Sosok Joker, bagi warga Gotham, seperti sebuah gagasan kukuh. Ketika disajikan kepada publik, ia memiliki daya tarik untuk begitu saja disukai, dan juga sebaliknya, untuk ditolak.

Itu reaksi masyarakat yang digambarkan Todd Phillips dalam film "Joker" (2019), saat aksi Arthur Fleck aka Joker (Joaquin Phoenix) dan sosoknya untuk pertama kalinya muncul di hadapan khalayak Gotham.

Bagi sebagian warga Gotham, Joker tidak lebih seorang penjahat gila, yang terpantik melakukan kejahatan karena tak pernah sekalipun dalam hidupnya merasakan kebahagian dan hanya dipenuhi kekerasan dan kegagalan.

Tapi bagi mereka yang menerima sosoknya, Joker adalah seorang vigalante atau penegak keadilan jalanan dengan caranya sendiri, yang menginspirasi bahkan menggerakkan mereka. Terutama bagi mereka kelas masyarakat bawah korban sistem korup.

Sampai di sini, memang terkesan berlebihan dan simplistis. Bagaimana bisa aksi kejahatan (pembunuhan) dinilai oleh warga Gotham kelas bawah sebagai tindakan heroik karena hanya para korbannya adalah kelas menengah-atas? Bagaimana bisa hanya karena hidupnya berjalan di luar harapan, Joker berubah menjadi jahat dan kemudian menjadi musuh bebuyutan Superhero Batman?

Jelas, adalah pekerjaan tidak mudah bagi Philips dan Phoenix untuk bisa menyajikan kepada penonton sosok penjahat ikonik ini sebagai pusat cerita dalam film. Terlebih sebelumnya, para penonton sudah menikmati dengan sangat puas karakter Joker yang matang dalam The Dark Knight (2008), diperankan oleh Heath Ledger.

Kerja keras mereka tidak hanya berbuah manis, tapi juga memuaskan banyak orang. Phoenix dengan apik menyajikan sosok Arthur Fleck yang sangat dramatis sampai ia menjadi sosok Joker, hingga menyentuh nurani kita sekaligus "merusaknya".

Selama kita berada di kursi bioskop, nyaris mustahil bagi kita untuk tidak berempati dengan tulus terhadap drama kehidupan Arthur. Bahkan kita akan berempati pada Arthur cukup hanya dengan melihat sorot matanya dan tubuh kurusnya serta mendengar tawa khasnya itu.

Selain itu, sulit bagi kita untuk tidak gembira-puas-lega saat peluru-peluru dilesatkan Arthur ke tubuh-tubuh sasarannya. Kita merayakannya. Itu mungkin kenapa menjadi masuk akal bagi penonton saat aksi kejahatan Arthur dan atau sosok Joker diglorifikasi oleh warga Gotham yang satu kelas sosial dengannya.

Hal itu juga mungkin membenarkan pernyataan filosofis Joker dalam satu adegan dalam film ini, yang menyamakan moralitas seperti komedi. Sebagaimana komedi, moralitas ditentukan oleh sistem. Mana lelucon yang lucu dan mana yang tidak lucu, sudah ditentukan. Begitu pun baik dan jahat.

Todd Phillips (sutradara dan penulis skenario) mengembangkan cerita Joker dari novel grafis "Batman: The Killing Joke" (1988) karya Alan Moore. Tapi saya tidak melihat karakter Joker dan cerita film ini dibangun secara kuat berdasarkan novel grafis yang membuka tabir asal-usul penjahat legendaris di semesta DC Comics itu.

Di novel grafis itu Arthur berjuang dengan kesusahan untuk istrinya yang hamil. Pemicu ia menjadi karakter Joker karena kematian istrinya dan karena jatuh dalam cairan kimia saat dikejar Batman.

Adapun dalam film "Joker", Phillips menggambarkan proses hidup Arthur menjadi Joker tidak sesederhana itu. Lebih rumit dan kompleks. Perpaduan antara penyakit mental yang diderita sejak kecil dan latar belakang kehidupan pribadinya. Pemicu ia menjadi Joker adalah keseluruhan hidupnya, bukan satu dua momen.

Arthur memang ditampilkan menyedihkan, kesepian dan dirundung kegagalan dalam hidupnya. Phillips memang menampilkan sisi kelam Gotham yang bersistem korup, sarat ketidakadilan dan kekerasan. Tapi Phillips juga menunjukkan kepada penonton bahwa kondisi sosial sama sekali tidak memengaruhi perubahan Arthur menjadi Joker.

