouze berpendapat bahwa iklan Nana justru mendesakralisasi tubuh perempuan yang sering kali terlalu disembunyikan atau, sebaliknya, terlalu dipertontonkan. 

“Saya lebih syok melihat iklan mobil yang menampilkan perempuan tanpa busana yang tidak ada hubungannya dengan produk,” tulisnya di Instagram.

Penolakan masyarakat terhadap iklan Nana adalah bukti bahwa tabu tentang menstruasi dan tubuh perempuan masih kuat, bahkan dalam masyarakat Prancis yang -katanya- modern dan progresif. 

Sejak kapan vulva menjadi cabul? 

Christian-Georges Schwentzel, dalam artikelnya Sejak kapan vulva menjadi cabul?, menyatakan penggambaran alat kelamin perempuan memang membuat syok, sementara mata kita terbiasa dengan simbol phallus di mana-mana. 

Patung-patung viril memperlihatkan penis banyak ditemukan di taman-taman tanpa orang tua merasa risih membawa anak-anak bermain di sana. 

Jika iklan Nana menghebohkan, produk minuman Perrier yang iklannya hampir selalu bermuatan simbol phallus tidak pernah mendatangkan efek demikian. Hal ini, menurut beliau, dikarenakan penis melambangkan kekuatan sedangkan vulva mengganggu penglihatan.  

Padahal vulva dulunya adalah lambang kesuburan. Schwentzel menemukan teks-teks puitis tentang vulva Dewi Istar yang meminta Raja Dumuzi suaminya untuk membajak vulva (baca: bercinta). Ketika mereka mencapai kenikmatan, pohon-pohon bertumbuh dan bunga bermekaran.

Baru sejak zaman Romawi, vulva dipandang negatif. Phallus sangat dominan dalam karya-karya seni pada zaman itu, sedangkan vulva disensor dan ditiadakan. 

Dewa-dewa digambarkan tanpa busana dengan penis terekspos, sedangkan dewi-dewi hampir selalu berpakaian. Ketika mereka digambarkan telanjang, vulva mereka digambarkan tanpa labia dan klitoris. 

Beliau menganggap iklan Nana menjadi penanda kembalinya vulva di abad 21 ini. 

Vulva yang bebas

Nana bukan yang pertama mengajak kita merayakan vulva. Tahun 2014, Megumi Igarashi atau Rokudenashiko (artinya kira-kira adalah good for nothing) menjadi terkenal setelah membuat kayak berbentuk vulva. Vulva yang ia jadikan model cetakan adalah vulvanya sendiri, yang ia scan secara tiga dimensi.

Ia sempat ditahan polisi karena dianggap menyebarkan gambar pornografi (gambar vulvanya) dalam rangka pembuatan kayak ini. Penahanan polisi tidak menghentikannya untuk berkarya. Puluhan objek berbentuk vulva telah dihasilkannya. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai artis manko (vulva). 

Manga karyanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul What Is Obscenity?: The Story of a Good for Nothing Artist and Her Pussy (2016). Tokoh utamanya si Manko, yang dipenjarakan, dan menuntut kebebasannya. Manko menjadi maskot sekaligus simbol perjuangan artis ini untuk mendemistifikasi organ kelamin perempuan. 

Berbeda dengan penis yang mendapatkan perayaan khusus setiap tahun, organ kelamin perempuan dianggap hina di Jepang karena letaknya yang tersembunyi. Rokudenashiko ingin menunjukkan bahwa vulva tidak nista, ia bagian alami dari tubuh perempuan, ia perlu dibebaskan. 

Adakah vulva yang normal?

Penting bagi perempuan untuk mengenal bagian tubuh yang kecil, tersembunyi, tapi menakjubkan ini untuk memiliki citra diri seksual yang positif dan memahami seksualitasnya. 

Berapa banyak perempuan yang minder dengan vulvanya, tidak berani melihat vulvanya sendiri di cermin, bahkan melakukan labiaplasty dan pemutihan vulva. 

Prihatin dengan masalah ini, Hilde Atelanta, pelukis dan ilustrator, menggagas projek the vulva gallery. Sebanyak 650 vulva yang bervariasi dari segi bentuk, ukuran, dan warna,dapat kita lihat dalam bukunya A celebration of vulva diversity

Tidak ada standar normalitas vulva. Setiap vulva khas dan unik. Hilde berharap perempuan dapat menyingkirkan kompleks atas tubuhnya.

Vulva, untuk kenikmatan perempuan

Banyak di antara kita masih menyamakan vulva dengan vagina. Kita bahkan menyebut labia sebagai bibir vagina. Dalam budaya yang mengutamakan kenikmatan laki-laki, vagina lebih dikenal dibandingkan vulva. 

Nina Brochmann dan Ellen Støkken Dahl*, penulis buku The Wonder Down Under, menyesalkan pendidikan seksual kita yang mereduksi seksualitas perempuan dalam fungsi reproduktifnya ketimbang membahasnya dari fungsi kenikmatan. 

Kata ereksi dilekatkan pada pria (penis), ereksi perempuan (klitoris) hampir tidak pernah dibahas. Padahal klitoris bisa ereksi sebanyak 8x dalam semalam. “Pusat seksualitas perempuan bukan pada vagina tetapi pada klitoris,” tegas dua dokter muda dari Norwegia ini.  

Klitoris adalah pusat syaraf dari kenikmatan feminin. Klitoris dan bagian lainnya dari vulva sensitif hanya dengan sedikit sentuhan, belaian, jilatan. Vagina baru bereaksi bila merasakan efek tekanan, gerakan, dan sensasi “diisi”. 

Perempuan mungkin dapat mencapai orgasme dengan penetrasi vagina, tetapi perempuan pasti mengalami puncak kenikmatan dengan rangsangan pada klitoris. 

Tidak jarang perempuan,setelah melahirkan dengan proses alami, takut berhubungan seksual. Suami yang  “baik” bersedia menunggu istrinya “siap”. Ini karena lagi-lagi kita berfokus pada penetrasi dan orgasme vaginal. Kita mengabaikan bahwa perempuan memiliki vulva yang tidak terbatas pada vagina. 

Ketidakpahaman akan seksualitas perempuan membuat sebagian laki-laki meyakini pasangannya juga mencapai orgasme pada saat yang bersamaan dengan dirinya. Sebagian lagi masa bodoh, berfokus pada kenikmatannya sendiri. 

Suami merasa ditolak ketika istri enggan bercinta. Tetapi bagaimana istri mau bercinta jika ia tidak merasa dicintai pada saat bercinta, jika bukan kenikmatan yang ia rasakan tetapi kesakitan?

Ada pula kelompok laki-laki yang memahami seksualitas perempuan dan dengan senang hati ingin memberi kenikmatan pada istri. Sayangnya, kompleks tubuh dan nilai-nilai patriarkis yang diadopsi perempuan itu sendiri menghambatnya untuk menerima mengalami kenikmatan ini.

Tidak pede dengan tubuh (termasuk vulvanya), terkungkung oleh keinginan melayani suami, perempuan sungkan dan menolak ketika pasangan hendak memberikannya kenikmatan klitoral.  

Sudah saatnya perempuan mengambil alih kepemilikan atas tubuhnya sendiri dan menyingkirkan kompleks akan tubuhnya. Dapat dimulai dengan: kenalilah vulva, bebaskan ia, belailah, sentuhlah, dan cintai dia, dan bersiaplah akan kenikmatan luar biasa yang menanti Anda (dan pasangan).   

*Kedua dokter ini mendekonstruksi mitos tentang selaput dara dan keperawanan (simak TED mereka, the virginity fraud).