17 tahun yang lalu menjelang era-milenium hingga awal tahun 2000-an. Jahitan keragaman Indonesia pernah mendapat ujian berat. Setelah tindakan intoleransi mencoreng wajah kebinekaan kita lewat tragedi kerusuhan Ambon dan Poso yang melibatkan kelompok Muslim dan kelompok Kristen di tahun 1999 yang berujung pada pengrusakan puluhan rumah ibadah. Juga tragedi kerusuhan suku Dayak dan Madura di Sampit, Kalimantan Tengah tahun 2001 yang memakan korban jiwa hingga ratusan orang.

Tidak hanya itu, dalam 1-2 tahun kebelakang berbagai peristiwa intoleransi juga semakin marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Pembakaran Masjid di Tolikara Papua (2015), Perusakan Masjid di Bitung, Sulawesi Utara (2015) dan Perusakan Gereja di Singkil, Aceh (2015) dan Larangan Pembangunan Masjid Muhammadiyah di Bireuen, Aceh (2016) adalah wujud nyata bahwa “toleransi” masih menjadi kata yang mahal dalam keragaman Indonesia.

Peristiwa-peristiwa intoleransi itu jelas sangat melukai untaian pusaka paling berharga yang kita percayai bernama Kebhinekaan. Sebabnya, Indonesia merupakan untaian yang disatukan oleh berbagai macam  suku, agama, kepercayaan, budaya dan kebiasaan menjadi jahitan merah putih Indonesia.

Artinya permasalahan mayoritas-minoritas, pribumi-nonpribumi, kulit hitam-putih, hidung mancung-pesek dan rambut keriting-lurus telah selesai, saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta di Jakarta, 71 tahun yang lalu.

Sumatera Utara dan Keragamannya

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi dengan penduduk yang plural dan tersebar di wilayah pegunungan, dataran rendah hingga pesisir. Tercatat menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2015 adalah 13.937.797 jiwa. Angka itu menegaskan bahwa di Indonesia dalam hal jumlah penduduk, Sumatera Utara hanya kalah dari Jawa barat, Jawa Timur dan jawa Tengah.

Di Sumatera Utara terdapat pula berbagai macam suku. Mulai dari suku Jawa 16,5%, Melayu 42%, Batak 35% (Toba, Mandailing, Simalungun, Nias, Angkola, Pakpak, dan Karo) hingga suku-suku lain sekitar 6% (Minang, Aceh, Tionghoa).

Di sisi yang lain, masih tentang demografi kependudukan di Sumatera Utara. Terdapat pula agama dan kepercayaan beragam yang hidup rukun berdampingan dalam kesehariannya. Seperti; agama Islam 66,09%, Kristen 31%, Buddha 2,34% juga Hindu dan Koghucu 0,11%. Juga tentang kepercayaan lokal seperti; Parmalim, Sipalabegu dan Pemenah. Demikian pula terkait bahasa.

Di Sumatera Utara berbagai bahasa digunakan dalam aktivitas kesehariannya seperti bahasa Batak Toba, Mandarin, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, Mandailing, Nias, Minangkabau, Melayu dan Jawa. Atas dasar keberagaman dan pluralisme ini pula beberapa literatur sering menyebutkan Provinsi Sumatera Utara dengan julukan Indonesia Mini.

Saya lahir dan tumbuh dewasa pada sebuah desa di pedalaman kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ingatan paling awal saya tentang keragaman adalah ketika saya ditemani ibu ke sebuah pasar mingguan (pekan) untuk membeli baju, celana dan sepatu baru yang akan dipakai di malam natal.

Saat itu secara bersamaan tetangga dan teman bermain saya yang seorang muslim juga ditemani ibunya membeli hal serupa untuk digunakan di hari lebaran. Kata Ibu saya saat itu, hari Natal dan hari Lebaran tahun itu akan dirayakan hampir bersamaan. 27 Desember 2000, Umur saya masih 10 tahun pada saat itu dan saya masih kelas 4 SD.

