Pernahkah kamu merasa sudah berjuang sedemikian keras, mengerahkan seluruh kemampuan yang kau punya, tetapi pada akhirnya tetap dianggap sebagai sampah yang menjijikkan? Lebih menjijikkan sebab itu semua sering disebut sebagai kodrat! Sebagaimana wujud sampah, manfaatmu adalah urusan kesekian dan eksistensimu sungguh tak pernah dibicarakan serius.

Kemudian kamu merasa dunia sedemikian kejam dan telah memperlakukanmu dengan tidak semestinya. Namun, dari mana semua penderitaan ini bermula? Frantz Fanon, manusia kulit hitam yang dengan sangat menarik coba menggugat cara pandang kita semua tentang kulit hitam—ras yang, ini sungguh bajingan, kerap diperolok sebagai missing link antara manusia dan kera.

Fanon menerbitkan Black Skin, White Masks pada 1952, karya monumental yang merangkum pandangannya tentang dunia kulit hitam di tanah kelahirannya, Antilles, Martinique, dengan sangat menohok. Judul tersebut dirasa menjadi titik berangkat Fanon untuk mulai menyentil teman-teman kulit hitamnya sendiri yang kerap terasing dari kenyataan untuk kelak bergegas mengupayakan perlawanan.

Sekalipun sasaran busur mutlak tetap mengarah pada kebengisan cara pandang kulit putih, dalam hal ini adalah kolonialisme, yang secara turun-menurun diwariskan pada tiap generasinya. Sebab sesuram-suramnya tingkah laku manusia kulit hitam, itu semua jelas diciptakan oleh kuasa kulit putih. 

Dalam Black Skin, White Masks, Fanon mengurai kompleksitas relasi kuasa itu dengan contoh-contoh cerita yang sehari-hari ia rasakan dan membahas akar permasalahannya, dalam dua kutub berbeda itu, secara berimbang.

Menyorot judulnya, sebermula Fanon mempersoalkan keinginan orang-orang kulit hitam yang dalam berbagai situasi ingin “menjadi” kulit putih. Situasi tersebut dianggapnya menjengkelkan sebab dalam praktiknya itu jelas lebih dekat pada utopia dibandingkan kenyataan. 

Kemudian ia melakukan pembabakan terhadap beberapa fenomena yang menjadi fokus kajiannya. Di antaranya mengenai penggunaan bahasa koloni, relasi wanita kulit hitam dengan pria putih, juga sebaliknya, kompleks ketergantungan pada penjajah hingga pada tataran efek psikologisnya.

Dalam buku ini, Fanon menempatkan yang terjajah sebagai subjek. Tentu, subjek itu berasal dari pengalaman dan kehidupannya sendiri sebagai penduduk asli Antilles. 

Penduduk Antilles menurutnya unik sebab mereka memiliki singgungan yang erat dengan penjajahnya, bangsa Perancis. Kedekatan yang itu yang dipikir Fanon kerap membawa cara pandang yang keliru. Padahal ia ingin membebaskan bangsanya dari keinginan untuk menjadi orang lain (the others).

“Kulit putih menganggap dirinya lebih unggul dari kulit hitam. Fakta lainnya: kulit hitam ingin membuktikan kepada orang kulit putih dengan cara apapun bahwa kulit hitam punya pemikiran yang kaya, dan intelektualitas yang tak kalah hebatnya. Bagaimana kita membebaskan diri dari lingkaran setan itu?” (hlm. xiv)

Analisis yang dilakukan Fanon ini banyak merujuk pada pendekatan dan istilah psikologis, sekalipun dalam eksekusinya ia cukup luwes memadukan itu dengan realita sosialnya. Fanon menyebut bahwa akar permasalahannya datang dari dua hal: ekonomi—bahwa kendali modal, aset, dan kuasa pengaturannya hanya diberikan pada kulit putih—dan internalisasi, atau Fanon menyebutnya sebagai epidermalisasi sindrom perasaan rendah diri (Kita permudah istilah itu sebagai bentuk inferioritas!)

Dengan gaya penulisan yang cukup berapi, Fanon ingin memastikan bahwa apa yang terjadi pada manusia tentu disebabkan tindak-tanduk manusia lain (baca: kulit putih). “Manusialah yang mewujudkan masyarakat,” ujarnya. Persoalan yang lebih penting adalah kemauan untuk menyingkirkan struktur yang disebutnya telah membusuk. 

Menariknya, gerakan itu tak semata ditujukan pada sejawat kulit hitamnya, Fanon malah menganjurkan seluruh golongan manusia untuk menanggalkan warna kulitnya dan bersikap rasional saja.

Dari segi bahasa, penduduk Antilles seringkali memaksa dirinya untuk mampu berbahasa Perancis dengan lancar, dan pada akhirnya itu membuat mereka memperoleh identitas abu-abu yang semula tak mereka kira. Di Antilles, orang mengatakan “Ia bicara seperti orang kulit putih.” Padahal ketika di Perancis, orang mengatakan, “Ia bicara seperti buku.” (hlm. 4). Sungguh utopia yang nyata.

