Sewaktu aku duduk di Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU), penilaian guru ketika kami ulangan atau ujian alias tes adalah angka seratus (100) yang  merupakan nilai tertinggi karena jawaban dianggap benar semua. Dan angka nol (0) adalah nilai terendah karena jawaban dianggap salah semua.

Aku pernah bahagia sekali mendapat angka 100 yang tertera di kertas ulangan Bahasa Indonesiaku ketika bersekolah di SMU. Di mana, cuma aku yang mendapat nilai yang tertinggi. Sebaliknya, ketika di SD, aku pernah dapat angka 0 dan bertinta warna merah ketika mendapati kertas ulangan Matematikaku.

Ketika angka 100 ditambahi persen (%) di belakangnya, 100% menandakan sesuatu yang asli, orisinal, dan murni. Misalnya, "100% Indonesia" yang menandakan kita asli Indonesia. Atau "Bensin Murni 100%" yang seolah-olah mengatakan bensinnya tidak memiliki campuran.

Ngomong-ngomong tentang 100. Ini adalah tulisanku yang ke seratus di Qureta (Give me applause!). Nanti editornya mau ntraktir gak ya? Di kafe Libertaria, Jogja (he he).

Btw, untungnya, istilah kata-kata yang dulu viral, "Jadi gue harus bilang WOW gitu?" sudah tidak berlaku lagi. Sehingga, aku bisa melenggang bebas untuk menulis "Perjalanan 100 tulisan dengan Qureta ini".

Mengapa Qureta?

Jika ditanya, mengapa aku menulis di Qureta? Padahal, aku dulu hanyalah seorang penulis di buku diari. Dan di media sosial (medsos), akulah sang penulis status dan notes di Facebook (FB). Awalnya, karena di akhir 2016, aku melihat posting seorang teman di FB yang mengunggah tulisannya yang terbit dari Qureta.

Aku kemudian membacanya, tentang Ahok. Apalagi, saat itu memang lagi heboh kasus Ahok dan orang-orang juga banyak yang menulis tentang Ahok. Aku jadi suka platform ini. Tulisan orang-orang di Qureta tentang Ahok "menyejukkan" dan berimbang. 

Aku pun mencoba menulis. Aku menulis cerita pendek (cerpen) pertama kali di Qureta. Ide itu muncul ketika pulang dari mengantar sepupu yang melamar gadisnya. Ditambah dengan pengalaman saat jatuh cinta dengan seseorang, maka jadilah cerpen yang baper.

Ketika itu publish di Qureta, aku senangnya bukan main. Aku jadi semangat menulis. Lagi pula, seingatku saat itu, tidak ada batasan jumlah tulisan. Aku menuliskan puisiku, opiniku, dan unek-unekku. Aku memang suka "curhat" pada tulisanku.

Ada tulisan yang diterima, ada tulisan yang ditolak. Tulisan yang ditolak itu tentang film. Aku menulis film yang baru saja kutonton di bioskop Fantastic Beast and Where to Find Them, 2016 dan dihubungkan dengan Wali. Aku menyimpannya, untuk mencoba mengeditnya.

Kemudian, aku sambi dengan mengirim tulisan yang lain, resensi buku yang telah aku tulis. Namun, aku sungguh kaget, menerima balasan dari resensi buku yang kutulis sendiri. Dari editor membalas dengan redaksinya yang seingatku seperti ini; "Ini tulisan Anda? Kami khawatir, ini tulisan orang lain."

Aku langsung syok, kaget sendiri. Aku ingin membalas ucapan editor. Namun saat itu, tidak ada ruang untuk "surat-menyurat". Dan aku juga tidak mengenalnya sama sekali. Jadinya, aku hanya menulis di statusku, FB;

"Mengapa tulisan tentang Wali ini tidak masuk di Qureta? Padahal, tulisanku ini dari hasil riset S2 dan telah menjadi buku. Apakah aku hanya mampu menulis tulisan yang ringan-ringan saja di Qureta?"

Yang ditanggapi seseorang dengan mengatakan, dikira plagiat kali.

