4 minggu lalu · 204 view · 3 min baca · Cerpen 66986_83012.jpg
Sehabis lelah yang hanya berdiam di tempat tanpa perjalanan.

Merayakan Kelelahan

Tiada yang lebih aneh kalau tidak bisa disebut bodoh, menyandang tas di punggung lalu memegang buku di tangan sambil berjalan. 

Mengapa buku itu tidak kau letakkan saja ke dalam tas? Jenis tas ransel sangat leluasa menampung buku-buku setebal apa pun. Punggungmu pun sudah kebal terhadap berat yang ada dalam tas itu, walau sejauh jarak mana saja kau membawanya. Lelah tak memberi alasan untuk menghentikanmu untuk berbuat lelah. 

Bagaimanapun, mengosongkan tangan dengan mengalokasikan sesuatu benda ke dalam tas akan mempermudah jalanmu mengerjakan apa pun yang disuka. Terlebih pada saat dalam keadaan terpaksa atau terdesak untuk bepergian ke mana saja. Sangat banyak barang yang diperlukan untuk menuju suatu tujuan dan hanya perlu satu wadah untuk kepraktisan memuat benda-benda yang lainnya. 

Bukankah suatu keadaan ceroboh bila membawa banyak barang terkantung-kantung di tangan tanpa berniat menyalin ke dalam tas padahal tas sudah ada di pundaknya? 

Ia mengira manusia bisa melakukan segalanya hanya dengan kedua tangannya itu dalam satu keadaan, satu waktu secara bersamaan. Seseorang, siapa saja pasti merasa ada kejanggalan dalam dirinya bila melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu secara bersamaan. 

Seseorang teringat 'Xariem, namanya tidak terdaftar dalam kehidupan sekarang, di KTP mana pun. Yang diketahui sekarang, orang banyak memakai nama Karim di kartu identitasnya. 

Ada beberapa pilihan kalau kata 'Xariem disebut dalam pengucapan, bisa berarti Sarim, Karim dan Qarim. Saya rasa Sarim adalah pilihan pertama yang orang ucapkan ketika memanggilnya dan tentu, kalau tidak sesuai pengucapan yang memiliki nama tersebut akan protes. 

"Nama saya Karim bukan Sarim." Lalu ada pertanyaan dari seseorang, "Terus, kenapa tulisannya 'Xariem? Ah, nama yang menyulitkan, itu tidak pantas dikenal, apalagi berteman denganmu adalah membingungkan.

Dalam sekejap, perdebatan terhenti sementara. 'Xariem mencoba mencari sesuatu untuk menguatkan argumentasinya ketika harus melancarkan bicaranya. Ia terus memandangi lawan debatnya yang seolah telah merendahkan martabat namanya.

Tapi tangannya terus mencari sesuatu untuk diletakkan di mulutnya agar terlihat kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Sebatang lisong lebih dari cukup dan cocok untuk menambah sensasi berbicara. 

Batang itu sudah menyala, "huuh, kamu saja yang enyah dari hadapanku seperti kepulan asap ini. Terlihat banyak tapi tak bisa menetap. Sama seperti ucapan dan dirimu yang kurang beradap," sergah 'Xariem penuh semangat. "Bagaimanapun, namaku adalah pemberian orang tuaku. Itu patut disyukuri, sesuatu yang disyukuri sangat bagus untuk dirayakan, vitae celebramos." 

Seseorang tadi terdiam malu, ia bahkan merasa dibodohi oleh akalnya sendiri. "Mengapa itu terlintas saja diucapanku?" ucapnya di hati. 

Sesuatu yang berlainan tidak harus dihinakan apalagi kibulan untuk ditertawakan. Boleh jadi kehidupan selalu berbeda latar belakang dan itu keniscayaan. Kita tidak akan bisa bertahan hidup dalam keramaian apabila kita merasa sendirian. 

Jangan ada kata penghinaan lagi, kawan. Itu memalukanmu sendiri. Saat di mana pekerjaan sangat melelahkan, walau di sekitar kita banyak orang tapi tidak ada yang bisa membantu, itu percuma. 

Masing-masing memiliki pekerjaan, masing-masing memiliki pekerjaan dan tanggungan. Masing-masing memiliki perkerjaan, tanggungan dan beban. Masing-masing memiliki pekerjaan, tanggung jawab, beban dan pikulan berat. Masing-masing memiliki pekerjaan, tanggung jawab, beban, pikulan berat dan anak keturunan. 

Siapa yang bisa membantu? Siapa yang bisa meringankan pekerjaan? Tanggung jawab siapa? Beban mana lagi yang bisa disandang bila pikulan sudah berat? Siapa yang menghidupi anak keturunan? Mari hinakan orang atau dirimu sendiri yang harus dihinakan. Siapa dirimu itu? 

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya bisa diam bila tanpa dibaca, diam tanpa diucapkan dan diam tanpa ada jawaban. Persoalan yang dirasa berat, lebih berat daripada beban ransel di pundak dan buku-buku di tangan yang dibawa berjalan bersamaan. Menyandang tas di pundak lalu membawa buku di tangan sambil berjalan adalah kehidupan aneh yang tidak memikirkan kemudahan. 

Lantas keanehan apa lagi kalau menjawab semua pertanyaan di atas tadi?

Sangat melelahkan, tas dan buku dibawa bersamaan berjalan dengan jarak tempuh 10 meter saja sudah memberi beban. Menyandang pertanyaan yang lebih banyak juga sangat berat. Apakah bisa buku yang dibawa berjalan memberi keringanan terhadap pertanyaan? 

Atau semuanya harus dilahap oleh ransel di pundak? Semua adalah pekerjaan, semua adalah tanggung jawab, semua adalah beban, semua adalah pikulan berat, semua beranak pinak yang disandang oleh satu orang. 

***

Seseorang siapa saja, ada yang meminta pertolongan, dia tidak bisa berucap banyak, satu kata "tolong" hanya seperti lintasan angis yang berhembus tanpa bunyi. Ia kelelahan diperjalanan yang berjarak, ia tersengal-sengal ingin melepas dahaga, ia tidak mampu membawa beban banyak diperjalanan yang jauh yang melebihi jarak 10 meter. 

Ia sangat bingung menjawab tertanyaan yang berjibun di kepala, di otaknya. Ia hanya berharap, ada seseorang yang menemaninya, seseorang yang bisa mendengarkan celotehnya dan bisa diajak tertawa. Melepas penat kepala, penat di seluruh badannya. Mari bersalaman.

Artikel Terkait