Indonesia merupakan bangsa besar, yang terdiri dari ribuan pulau, dan dibangun di atas pondasi keberagaman suku dan agama masyarakatnya.

Kemampuan Indonesia dalam mengelola keberagaman masyarakatnya secara baik dalam balutan motto kebangsaan Bhineka Tunggal Ika, membuatnya terkenal sebagai bangsa yang hebat, aman, damai, dan harmonis.

Sayangnya, akhir-akhir ini, citra Indonesia sebagai bangsa yang hebat, aman, damai, dan harmonis di tengah keberagaman masyarakatnya, terusik dengan munculnya berbagai aksi kekerasan, konflik, dan sentiment bernuansa agama dan etnis yang dilakukan anak bangsanya sendiri.

Sebagai bangsa besar yang memiliki beragam etnis dan agama, Indonesia memang harus menerima konsekuensi persoalan yang akan muncul yang dilatarbelakangi keberagaman dua aspek tersebut.

Di satu sisi, keberagaman ini akan menimbulkan masalah seperti konflik bernuansa agama, suku, ras, dan golongan apabila satu sama lainnya belum ada saling memahami, menghargai, dan menghormati perbedaannya.

Di sisi lain akan menjadi kekayaan kultur yang luar biasa apabila keberagaman tersebut dapat hidup dalam kebersamaan, kesetaraan, dan keadilan.

Namun untuk mewujudkan kehidupan bersama dalam keberagaman tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang dan memerlukan berbagai upaya pembinaan di dalam kehidupan masyarakat secara kontinyu dan berkelanjutan.

Sejarah telah mencatat bahwa beberapa kali bumi persada Indonesia ini dilanda peristiwa berdarah berupa kerusuhan bernuansa etnis dan agama.

Masih munculnya sentimen agama dan etnis, terutama dalam perhelatan politik bangsa Indonesia, membuktikan bahwa perbedaan – baik dari suku, agama, maupun golongan- masih menjadi potensi munculnya konflik.

Padahal selama ini kita selalu diperkenalkan dengan berbagai konsep tentang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan perbedaan-perbedaan lain dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Di samping itu, selama ini seluruh masyarakat selalu ditekankan untuk mengembangkan kerukunan umat beragama dengan cara saling menghargai dan menghormati para pemeluk yang berlainan agama.

Namun terkadang antara pemeluk agama belum bisa hidup secara bersama dan bekerjasama untuk mengatasi berbagai persoalan-persoalan social kemanusiaan, seperti lingkungan hidup, kemiskinan, dan sebagainya.

Antarpemeluk agama masih berlomba untuk mempromosikan bahwa agamanya yang paling benar, paling sempurna, dan yang diterima di kehidupan kelak.

Perilaku pemeluk agama seperti ini tentu dapat menimbulkan sentiment terhadap pemeluk agama lain, sehingga memicu munculnya konflik bernuansa agama.

Seharusnya, perbedaan keyakinan (agama) itu disikapi antarpemeluk agama sebagai peluang untuk saling memahami dan mengenal satu sama lainnya dan untuk menghilangkan prasangka.

Di samping itu, adanya realitas keberagaman keyakinan yang hidup dalam suatu bangsa menjelaskan bahwa secara teologis manusia diberi kesempatan untuk memilih keimanan masing-masing tanpa ada rasa untuk saling mengklaim kebenaran jalan menuju Tuhan yang mereka tempuh.

Dengan demikian, perbedaan keyakinan dalam beragama tidak menghalangi manusia untuk saling mendorong untuk hidup merasa nyaman di tengah perbedaan keyakinan masyarakat yang plural dan multicultural, seperti di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

Dalam konteks pluralisme, tantangan dalam membangun toleransi dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia biasanya muncul dari adanya sikap menganggap bahwa yang dimiliki sebagai yang paling benar, paling absah, dan paling ortodok, sementara yang lain dianggap sebagai yang salah, sesat, dan bid’ah (heterortodok).

Memperhatikan klaim kebenaran masing-masing agama di atas, bagaimana mungkin mendamaikan segala per (pem) bedaan ini dalam konteks pluralisme? Bagaimana pula sesuatu yang memang berbeda harus disikapi secara sama? Apakah memang ada keselamatan pada semua agama?

