Peneliti
1 tahun lalu · 713 view · 3 menit baca · Politik 26315.jpg
Anies Baswedan saat menyampaikan sambutan pada acara milad FPI ke-19 di stadion Kamal Muara Jakarta Barat (19/08/2017) / Foto : m.tempo.co

Merawat Kebhinnekaan dalam Bingkai NKRI Bersyariah?

Sepi dari pemberitaan dan tak terdengar kabarnya, Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri acara peringatan hari ulang tahun ke-19 Front Pembela Islam (FPI) di Stadion Kamal Muara, Jakarta, Sabtu (19/8).

Anies sempat menyampaikan sambutan di hadapan ribuan jemaah FPI. Dalam sambutannya, Anies berharap agar FPI mampu merawat kebhinnekaan di Indonesia.Ia juga mengingatkan agar FPI tidak mengancam keberagaman yang dimiliki Indonesia. 

"Harus hadir bukan mengancam, harus hadir justru merawat kebinekaan. Mari tunjukkan ke dunia bahwa 19 tahun perjalanan kemarin dan tahun-tahun ke depan adalah tahun-tahun di mana masyarakat Indonesia merasakan kehadiran FPI sebagai penjaga kebhinnekaan," kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga meminta FPI menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat. Katanya, persatuan bangsa tidak akan tercapai jika ketimpangan sosial masih terjadi.

Anies mengajak FPI untuk tidak berhenti berjuang bersamanya membawa keadilan yang diklaim kerap dilupakan pemerintah selama ini.

"Kita sering bicarakan persatuan, tapi melewatkan keadilan. Padahal, keadilan itulah pondasi persatuan. Insya Allah FPI siap menghadirkan keadilan sosial di Indonesia," ujarnya.

Kehadiran Anies pada milad FPI ini tampaknya adalah semacam balas budi untuk FPI sebagai salah satu ormas yang telah berjasa besar dalam menghantarkannya ke kursi DKI 1, mengalahkan pejawat Ahok di Pilkada DKI 2017 beberapa waktu yang lalu.

Ini adalah balas budi Anies yang pertama dan tentu saja bukan yang terakhir untuk FPI, karena setelah ini pun ke depan, insya Allah, tetap akan terus diikuti oleh balas budi yang lainnya.

Politik balas budi adalah baik-baik saja, lumrah dan ora opo-opo. Sah-sah saja, apalagi dalam dunia politik. Bukti bahwa Anies benar-benar bukan termasuk "kacang yang lupa kulitnya" dan ia seorang yang sangat tahu berterima kasih.

Paling tidak, berterima kasih kepada FPI yang sudah all out dengan berbagai cara (pakai isu SARA, unjuk rasa berjilid, dan lain-lain itu) mendukungnya selama ini, sehingga berhasil memenangkan kompetisi dan sebagai gubernur terpilih DKI Jakarta kini.

Cuma saja, sikap Anies yang selalu merapat dan menyambangi FPI sebagai kelompok yang disebut oleh Anies sendiri kelompok ekstremis dan selama ini sudah jelas ketahuan rekam jejak FPI dalam melakukan kekerasan dan kontra kebhinnekaan adalah bertentangan dengan nalar (contra rationem) dan kenyataan yang ada. Ini sungguh tidak beradab dan sudah kehilangan akal (nalar) sehat.

Bagaimana mungkin seorang Anies menyimpulkan bahwa FPI adalah garda terdepan untuk merawat kebhinnekaan, sementara FPI sendiri yang merusak kebhinnekaan itu selama ini? Apalagi dengan tema miladnya berbunyi seperti ini, "Merawat Kebhinnekaan dalam Bingkai NKRI Bersyariah". Ringkasnya, Anies sangat setuju dengan tema FPI ini. Bukankah ini sikap yang sangat bertentangan dengan kenyataan?

Jangan-jangan dulu pada masa kampanye Pilkada DKI pernah viral tanda tangan Anies-Sandi pada secarik kertas bertuliskan baiat untuk "Jakarta Bersyariah", walaupun itu sudah dibantah oleh ketua Tim Suksesnya, Eep Saifullah Fatah, menemukan poin dan relevansinya di sini. Logikanya, jangankan Jakarta, Indonesia saja siap "disyariahkan" oleh FPI.

Artinya, dengan embel-embel kata "bersyariah", ini mengandaikan ada NKRI yang lain dan ada keinginan membangun NKRI yang baru dan berbeda dengan konsep hukum ketatanegaraan yang dianut oleh NKRI selama ini. Ini yang rancu alias contradictio in terminis.

Sekarang ini, di Indonesia memang ada kecenderungan (baca: tren), dalam hal apa saja, lebih lagi berkaitan dengan suatu produk, suka sekali ditambahkan atau disematkan label dengan kata "bersyariah" ini. Sebut saja, bank, hijab, produk asuransi, hotel dan lain-lain. Syukur saja, tidak ada yang namanya "masjid bersyariah", atau judi bersyariah, atau korupsi bersyariah, dan seterusnya (Anda teruskan sendiri).

Apa sebenarnya maksud di balik label dan embel-embel dari kata "bersyariah" ini? Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan klasik, bermuara pada soal-soal: negara Islam, kembali pada Alquran dan Sunnah, khilafah, dan seterusnya; yang mengandung kontroversi dan mengundang polemik berkepanjangan itu.

Sudahlah, daripada menulis hal-hal untuk mengelaborasi kekeliruan (bisa jadi salah paham atau bahkan gagal paham) semenjak dalam pikiran "mereka" yang bersumbu pendek dan penghuni bumi datar itu, mendingan "coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang", kata Ebiet G. Ade.