Lebih buruknya lagi—yang akan menunjukkan tanda bahwa mereka mulai terasing—contoh tersebut kerap menggiring orang tua di Antilles untuk melarang anak-anaknya menggunakan bahasa ibu mereka, yakni bahasa Kreol, dan lebih menganjurkan untuk “menjadi” Perancis saja. 

Anggapan yang terjadi adalah bahwa dengan “menjadi” Perancis berarti secara tidak langsung dirinya akan didewakan; sebab dianggap telah menuntaskan suatu fase yang belum tentu semua orang mampu.

Keinginan untuk menjadi putih ini menjebak banyak anak-anak kulit hitam. Fanon menyebut bahwa:

“Orang kulit hitam yang tiba di Perancis berubah karena baginya negara itu laksana tabernakel; ia berubah tak hanya karena dari Perancis lah ia mendapat pengetahuan tentang Montesquieu, Rousseau, dan Voltaire, namun juga karena Perancis membuatnya menjadi dokter, kepala departemen, dan banyak fungsionaris jabatan kecil lainnya.” (hlm. 7) 

Kondisi itu sangat dilematis sebab pada ujungnya akan membuat anak-anak kulit hitam kian merasa aneh dengan konsep tubuh dan pemikiran kampung halamannya.

Seperti yang tertuang dalam The African Today, yang digarisbawahi Fanon, bahwa orang kulit hitam dengan pendidikan tinggi, yang tentu ia dapat dari Perancis, justru mengalami sindrom rendah diri yang semakin meningkat. Lalu kemudian ia menjadi naif: 

“Memakai pakaian gaya Eropa, menggunakan perabot dan bentuk hubungan sosial ala Eropa, mencampur bahasa ibunya dengan idiom-idiom Eropa, menggunakan frasa bombastis ketika berbicara atau menulis dengan bahasa Eropa; semua itu dilakukan agar ia merasa setara dengan orang Eropa.” (hlm. 9)

Mereka mendadak lupa dengan kultur Antilles yang telah menghidupi mereka sebelum cecunguk Eropa itu mulai merusuh. Mereka lupa dengan struktur magis yang hidup di tanah-tanah Antilles yang mulai tergantikan dengan mesin-mesin penemuan khas buatan kulit putih yang mempesona. 

Fanon mengutip penyair Aimé Césaire, yang kelak akan sering kita jumpai nukilannya, dalam Notebook of Return to My Native Land yang menjelaskan bahwa pola itu mirip seperti yang tertuang di “prasasti-prasasti nasib” bawaan kolonialisme: bahwa kelak akan ada juru adil datang untuk kemudian menyelamatkan peradaban kuno.

Selain itu, Fanon juga membahas pola hubungan antara wanita kulit hitam dengan pria kulit putih, dan relasi antara pria kulit hitam dengan wanita kulit putih yang dirasa menjadi ceruk kajiannya tersendiri. Baginya, wanita kulit hitam bagaimanapun ia bertingkah laku, tentu akan kesulitan mendapatkan cinta romantik yang tulus dari pria kulit putih.

Mereka akan selalu dijadikan opsi kedua (jika tidak kelak akan “diputihkan” terlebih dahulu) dan itu, yang kembali, menghadirkan rasa inferior dalam diri mereka. Pada akhirnya, keinginan menjadi kulit putih malah membuat wanita kulit hitam cenderung diperbudak—Fanon menyebut kondisi ini sebagai patologi psikologis ekstrim yang membuat wanita kulit hitam kehilangan potensi untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya; ia mesti “menjadi” putih agar dihormati.

Sedangkan pola hubungan antara pria kulit hitam dengan wanita kulit putih kerap menghadirkan keterasingan lain. Fanon mengurai contoh dari novel karya René Maran, yang menceritakan tokoh Jean Veneuse, seorang Negro kelahiran Antilles yang tinggal di Bordeaux selama bertahun-tahun.

Sebab lama di Perancis, Veneuse kerap dikatakan sebagai orang Eropa, tetapi karena ia berkulit hitam, jadi ia Negro. Kemudian cerita itu merujuk kesimpulan: “Itulah inti masalahnya, ia tidak memahami sesama rasnya, dan orang kulit putih tidak memahaminya. (hlm. 44) 

Posisi tersebut yang kemudian malah menghadirkan ambivalensi; ia tidak berintegrasi dengan siapapun hingga akhirnya muncul perasaan terabaikan.

Kita tahu dalam sejarah bahwa Negro yang kepergok tidur dengan perempuan kulit putih akan dikebiri. Pria kulit hitam yang memperistri perempuan kulit putih akan diasingkan oleh kaumnya.” (hlm. 50). 

Situasi tersebut seketika mengkerdilkan pikiran orang-orang kulit hitam sejak awal bahwa mereka bisa menjadi putih dengan mempersunting wanita kulit putih. Sungguh suatu struktur hubungan yang tidak ideal sama sekali.

