Peneliti
2 tahun lalu · 368 view · 3 menit baca · Politik cabeeeeeeeeeeeeeeee.jpeg

Merayakan Pedasnya Cengek di Tahun Baru 2017

Pergantian tahun baru masehi dari 2016 menuju 2017 tinggal menunggu hitungan hari. Seluruh manusia di belahan dunia tengah sibuk menyiapkan agenda kegiatan apa yang akan dilakukan bersama kerabat, keluarga atau rekan-rekan kerjanya nanti. Tempat-tempat hiburan pun sudah bersolek menor dan seksi menyambut kedatangan para manusia yang kehausan hiburan.

Ada tradisi wajib yang tak pernah hilang dalam menyambut kemeriahan tahun baru, dari dulu hingga kini, antara lain: meniup terompet dan menyalakan kembang api. Menurut sejarah mulanya, meniup terompet adalah tradisi orang-orang kuno dulu dalam mengusir setan.

Kemudian orang-orang Yahudi mengadopsinya sebagai sebuah ritual menyambut rosh hashanah (hari raya terompet) tahun baru taurat.  Sekaligus juga merupakan pesan agama yang mendeskripsikan kuasa Tuhan kala menghancurkan dunia.   

Kemeriahan tahun baru bertambah riang dan dinamis saat disambut bunyi terompet yang bersahut-sahutan dari berbagai penjuru dunia. Tak lengkap pula rasanya jika tak diikuti dengan pesta petasan dan kembang api. Langit dunia menjadi terang dan sumringah karenanya.

Seperti halnya meniup trompet, tradisi menyalakan petasan dan kembang api ini pun adalah sebuah tradisi ritual yang sudah dari dulu dilakukan bangsa Cina untuk mengusir setan. Selain itu, petasan juga dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan (hoki).

Dalam konteks di atas, saya tidak ingin masuk wilayah hukum agama (syariah). Apakah memeriahkan tahun baru dengan terompet dan kembang api merupakan sebuah pekerjaan “haram” dilakukan bagi kaum muslim, seperti yang difatwakan MUI. Apakah masuk dalam kategori tasyabbuh? Bagaimana nasib keislaman dan keimanan seseorang jika ikut-ikutan merayakan tahun baru tersebut? Dan sejumlah pertanyaan lain yang jika dijawab oleh golongan Islam tertentu, justru akan memunculkan persoalan dan keresahan baru. 

Cengek, Natal dan Tahun Baru  

Kemeriahan natal dan tahun baru, rupanya tak berbanding lurus dengan kebahagiaan kaum ibu, sebagai konsumen setia, pembeli cabai merah untuk menambah selera makan dalam bumbu dapur keluarga di seluruh antero nusantara. Mereka, kaum ibu, justru merasa kepedasan di hari kebahagian natal dan tahun baru tersebut. Pasalnya, cabai incaran tiba-tiba menghilang, kalaupun ada harganya kian meroket.

Ada situasi berbeda yang dirasakan kaum ibu ketika natal dan tahun baru datang dan menyapa mereka. Dapur mereka harus tetap ngebul meski harga sembilan bahan pokok termasuk juga bumbu penyedap rasa terus mengalami kenaikan. Daging sapi, daging ayam, telur, dan sejenisnya harganya kian melambung tinggi. Tak ketinggalan pula tomat, bawang, dan cabai harganya terus melangit.

Dari data yang diperoleh (Pikiran Rakyat, 27/12) khusus untuk harga cabai merah atau yang sering kita sebut cengek, menjelang pergantian tahun baru, harganya masih melambung tinggi di angkasa. Sehingga para pedagang protes kepada pemerintah untuk bisa melakukan kontrol terhadap pendistribusian stok cabai tersebut agar harganya tidak terlalu tinggi di salah satu daerah.

Kini, kenaikan harga cabai rawit merah terjadi di tingkat nasional. Artinya, seluruh pasar baik tradisional maupun modern, yang berada di wilayah negeri ini, merasakan pedasnya harga cabai. “Rata-rata harganya menembus Rp 50.000/kg. Bahakan di Jakarta sempat tembus mencapai harga Rp 80.000/kg”. Demikian ujar Ketua IKAPPI, Abdullah Mansuri. (Jakarta, 26/12).

Kondisi harga di atas disebabkan permintaan cabai naik sekitar 15% saat natal dan jelang tahun baru. Sedangkan stoknya, justru, berkurang juga 15%. Pemerintah, sebagai pemilik kebijakan, seharusnya bisa mengantisipasi melambungnya harga cabai tersebut dari awal.

Kebijakan konkretnya adalah pemerintah terjun langsung memantau ke beberapa daerah lain yang dikategorikan sebagai penghasil cabai dalam rangka memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak.  

Beberapa faktor lain yang menimbulkan harga cabai naik drastis antara lain; faktor cuaca, khususnya cuaca yang ekstrem panas sehingga berimbas pada hasil panen yang kurang maksimal. Kondisi tersebut bisa kita lihat di daerah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebagai sentra produksi cabai.

Faktor lainnya adalah disebabkan penyakit. Bisa kita lihat di sentra produksi cabai Jawa Timur, produksi cabainya banyak terkena penyakit kuning. Otomatis karena hal tersebut permintaan pasar tak terpenuhi dan harga cabai cepat meroket. (Oke Nurwan, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, PR 27/12).

Di bagian akhir tulisan ini, saya juga sangat mencurigai ada oknum-oknum yang bermain. Biasanya mereka sangat cerdik sekali membaca situasi. Di saat permintaan pasar melonjak, seperti menjelang hari-hari raya besar keagamaan, barang-barang kebutuhan untuk hari raya tersebut ditimbun, seolah tidak ada di pasaran.

Kemudian mereka distribusikan sedikit demi sedikit dengan asumsi konsumen pasti akan membelinya walau dengan harga yang mahal sekalipun. Ada pihak-pihak yang menari di atas penderitaan kaum ibu yang setiap hari menyuguhkan hidangan enak, lezat dan nikmat untuk kita.

Pemerintahlah yang mempunyai kewenangan penuh dengan kondisi perih dan pedas di atas. Pemerintah juga seharusnya berbuat cepat, cerdas dan konkret untuk menyelesaikan kesewenang-wenangan pasar menciptakan harga yang hanya berpihak kepada para pemilik uang (kaum kapital). Sejatinya, kebahagiaan natal dan tahun baru tidak diganggu dan dinodai oleh pedasnya harga cabai. Selamat Tahun Baru 2017!

Artikel Terkait