Awan putih mengalir pergi mengikuti hembusan angin dari arah selatan, langit tampak biru cerah.  Matahari sudah menjadi senja yang memiliki estetika siap berpamitan pada sang waktu. 

Ketika berjalan saya kepikiran mengambil sebuah buku berjudul "API ISLAM Nurcholish Madjid, Jalan Hidup Seorang Visioner", pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit buku Kompas,  pada Agustus  Tahun 2010. Buku ini langsung ditulis oleh  Ahmad Gaus AF, adalah seorang penulis yang pernah menjadi pemimpin Redaksi Penerbit Paramadina (1999-2005). Menjadi Direktur Publikasi dan Jaringan Internasional pada Lib For All Foundation, Amerika Serikat (2005-2008). Kini menjadi Dosen Bahasa dan Kebudayaan Swiss German University (SGU). 

Banyak karya-karyanya telah dipublikasikan di antaranya Passing Over (Gramedia, 1998); Islam, Negara, dan Civil Society ( Paramadina, 2005), dan Menjadi Indonesia diterbitkan oleh Mizan Tahun 2006, Serta Filantropi dalam Masyarakat Islam yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, Pada Tahun 2008, Biografi Djohan  Effendi diterbitkan oleh Kompas pada Tahun 2009, Biografi Farouk Muhammad diterbitkan oleh Mizan pada Tahun 2009 juga.

Buku "API ISLAM Nurcholish Madjid"  ini menarasikan dan merekam biografi perjalanan hidup seorang yang terkenal visioner, pertualangan intelektual luar biasa, obsesi, kesahajaan, dan sikapnya dalam menghadapi badai keritik, hujatan, dan fitnah untuk mendakwahkan pandangannya tentang suatu konsep perubahan  dalam sejarah Islam Indonesia.

Buku ini juga  usaha untuk merekonstruksi bangunan pemikiran Cak Nur, lengkap dengan segala kontroversi, kesalahpahaman dan implikasi-implikasinya.

Nurcholis Madjid atau yang disapa akrab dengan Cak Nur lahir di Mojoanyar, kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, pada Jumat Legi, Tanggal 17 Maret 1939. Cak Nur lahir di lingkungan pesantren. Ayahnya, H. Abdul Madjid, adalah seorang santri dari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. 

Cak Nur (1939-2005) dikenal sebagai pemikir Islam paling Kontroversial. Pandangannya tentang : Sekularisasi,  Islam Yes Partai Politik No, tidak ada negara Islam, hingga Pluralisme, telah menyulut perdebatan panjang. Ia mendobrak kebekuan politik dengan seruan oposisi, Pancasila adalah Ideologi Terbuka. Pada akhirnya beliau dikenal sebagai Guru Bangsa lantaran seruan-seruan moralnya yang memberi arah masa depan bangsa. 

Tonggak pembaruan Cak Nur dimulai sejak ia mengungkapkan pemikiran-pemikirannya dalam ceramah halal bi halal di Jakarta pada tanggal 3 Januari 1970. Cak Nur ketika itu menawarkan sekularisasi dan liberalisasi pemikiran Islam. Sejak itulah pemikiran Cak Nur banyak dikaji dan dibahas dalam konteks hubungan dan dinamika keislaman dan keindonesiaan.

Beberapa Pemikiran Nurcholish Madjid

Tentang Sekularisasi 

Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme, sebab sekularisme is the name for an ideology, a new closed world view which function very much like a new religion. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah setiap bentuk liberating development. Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami itu, mana yang transendental dan mana yang temporal," demikian ucap Cak Nur dalam pidatonya.

Sekularisasi Nurcholish adalah pengakuan wewenang ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam menjalankan kehidupan duniawi, di mana ilmu pengetahuan itu sendiri terus berproses dan berkembang menuju kematangan.

Cak Nur menganggap bahwa sekularisasi mempunyai kaitan erat dengan desakralisasi.  Yang di mana yang boleh dianggap sakral atau suci hanya Tuhan dan yang selain Tuhan harus didesakralisasikan.

Tentang Pluralisme, 

Pluralisme adalah keterlibatan aktif dalam keragaman dan perbedaannya, untuk membangun peradaban bersama. Pluralisme lebih dari sekedar mengakui pluralitas keragaman dan perbedaan, tetapi aktif merangkai keragaman dan perbedaan itu untuk tujuan sosial yang lebih tinggi, yaitu kebersamaan dalam membangun peradaban. Atau "pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban". 

Tentang Liberalisme

Liberalisme adalah kebebasan hak-hak sipil: kebebasan berpikir, berpendapat, beragama dan berkeyakinan. Namun, dalam liberalisme juga tetap ada hukum. Lebih khususnya liberalisme agama berarti bahwa negara tidak memberikan perlakuan khusus pada salah satu agama, terlebih lagi terhadap agama yang mayoritas, sehingga masyarakat merasa aman dan tidak takut untuk mengakui serta mengekspresikan keyakinan beragamnya.

Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005. Ia pergi meninggalkan warisan ilmu pengetahuan kepada generasi sekarang dan mendatang. Buah pikirannya menjadi rujukan yang terus dibicarakan. Obsesinya untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar telah menginspirasi banyak kaum muda menempuh jalan yang dilaluinya, mencermati pemikirannya, serta mencontoh sikap dan tindakannya.

Hal yang terpenting dapat kita petik dari buku ini adalah dalam perjalanan sejarah tokoh besar dan sejarah Islam, orang yang seperti mereka memiliki pemikiran revolusioner memang seringkali dibenci, dicaci dan dikucilkan. Tetapi  mereka berani mengambil resiko itu sebab jiwa-jiwa mereka telah dibakar api Islam yang ingin diperjuangkannya. Berani berpikir revolusioner Cak Nur menggebrak dan berteriak supaya orang-orang terbangun dari tidurnya. Mengutip kata Bung Karno, Cak Nur menyeru umat Islam untuk "menggali api Islam"  untuk membangun peradaban bangsa Indonesia.