Ada semacam gundah, menyadari ruang-ruang di media daring terutama media sosial disesaki bacaan yang berisi kebencian, minim analisa dan pemikiran, sedang media arus utama daring dipenuhi keburu-buruan, diksi yang tak lagi indah dan tak jarang sangat partisan.

Sebagai penikmat tulisan-tulisan mendalam dan indah serta sebagai penulis pemula, sangat bersyukur ada Kompasiana yang milik Kompas Gramedia, Indonesiana yang merupakan milik Tempo serta Qureta yang menurut saya indie di jajaran media warga.

Ada semacam ketajaman dan kedalaman di tulisan-tulisan tiga media warga tersebut. Hanya saja ada satu dua yang akhirnya berkelindan dengan tuntutan traffic, tentu muaranya pada iklan. Pun ada yang memilih di moderasi secara relatif ketat, macam Qureta. Ada yang relatif longgar macam Kompasiana.

Tanpa maksud menegasikan Kompasiana dan Indonesiana yang tentu sangat berjasa dalam perjalanan sejarah media warga. Saya ingin mencoba untuk mencoba menelisik “makhluk” bernama Qureta ini. Sebuah ruang yang relatif terlambat saya kenal.

Hari ini kita merayakan hari buku nasional, sebuah momen yang sebenarnya penting untuk kita berefleksi sebagai bangsa. Sepantasnya hari ini kita merayakan pencapaian-pencapaian dunia literasi di negeri ini. Satu yang menurut saya layak dirayakan adalah buku-buku di tanah air yang telah menjadi semacam perajut atas saling silang perbedaan kita sebagai anak-anak bangsa.

Sejarah ini mencatat Pramoedya Ananta Toer, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Chairil Anwar, Putu Widjaya, Kuntowijoyo, Romo Mangunwijaya dan sebagainya dan sebagainya. Mereka adalah perajut negeri ini melalui buku, lihat saja karya-karya mereka yang tak pernah lepas dari ketakjuban akan kemolekan negeri ini secara historis, geografis dan sosiologis. Karya-karya mereka abadi dalam kenangan generasi dari berbagai zaman.

Pun tidak hanya itu, lihat latar belakang mereka, baik agama, etnis dan ideologi sangat beragam. Penulis-penulis yang melegenda itu menjadi semacam refleksi keberagaman kita.

Generasi-generasi itu telah melintasi sejarah dan meninggalkan kita, kini generasi penulis yang tengah membangun artefak “keabadian” tengah berkibar, ada Gunawan Muhammad, Andrea Hirata, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Dmono, Seno Gumira aji Dharma, Ayu Utami dan sebagainya dan sebagainya.

Karya mereka pun tak beda jauh dari legenda generasi sebelumnya, negeri ini dalam berbagai dimensinya menjadi semacam inspirasi abadi mereka dalam berkarya. Sampai-sampai GM bertutur, "Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati."

Negeri kita tumbuh mekar tak hanya karena keluarbiasaan teknokrat, ekonom, politisi dan sebagainya. Penulis-penulis di negeri ini telah menjadi simpul sejarah tumbuhnya kita sebagai bangsa.

Pada titik ini saya bertanya, akankah lahir generasi penulis berikutnya yang tetap menapaki jalan sebagai simpul sejarah negeri ini; pengikat semangat ke-kita-an, penopang perubahan sekaligus pemikir-pemikir yang bernas dan rendah hati.

Qureta dan Harapan

Di Qureta saya menemukan optimisme bahwa rajutan sejarah, peralihan antar generasi penulis akan berjalan dengan baik. Penulis-penulis muda yang aduhai, dan luar biasa berkiprah dengan penuh semangat di sini.

Pengamatan saya yang masih selintas waktu, melihat begitu banyak penulis berstatus mahasiswa yang tulisannya, luar biasa dalam dan tajam dan sesekali syahdu. Terperanjat kadangkala membaca tulisan-tulisan anak muda di Qureta, ide-idenya terkadang liar dan memancing keingintahuan, gaya bahasanya pun elok sungguh. Bahkan saya tak sadar bahwa yang saya baca tulisannya anak-anak muda, kualitas kebahasaan mereka benar-benar membuat saya iri sekaligus bersyukur.

Iri karena di usia-usia seperti mereka saya masih merabah dan merangkak dalam menulis, sekadar mempublikasikan tulisan saja, harus mengumpulkan kepercayaan diri. Lantas saya bersyukur, karena meyakini kelak bangsa ini masih akan diwarnai oleh penulis-penulis yang bernas dan luar biasa.

Semoga para penulis luar biasa di Qureta tetap bersabar dalam proses, tak layu sebelum berkembang. Sekedar penyemangat kita bersama, saya kutipkan kembali ucapan Sang maestro, Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Akhirnya, di hari buku nasional ini mari kita rayakan pencapaian-pencapaian literasi negeri ini.