Pada suatu pagi di bulan April, seorang pemuda membuka pintu rumahnya berharap jingga dari rona merah mentari masih tersisa. Ia menatap jauh ke hamparan persawahan di depan rumahnya, ia menatap tajam, tapi kosong. 

Sawah mengingatkannya pada kehidupan keluarga, sementara mentari yang tinggal menyisakan warna jingga membuatnya teringat oleh warna gincu yang selalu melekat pada perempuan yang didambanya.

Tak membiarkan perempuan itu melayang dan meraung serta berjingkrak dalam kepalanya, selain banyak pekerjaan rumah, pemuda itu juga punya pekerjaan rutin. 

Setiap bangun pagi selalu memasuki persawahan, pada pematang sawah yang penuh rumput gajah setiap saat ditebang untuk memberi makan pada beberapa ekor sapi peliharaannya.

Sebenarnya pemuda itu sesekali jenuh pada aktivitas kerjanya, membosankan. Namun, selain tuntutan keluarga, ia juga memaklumi bila melihat seumurannya bersama istri, anak, dan keluarga kecil berbahagia di dekat rumahya, menurutnya pemuda harus giat bekerja.

Pemuda harus menikah, punya anak dan membahagiakan orang tua, hal tersebut tak akan tercapai bila hanya mangkal di cafe siang-malam. Itulah yang membuatnya urung berontak dan langsung bergegas bekerja lagi.

Sebagai seorang sarjana muda lulusan dari kampus ternama di kabupaten tempat ia tinggal, seharusnya tak lagi kembali bergelut dengan lumpur, terbakar mentari setiap hari di sawah, tapi tak ada pilihan lain. 

Baginya gelar tak akan mengubah keadaan, ijazah hanya benda mati, kerja lah yang merubah nasib setiap orang.

Namun, bagaimana pun juga ia giat bekerja, setiap lelaki yang hidup butuh perempuan yang layak sesuai pendidikannya. Sementara waktu terus melaju cepat, usia merubah warna kulit dan rawut wajah, ia kadang mmerenung. Membayangkan bagaimana bila ia terus bekerja hingga tua tetapi tidak menikah? Pertanyaan itu sesekali menampar di dalam benaknya.

Menikah adalah urusan mendalam, belum lagi hal itu butuh proses panjang. Lagian perempuan yang dekat dengannya hingga saat ini belum tentu tulus dan mau sehidup-semati. Ia semakin bingung, dihadapkan dengan gejolak antara keluarga, pekerjaan, dan cinta.

Siang dan malam terus berganti tanpa terasa, lagi-lagi ia ke sawah memberi makan ternak mendahului mentari mengelupas embun di pucuk dedaunan yang lembut. 

Pemuda dengan pekerjaan kasar sudah semestinya tidak dialami oleh dirinya yang menyandang gelar sebagai orang terdidik, tetapi lingkungannya yang masih menganggap dirinya bukan siapa-siapa, menguatkan tekadnya untuk membuktikan bahwa dirinya juga mampu, sekalipun dengan harus bekerja sekeras mungkin.

Sekarang masuk bulan Mei. Pemuda itu belum juga menikah, ia masih sama dengan serangkaian gejolak di ingatan beserta aktivitasnya yang sesekali membawanya pada titik jenuh. 

Sesekali masuk chat atau telepon dari perempuannya, membuat setumpuk lelahnya terbayarkan. Ia betul-betul merasakan bagaimana kekuatan cinta menyihir segala penat jadi gembira.

Kebahagiaan pemuda itu tak tertandingi bila saling bertegur sapa walau hanya sebatas telepon, di bulan Mei ini dirinya benar-benar ingin segera menikahi perempuannya, ia tak mesti jadi Sapardi Djoko Damono yang harus menanti bulan Juni dengan hujan yang menyertainya.

Tetapi apakah perempuannya benar-benar mau dinikahi, atau dirinya hanya sebagai pelampiasan saat perempuan yang didambanya terabaikan oleh lelakinya yang lebih tampan dan mapan? 

Ia mencari cara agar segera terlepas dari prasangka buruk itu. Ia yakin perempuan yang ditemani komunikasi selama ini adalah orang baik.

Tanpa sadar ia sudah terjebak dalam dunia rasa. Banyak hal dilakukan bukan lagi untuk keluarga terlebih dirinya, ia didominasi emosional terkhusus perempuan yang diklaim sebagai kekasihnya itu.  

Menghabiskan banyak waktu di kedai kopi hanya untuk menikmati secangkir kopi dan segala kesenangan asmara.

Perempuan yang lumayan cantik itu masih menjalani proses kuliah dengan semester yang menjelang akhir, tentunya akan memakan banyak biaya. 

Berbagai cara dilakukan agar bisa selesai dengan biaya sendiri tanpa merepotkan orang tua, itulah membuatnya mencoba beberapa alternatif termasuk bisnis.

Akhir-akhir ini pemuda itu tidak lagi segiat dulu bertani dan beternak, seolah ia terperangkap, konsisten pada perasaannya yang bertumpu hanya pada dia seorang, sementara perempuan tersebut tidak lagi memikirkan banyak hal pada dunia asmara.

Ia ingin menyelesaikan studinya secepat mungkin dan bisa mengembangkan bisnis, ia ingin sukses dengan segala standar kemewahan dalam benaknya. Perlahan perempuan ini menampik rasa dalam dirinya, cinta tidaklah penting.

Ketergantungan pada harapan yang absurd dialami oleh pemuda itu, ia jadi khawatir harapan yang selama ini ditanam bisa jadi berbuah kesia-siaan. Selama sapaan pemuda itu tak terbalas, ia menyadari tentang kebosanan bertani, sakit digores rumput, atau luka akibat jatuh di pematang sawah, ternyata tidaklah seberapa di banding jerit dari luka tak berdarah di dalam dada.

Satu-satunya yang membuat pemuda itu bertahan adalah keyakinannya, bahwa setiap permulaan akan berakhir, segala cinta punya luka, kegembiraan pun kelak jadi sedih, sebab hidup ini seimbang maka yang berlalu hanya bisa diikhlaskan. Demikianlah ia mengobati dirinya sendiri agar bisa bangkit dari pengaruh rasa yang belakangan ini menggerogoti nyaris seluruh tubuhnya.

Semula pemuda itu memiliki keraguan terhadap semua perempuan, ia sempat berpikir akankah semua perempuan mengabaikan lelaki yang tulus? Olehnya yang terbaik dari lelaki untuk selamat adalah pura-pura dengan segala kepalsuan.

Tetapi niatnya urung, ia dididik sejak kecil untuk jujur dan selalu tabah, sehingga ia tidak ingin menjadikan pengalaman pribadinya sebagai bahan untuk menggeneralisir yang lain.

Ia hanya berharap semoga hanya dirinya lah mengalami hal semacam ini, semoga lelaki lain yang juga tulus tidak dikhianati. 

Ia konsisten dan memaklumi, bahwa sejak manusia ada di bumi, kebenaran selalu berat dilaksanakan dan pahit diucapkan, belum lagi dirinya memang diasuh oleh berbagai problem bahkan sejak ia masih kecil.