Seorang peneliti, G. Guex, dalam sebuah pemaparannya yang digarisbawahi oleh Fanon coba menunjukkan motif sikap Veneuse yang menjadi inferior—yang kelak divonis sebagai sindrom gangguan jiwa pengabaian: 

“Ciri-ciri pertama adalah rasa takut untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Rasa takut dengan spektrum luas: takut mengecewakan, takut membuat orang lain sedih, takut membuat orang bosan, takut membuat orang jenuh... dan akhirnya, takut kehilangan kesempatan untuk menciptakan ikatan persahabatan dengan orang lain.” (hlm. 55)

Apa yang diupayakan Fanon dalam memaparkan realitas kulit hitam di Antilles itu tak lain adalah demi menyadarkan kondisi alam bawah sadar teman/pasien sebangsanya; menghadirkan keberanian untuk menghadapi dunia. Kondisi Inferior complex yang telah menjalar pada tubuh orang-orang kulit hitam memang membuat mereka mesti bekerja berkali lipat agar mendapatkan relasi yang setara. Usaha yang perlu diupayakan kemudian tentu bernama: destrukturalisasi.

Fanon berujar bahwa orang kulit hitam seharusnya tak lagi berhadapan dengan dilema “menjadi putih atau musnah”. Orang-orang kulit putih mesti memperbaiki cara pandangnya dan harus mau menghadirkan battlefield yang adil dan seimbang. 

Tak perlu ada konflik yang mengatasnamakan superioritas dan inferioritas sehingga yang satu (re: kulit putih) tidak perlu lagi berlagak sok baik demi mengangkat derajat pihak yang lain. Ibarat slogan: jangan menjadi nonsense!

Sebab saat emosi kian memuncak, dan kesadaran akan tubuh kian dipenuhi, cara yang lalu bisa dilakukan orang-orang kulit hitam adalah dengan terang-terangan menunjukkan kehitamannya! (Ini yang bertahun-tahun kemudian disebut pegiat pascakolonial lainnya, Gayatri Spivak, sebagai wujud esensialisme strategis). 

Fanon merasa penolakan yang dihadirkan orang-orang kulit putih kepada kaumnya dapat menjadi momentum untuk mulai melakukan perlawanan. Dalam ilustrasi singkat, Fanon mengamini puisi Aimé Césaire, yang dirasa menghadirkan emosi kolektif:

Mereka yang tidak menemukan bubuk mesiu atau kompas

Mereka yang tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan uap atau listrik

Mereka yang tidak menjelajah laut atau langit

Namun mereka yang tahu semua ceruk dan celah penderitaan

Mereka yang perjalanannya telah mencerabut adat

Mereka yang telah terbiasa berlutut

Mereka yang diperadabkan dan dikristenkan

Mereka yang dikutuk dan dengan keharamjadahan. 

Setelah itu dilanjutkan,

Namun tanpa mereka, bumi tak akan menjadi bumi

Kebongkokan yang lebih bermanfaat saat bumi semakin lama

Mengabaikan bumi

Silo tempat segala hal paling dunia disimpan dan matang

Kenegroanku bukanlah sebongkah batu, namun ketulian yang dilemparkan di tengah kegaduhan hari

Kenegroanku bukanlah titik buram air beku di atas mata beku bumi

Kenegroanku bukanlah menara atau katedral

Menjangkau jauh ke dalam tanah merah

Menjangkau jauh ke atas langit membara

Menembus kelesuan saram dengan kesabarannya yang lurus. 

Bersamaan dengan emosi itu, Fanon menjadikan puisi sebagai bagian dari Négritude—gerakan sastra yang kelak merayakan kebudayaan kulit hitam dan berbagai bentuk ekspresif manusianya. 

Lanskap itu menjunjung orang-orang kulit hitam untuk kembali percaya diri dalam melanjutkan tradisi magisnya, kesan-kesan alami yang hadir sejak dahulu, dan menjadi lebih aktif. Dalam keadaan lebih menantang, Fanon menyebut usaha ini sebagai sarana menentang kuasa dominan semata.

Yang pada akhirnya, semua upaya itu dilakukan demi menghadirkan revolusi nyata secepat-cepatnya. Sebab Fanon merasa bahwa masalah yang diterimanya di Antilles hanyalah masalah temporal, yang ia yakini itu akan selesai. Keterasingan orang-orang kulit hitam mesti sesegera mungkin diakhiri dan segala ketimpangan harus terus-menerus dipersoalkan. 

Dalam penutupnya, ia berharap kelak di masa mendatang akan hadir kondisi eksistensi yang ideal bagi seluruh umat manusia. Tak ada lagi ketimpangan dan penindasan di manapun dan kapanpun. Sudah terjadikah harapan itu?

*Buku Black Skin, White Masks diterjemahkan oleh Harris H. Setiajid dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 2016 oleh penerbit Jalasutra.