Kekecewaan pada ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy), hanya satu dorongan kecil, juga bukan pemicu utama dan bukan momen utama yang memantik Arthur menjadi Joker. Pun dengan kondisi sosial Gotham.

Pendorong utama Arthur menjadi Joker adalah penyakit mentalnya. Kondisinya makin parah saat ia tidak lagi mengonsumsi 7 jenis obat-obatan, setelah pemerintah Gotham mencabut layanan kesehatan gratis. Tapi ia merasa dirinya lebih baik tanpa obat-obatan. Ia lebih merasa menjadi diri sendiri sesungguhnya, yang lebih ringan melakukan apa yang ia sukai sesungguhnya: kekerasan dan anarki.

"What do you get when you cross a mentally ill loner with a society that abandons him and treats him like trash?" ujar Joker di hadapan khalayak Gotham pada acara siaran langsung televisi Murray Franklin Show.

Momen memiliki kesempatan tampil di acara televisi bersama tokoh idolanya, Murray Franklin (Robert de Niro), adalah yang paling menentukan. Ia melangkah tegas untuk menjadi dirinya sendiri dan menunjukan jati dirinya sesungguhnya di hadapan khalayak Gotham. Tentu saja bukan sebagai seorang stand up comedian.

Arthur dalam hal ini seperti dua karakter ciptaan Martin Scorsese: Travis Bickle dan Rupert Pupkins hanya membutuhkan satu momen penting untuk mengubah jalan hidup mereka yang memang sudah "sakit" menjadi sosok yang dielu-elukan masyarakat, setelah mereka melakukan tindakan kriminal.

Benar, Phillips cenderung membangun cerita dan karakter Arthur dari paduan antara karakter dan cerita Travis Bickle dalam film "Taxi Driver" (1976) dan Rupert Pupkins "The King of Comedy" (1982), dua film karya Martin Scorsese. Dan tentu saja Todd Phillips menyempurnakannya dengan Joker-nya Heath Ledger yang filosofis. Tepatnya, ia memiliki pandangan tersendiri tentang moralitas.

Joker versi Phillips ini kemudian diletakan pada semesta DC, secara khusus kota fiksi Gotham dan lebih khusus lagi Kota Gotham yang dengan sempurna digambarkan kelam oleh Christopher Nolan dalam trilogi film "The Dark Knight" (TDK). Dalam hal ini, Phillips menampilkan Gotham tidak tampak sekelam Gotham dalam trilogi TDK.

Manusia di semesta DC Films adalah manusia bertipe individualis dan cenderung Hobbsian, serigala bagi serigala lainnya. Manusia digambarkan cenderung tamak dan saling dengki dalam Wonder Woman (2017), curiga pada yang berbeda (Man of Steel dan Batman v Superman: Dawn of Justice), warga Gotham cenderung mengarah ke anarkis daripada kondisi damai dalam Trilogi TDK, seperti yang digambarkan Joker-nya Heath Ledger:

"Kamu tahu, moral mereka, aturan mereka, itu dagelan yang buruk. Mengarahkan mereka pada permasalahan. Mereka hanya baik sebagaimana dunia menginginkan mereka menjadi baik. Ketika para panutan mereka jatuh, mereka… para masyarakat sipil saling memakan antar satu dengan yang lain. Lihat, aku bukanlah monster. Aku hanya berbeda dengan mereka."

Itu mengapa dalam TDK, Batman dan Komisaris Gordon membutuhkan sosok panutan yang diharapkan menginpirasi masyarakat dan sebagai simbol kebaikan yang dapat membawa perbaikan sistem, demi menjaga stabilitas. Mereka berdua sempat menunjuk dan mendukung Harvey Dent untuk menjadi simbol ksatria putih itu. Tapi gagal. Digagalkan oleh Joker.

Joker dalam "Joker" berhasil menempati peran itu. Tapi bukan sosok panutan yang menginspirasi masyarakat untuk mengarah ke harmoni. Tapi sebaliknya, mengarah ke anarkisme, meskipun hanya kepada kelas sosial bawah saja.

Sebagaimana sosok Joker, film "Joker", selain karya seni, ia juga seperti gagasan kukuh. Orang bisa dengan subjektif ataupun objektif untuk menyukai atau sebaliknya; menganggapnya berbahaya atau tidak; atau penilaian-penilaian lain.

Tapi, adalah tidak adil menelanjangi film "Joker" dengan cara melepaskan konteks kota fiksi Gotham dan semesta DC Films.