Pernah nggak sih, kalian gagal saat sedang memperjuangkan sesuatu? Misalnya gagal lolos ke perguruan tinggi yang kita impikan, gagal memperoleh pekerjaan yang kita idam-idamkan, gagal lolos seleksi CPNS, atau bahkan gagal memenangkan hati sang mantan #ehh.

Ayo deh, saya berani bertaruh yakin seratus persen minimal sekali dalam hidup kita, pasti donk kita pernah merasakan kegagalan. Apapun bentuknya.

Gimana perasaan hati kita saat sedang berada di titik terendah ini? Gagal di saat yang lain terus bergerak maju. Gagal menggapai harapan dan cita-cita kita, gagal memperjuangkan mimpi kita, gagal menangkap kebahagian bagi diri sendiri. Ah pastinya sedihlah yah, nggak usah ditanyain, nangis bombai, dan yes terkadang sampai merasa malu juga. Rasanya mau nyungsep aja ke dalam laut, biar nggak perlu menanggung beban malu dan sedih. Hikss…

Tapi guys, nggak peduli seberapa susah dan sedih kita saat memperoleh kegagalan kita harus harus banget ingat bahwa semua itu nggak akan abadi. Time will heal. Yes benar banget. Kita harus yakin bahwa memang gagal itu adalah lumrah dalam hidup. Tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu tanpa hikmah kan? Begitu pula dengan kegagalan yang kita alami. Bayangkan saja, jika hidup kita terus sukses dan berhasil, maka kita nggak akan bisa menikmati manisnya keberhasilan tersebut. Kegagalan justru membuat kita mampu menghargai kesuksesan dan meraih bahagia.

Maka, sejatinya kegagalan itupun layak untuk kita rayakan. Merayakannya tentu bukan dengan senang-senang dan hedon happy happy maksimal. Tentu merayakan kegagalan dengan introspeksi optimal dan menjadikan kegagalan yang terjadi sebagai batu loncatan untuk bangkit dan meraih keberhasilan yang lebih baik. Merayakan kegagalan? iyes, begini kira-kira....

Terima dengan Ikhlas Kegagalan Kita

Seberapa parah kegagalan yang kita alami, tentu semua itu pasti terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita harus meyakini itu dan bukan serta merta marah dan protes kepada Tuhan atas kegagalan yang menimpa kita. Please deh.. Bisa saja kegagalan yang kita alami justru menyelamatkan kita dari mara bahaya yang lebih besar lagi. Pernah dengar kan, kisah seseorang yang terlambat untuk berangkat dengan pesawat karena urusan sepele lantas kemudian selamat dari kecelakan maut yang dialami oleh pesawat yang hendak ditumpanginya? That’s it! Kadang kita merasa rugi, merasa gagal dan terpukul saat gagal, tetapi mungkin itulah cara Tuhan untuk menyelamatkan kita. Menyelematkan dari rasa sombong, rasa tidak bersyukur, dari orang-orang jahat, dari lingkungan yang mungkin tidak sehat.

Apapun itu, yakinilah bahwa kegagalan yang kita hadapi pasti memiliki hikmah kehidupan luar biasa. Terkadang, hanya kita yang tidak mampu untuk membuka hati dan pikiran kita untuk menerimanya.

Nah dengan meyakini bahwa kegagalan tersebut memiliki hikmah yang bisa membuat hidup kita lebih baik, maka kita akan lebih mudah mengikhlaskan hati dan batin kita terhadap kegagalan yang kita hadapi. Sedih itu wajar memang, namun jika berlarut pun percuma saja. Bukannya membuat kegagalan yang kita hadapi menjadi pemacu untuk bangkit, malah kita akan semakin terpuruk.

Karena itu, yuk rayakan kegagalan yang kita hadapi dengan menerimanya dengan ikhlas, tidak berlarut dalam kesedihan, dan yakinlah bahwa akan selalu ada hikmah yang baik dibaliknya.

Evaluasi Penyebab Kegagalan

Orang cerdas adalah mereka yang tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Maka untuk menghindari kegagalan pada waktu mendatang, kita kudu banget nih mengevaluasi penyebab kegagalan yang kita hadapi. Introspeksi. Coba uraikan kembali daftar panjang ikhtiar yang sudah kita lakukan namun masih saja berbuah kegagalan tadi. Cek dimana kekurangan kita.

Untuk bisa mengevaluasi kegagalan yang kita miliki tentu kita harus terbuka dan mau mengakui kesalahan kita. Iya, jangan ego sentris dan tidak mau mengakui kesalahan sendiri. Itu bebal namanya. Coba cek kembali, jangan-jangan ikhtiar kita belum maksimal, jangan-jangan waktu belajar kita kurang, mungkin saja ada hal sepele yang kita lalaikan, mungkin cara kita berjuang masih salah dan curang, dan segudang bahan introspeksi lainnya.

Jika kita tidak mampu mengevaluasi diri kita sendiri, cobalah tanyakan pada orang yang paling mengetahui usaha kita, bisa keluarga atau teman dekat. Jangan sungkan untuk menanyakan dimana letak kekurangan kita selama ikhtiar yang kita upayakan. Jangan remehkan masukan orang lain, karena bisa jadi mereka memberikan insight yang tidak kita pikirkan sama sekali.

Ingatlah, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Jika hasilnya masih jelek, berarti usaha kita belum maksimal. Akui itu dan berkomitmenlah untuk berubah.

Rencanakan Aksi Perubahan

Setelah kita melewati fase kegagalan, yakinlah bahwa akan ada kesempatan lain yang terbuka di depan. Maka pastikan diri kita siap untuk menjemput kesempatan yang akan datang dengan optimal. Buatlah rencana yang jelas hingga langkah paling detail tentang apa yang harus dilakukan pada kesempatan berikutnya.

Jadikan bahan evaluasi yang kita susun sebelumnya menjadi acuan daftar Do and Don’t, mana yang harus kita tingkatkan, mana yang harus kita hindari. Dan jangan lupa untuk menitipkan semua keinginan kita kepada Sang Maha Pencipta. Juga mintalah kekuatan kepada-Nya agar bisa melakukan usaha terbaik yang kita bisa dan keluar dari bingkai kegagalan.

Rencana aksi ini kalau perlu kita tulis dengan detail dan kita letakan di tempat-tempat yang sering kita lihat yah. Tujuannya tentu saja, agar kita selalu ingat apa yang harus kita lakukan, dan membantu kita memilah aktivitas yang berfaedah untuk mewujudkan mimpi kita.

So, sudahi kesedihan kita yah. Iya, pasti berat rasanya saat gagal, tapi mari kita rayakan kegagalan itu dengan mengikhlaskan hati kita, mengevaluasi usaha kita, dan bangkitlah dengan rencana aksi yang lebih baik untuk masa depan kita.

Kita boleh gagal sekarang, tetapi bukan berarti kita kalah dalam kehidupan. Kegagalan diciptakan untuk menguatkan jiwa kita, memantapkan hati kita, dan memotivasi kita melakukan hal terbaik untuk kehidupan kita berikutnya. Tersenyumlah, dan jangan lupa untuk mengatakan “it’s okay to fail this time, but it won’t happen again” dan move on.