Aku jadi "malas" dengan Qureta, walau masih sesekali mengirimkan tulisan juga ke sana. Namun, ketika Qureta memperbaiki sistemnya, aku mundur alon-alon. Sejak mengirimkan tulisan pertamaku, 29 November 2016 sampai dengan 13 Januari 2017, aku sama sekali tidak menulis di Qureta lagi.

Aku kemudian mencoba menulis di "ruang" yang berbeda, pada koran lokal sebanyak dua kali. Namun rasanya kurang puas. Mereka tidak update berita "online". Aku harus membacanya pada kertas. 

Aku juga menulis pada ruang yang bernama "Sudut". Namun antara dua atau tiga tulisan yang kukirim selalu ditolak. Pikirku, mungkin aku kurang "menyudutkan" atau aku yang gak garing, kriuk-kriuk.

Aku juga mencoba mengirim sekali ke "Small Talk", dan ke ruang-ruang penulisan lainnya. Namun, lagi-lagi ditolak. Mungkin, belum sesuai standar penulisan mereka. Aku jadi tidak mengirim tulisan lagi. Palingan aku buat cerpen untuk dikonsumsi pribadi.

Ilham Datang di 2019

Saat itu, aku lagi kuliah di kafe bersama beberapa mahasiswa. Salah satu dari mereka mengeluhkan wadah penulisan yang tidak ada di kampus kami tercinta. Apalagi, saat itu, dia lagi mencoba "pertarungan" menjadi ketua BEM. Dia ingin menulis tentang kampus. 

Aku tiba-tiba ingat pada Qureta. Aku bilang padanya, hasil dari diskusi (kuliah) kita ini coba kamu tuliskan. Nanti aku membantu mengedit dan mengirimnya pada Qureta. 

Kuakui, keunggulan Qureta memang menerima apa pun jenis, bentuk, dan macam segala tulisan. Sehingga, hasil kuliah pun bisa dituliskan di sana.

Aku kemudian menunggu tulisan mahasiswa tadi. Namun, akhirnya, aku yang menulis hasil kuliah kami dan mengirimkannya pada Qureta. Mahasiswa tadi sibuk dengan urusan pencalonannya.

Tulisan itu diterbitkan dan "Di-share seseorang". Aku langsung semangat untuk menulis lagi di Qureta. Apalagi, kemudian, ketika aku "menggandeng" dosen tamu yang sangat cerdas, ilmunya sayang ketika hanya dilewatkan tanpa dituliskan. 

Aku selanjutnya menuliskan diskusi dari kuliah-kuliah bersama dosen tamu tadi. Sekalian ingin me-review hasil kuliah. Aku juga ingin mahasiswaku mau terlibat dalam dunia tulis-menulis secara tidak langsung setelah melihat dosennya menulis (namun, "takdir" berkata lain, mahasiswa belum tergugah untuk menulis).

Bukan hanya hasil kuliah yang kutulis. Ketika ada film yang dekat di hari H Pemilu yang seakan-akan mencari kekurangan paslon calon presiden dan wakil presiden, aku tuliskan. 

Aku kaget tak percaya, ketika tulisan yang kata teman- teman, paragraf satu ke paragraf yang lainnya tidak nyambung, dan "belokannya" masih kasar. Namun di luar dugaan, dibaca ribuan orang. Bahagianya tuh di sini, ketika tulisan kita itu banyak yang baca. 

Aku pun makin hari makin suka menulis, apalagi suasana panas di pemilihan presiden dan wakil presiden. Banyak "perang" terjadi di pendukung, baik 01 maupun 02.

Aku pun menulis tentang "perang" itu. Kuakui, aku bukanlah orang yang pintar berargumen secara langsung. Aku lebih nyaman dengan menulis. Tulisanku juga speak-up kok. Maka, aku menyuarakan pendapatku dengan menulis. Walau, aku memang menulis sebagai bagian dari 01.

Kritikan ketika Ber-Qureta

Ketika aku selalu memposting tulisanku yang telah terbit di Qureta di medsos, adikku, Ammoz, bilang; aku bosan melihat statusmu. Qureta terus! 