Melihat adanya berbagai benturan dan ketidaksamaan ideologis antaragama, berbagai benturan dan perbedaan dalam masalah adat istiadat, upacara ritual kegamaan dan ibadah menyangkut tata cara menjalani hidup, maka bagaimana mungkin semuanya dipandang benar dan mengimani serta mengamalkan semua agama itu bisa menjadi sumber kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.

Oleh karenanya, tujuan yang hendak dicapai oleh munculnya pluralisme ini sebenarnya bukanlah keseragaman bentuk agama. Tetapi gagasan pluralisme keagamaan adalah berdiri di antara pluralitas yang tidak berhubungan dan kesatuan monolitik.

Jadi ketakutan akan hilangnya keyakinan diri akibat memberi apresiasi dan afirmasi kepada yang lain jelas merupakan sesuatu yang dibuat-buat.

Bahkan yang terjadi jika seseorang telah mampu melintas batas terhadap apa yang diyakininya justru akan semakin menambah keimannnya.

Sedangkan multikulturalisme menyediakan wadah untuk penampakan ‘Yang lain’(the other). Kehadiran yang lain (the other) itu harus dipahami tanpa reduksi atau distorsi. Ia harus tampil dalam soliditas dan keutuhannya masing-masing.

Adanya berbagai perbedaan dan kemajemukan haruslah diterima sebagai sarana relasi, bukan ancaman destruktif atau dijadikan alasan untuk menjalankan tindak represif. Dalam perspektif multikulturalisme harga kesetaraan ditinggikan, sebaliknya penyeragaman (uniformitas) adalah hal yang harus dihindari.

Dalam konteks keberagamaan, perspektif multikulturalisme memberikan penyadaran berikut penegasan untuk saling, tidak hanya menghormati “Yang (agama) lain”, tetapi memberi dan memfasilitasi “Yang lain” tersebut mengaktualisasikan apa yang selama ini diyakininya.

Selain itu, multikulturalisme juga mengajak umat beragama untuk menghargai unsur-unsur lokal dan menjadikannya sebagai upaya memperkaya historitas keberagamaan seseorang.

Bukan malah sebaliknya, membunuh kreativitas lokal dengan alasan memurnikan (purifikasi) agama dari hal-hal yang berbau bid’ah (tentu saja bid’ah yang baik). Melalui multikulturalisme, seseorang diajak beragama secara “sederhana”, tidak berlebihan.

Sebuah model keberagamaan yang humanis dan transformatif, yang mampu menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai bangsa yang berciri plural dan multikultural, perjalanan sejarah bangsa Indonesia juga diwarnai oleh tension ketegangan sebagai konsekuensi dari manajemen pluralitas yang tidak harmonis. Ketegangan tersebut sering mengambil bentuk-bentuk radikal, berupa penyerangan massa dan konflik berdarah yang menimbulkan korban.

Mengingat pentingnya makna penghayatan dan penghargaan terhadap nilai-nilai pluralitas dan multikultural sebagai modal kedamaian sosial dalam kehidupan masyarakat, maka perlu bagi segenap masyarakat yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik secara individu maupun kelompok untuk memahaminya sebagai basis merawat toleransi di dalam kebhinekaan bangsa Indonesia agar dapat hidup dalam sebuah harmoni pluralistik.

Apalagi, kini bangsa Indonesia berada di era reformasi. Sebuah zaman yang membuka kran demokrasi sehingga semakin memberi ruang bagi kelompok-kelompok masyarakat dalam mengartikulasikan identitas kultural, agama, dan politiknya masing-masing.

Namun, dalam menghadapi tensi perbedaan di era demokrasi bangsa Indonesia, perlu dikembangkan dialog yang positif dan kondusif untuk mewujudkan kerukunan di tengah keberagaman umat beragama.

Prinsip dialog dalam dimensi keberagaman ini di antaranya; (1) Toleransi, yaitu bersikap menghargai dan membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, dan sebagainya yang berbeda dengan pendirian diri sendiri; (2) Inklusivitas, yaitu kesediaan membuka diri dan bersikap terbuka; dan (3) Fairness, yaitu kemauan untuk bersikap jujur.

Ketiga prinsip ini harus terus dikembangkan sebagai wujud nyata merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam motto kebangsaan Bhineka Tunggal Ika.