Pada memori saya masih terekam sangat jelas betapa keragaman dan toleransi masih menjadi kebiasaan yang rutin dilaksanakan. Silaturahmi dan kunjungan berbalas di hari besar, baik hari raya dan natal/tahun baru juga masih rutin dilakukan hingga hari ini.

Jauh daripada itu toleransi dan solidaritas kebersamaan juga masih sangat ketara. Baik di saat pesta perkawinan maupun melayat pada saat ada yang meninggal dunia.

Di sisi yang lain, saya juga membaca berita-berita di surat kabar mengenai pertujukan barongsai menyambut hari raya Imlek di seluruh pelosok wilayah di Sumatera Utara juga berjalan tertib dan aman. Kesan bahwa Sumatera Utara sebagai provinsi yang intoleran selama ini sangat jauh dari pemberitaan dan memang kebenarannya seperti itu.

Namun, catatan tentang keragaman dan toleransi di Sumatera Utara sedang diuji. Gurat hitam dua peristiwa yang mengancam kebhinekaan Sumatera Utara sebagai cerminan Indonesia mini menjadi isu yang diperbincangan banyak orang dalam satu bulan terakhir.

Pembakaran wihara dan kelenteng di Kota Tanjungbalai dan Tragedi percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Kota Medan pada minggu pagi tanggal 1 september 2016 yang lalu adalah isu-peristiwa yang mengancam toleransi di Sumatera Utara akhir-akhir ini.

Permasalahan ini bahkan menjadi pemberitaan media-media nasional dan mau tidak mau segera harus dicarikan solusinya agar tidak meluas seperti tragedi intoleransi sebelumnya. Sebab, apapun itu tidak hanya di Sumatera Utara. Tindakan intoleransi dengan wujud apapun tidak pantas ada dan hadir di tengah keragaman Indonesia. 

Pengalaman bangsa Indonesia atas tragedi Ambon dan Poso juga kerusuhan di Sampit masih menjadi kenangan yang sangat mengancam dalam tinta gurat kelam sejarah Indonesia.

Tetap diam pasrah pada keadaan terhadap kondisi seperti ini tentu bukan pilihan. Sebab, nilai-nilai keragaman dan kebhinekaan merupakan sesuatu yang harus terus di rawat, di pupuk dan dikembangkan untuk kita tuai hasilnya di masa depan. 

Puzzle Keragaman

Indonesia Ibarat satu kesatuan gambar utuh dalam permainan Puzzle. Agama, kepercayaan, suku, budaya dan gugusan pulau-pulau nusantara yang mendiaminya adalah potongan gambar acak berwarnanya. Sementara toleransi adalah lem perekat yang berfungsi menyatukan potongan puzzle tersebut.

Satu saja wilayah Indonesia yang dirobek oleh rasa intoleransi berarti telah melukai keberagaman dan merusak keutuhannya. Dibutuhkan kesabaran, keuletan dan keberanian dalam merawat keragaman agar puzzle tersebut tetap utuh dan memiliki arti.

Merawat keragaman berarti menyelamatkan Indonesia. Sumatera adalah Indonesia, Jawa adalah Indonesia begitu pula Sulawesi, Kalimantan dan Papua juga adalah Indonesia. Intoleransi tidak pantas hadir di mana pun di tanah ibu pertiwi. Bendera Indonesia bisa rusak karena angina, badai atau lapuk karena di makan waktu, tapi bendera Indonesia tidak boleh dirobek oleh rasa Intoleransi.

Kita harus tetap saling menjaga, saling menghormati dan saling mengingatkan juga bahu membahu bergotong royong menjaga puzzle keragaman kebhinekaan Indonesia tidak tercecer oleh perilaku Intorensi. Sebab dengan bersatulah harapan tentang cita-cita luhur kemerdekaan Indonesia masih tetap terjaga.

#LombaEsaiKemanusiaan