OMG Hellow, adikku melemahkanku banget. Mungkin pikirnya aku kurang kerjaan kali. Aku sampai sebel, dan bilang padanya; bilang saja sirik, kamu belum bisa menulis.

Dia membalasnya; aku bisa, kok. Aku kemudian bilang, kalau bisa buat tulisan tandingan. Namun, sampai hari ini, dia belum bisa mewujudkannya. Walau begitu, dia adalah "pengkritik" yang sangat hebat dan berarti buatku. 

Dia menjadi orang yang pertama berkomentar ketika tulisanku di Qureta banyak typo-nya. Atau ada kalimat yang gak nyambung, gagasan yang tidak pada tempatnya, tulisan yang tidak diuraikan dasar pemikirannya, sampai pada ide-ide yang tidak asyik bin seru.

Sampai pada kritikan tulisan yang ngasal katanya, "asal nulis, asal jadi tulisan",  karena saat itu, aku memang ingin menerapkan One Day, One Writing (ODOW). Apalagi, tulisanku belum dijelaskan dengan baik dan benar. Belum dielaborasi dan pendalamannya belum sempurna.

Aku pun tertantang untuk menulis yang bagus, dan update. Menulis itu ibarat mengasah pisau. Makin sering diasah, makin tajam. Sama seperti menulis di Qureta, makin sering menulis, makin bagus tulisan kita. 

Menulis di Qureta itu menulis sejarah hidupku. Aku menulis kejadian, pengalaman, dan ingatan. Aku ingin selalu menulis dengan bebas, lepas, dari hati tanpa melihat "referensi" lainnya, tapi benar-benar jujur dan tulus dari pemikiran dan hati nuraniku sendiri. 

Aku tidak banyak menulis di diari lagi yang lebih pribadi atau privat. Diariku sudah berbentuk Qureta yang bisa dikonsumsi semua orang, publikJadilah, menulis di Qureta itu (juga) untuk menghilangkan stres. Stres melihat "situasi dan kondisi" kehidupan. Dan bisa diketahui orang dan dikomentari (diberikan solusi).

Maka, maafkan, jika tulisanku memang banyak yang curhat. Namun, semoga tidak membosankan. Tapi, mungkin yang terpenting bagi editor adalah tidak belepotan (hikz).

Namun, yang sangat membahagiakan ketika tulisanku dipuji; keren, inspiratif, menggugah, lancar, renyah, mengalir bagai air, dan sederhana dalam menjelaskan sehingga mudah dimengerti. Bahkan dipuji oleh seseorang yang mengajarku menulis, mbak Mucha, sebagai tulisan yang beautiful and heartwarming.

Apalagi kemudian oleh beberapa orang, aku dianggap senior di Qureta karena mendapat label; penulis produktif. Mereka pun menulis di Qureta. Tapi, yang lebih heboh, ketika ada yang mengatakan; aku yang punya Qureta (aduh, bisa dimarahi pak Luthfi Assyaukanie ini).

Walaupun begitu, bersama Qureta, aku bolak-balik mengedit tulisan yang sudah kukirim namun dikembalikan editor. Aku terus memperbaikinya, karena menurutku sayang jika tidak terbit, padahal sudah ditulis. 

Karena Qureta, aku punya lawan dan kawan. Haters and followers? Karena Qureta juga, aku pernah di-bully, dan dimarahi narasumberku karena menulis namanya terang-terangan dan tidak meminta izin ketika menuliskannya di Qureta. Namun, ada juga yang mau dirinya kutulis di Qureta (wow!).

Maafkan lagi, kalau tulisanku kali ini agak lebay. Terakhir, ada satu harapan, tulisan-tulisanku ini dapat disatukan dan dibukukan Qureta (amin)

Inilah perjalanan hidupku bersama Qureta. Qureta telah mengisi hari-hariku dalam suka dan duka, bahagia dan sedih. 

Namun, aku yang bahagia dan bangga dengan Qureta. Qureta hadir untukku sebagai "teman bicaraku". Semuanya kukembalikan pada Qureta. Terima kasih, Qureta. Terima kasih, pembaca "sejati" Qureta. I will keep on writing.