Menanggapi perubahan terhadap kehidupan yang dijalaninya di masa pandemi, manusia tidak selalu bisa dengan cepat menyesuaikan. Beberapa manusia tidak bisa menghadapi krisis yang dialami dalam masa pandemi hingga menimbulkan pengalaman tertekan dalam batin-nya. 

Tekanan dalam batin ini bisa disebabkan oleh berbagai macam hal seperti misalnya ditinggal untuk selamanya oleh orang yang dikasihi, diputus dari pekerjaannya, mengalami penyakit fisik, kebosanan beraktivitas di dalam rumah, dsb. Bagi mereka yang tidak bisa mengolah hidupnya dengan baik, bisa jadi akan merasa kesulitan untuk mencari kebahagiaan di masa pandemi. 

Meskipun konteksnya berbeda dengan saat ini, situasi kekacauan juga pernah dialami oleh Konfusius dalam hidupnya. Konfusius selama masa hidupnya pernah mengalami situasi kekacauan oleh karena kehidupan dalam keluarganya, situasi perang, krisis sosial dan ekonomi dalam kerajaan masa itu. 

Konfusius (Confucius) sendiri merupakan bentuk Latin dari nama Kŏng Fūzĭ. Para misionaris Katolik di China pada abad ke-16,  Michele Ruggieri SJ (1543-1607) dan Matteo Ricci SJ (1552-1610) menggubah namanya menjadi “Confucius” supaya lebih mudah diterima di telinga orang-orang barat. 

Konfusius lahir  pada tahun 551 SM di dekat kota yang sekarang dikenal sebagai Qūfù, yang pada waktu itu merupakan negeri Lŭ (bagian tenggara dari provinsi Shāndōng sekarang, selatan Beijing), leluhurnya berasal dari Negara Sòng. Namanya sering disingkat menjadi Kŏngzĭ (Kong adalah nama keluarga-nya dan zi berarti master atau guru).

Di tengah kekacauan yang dialami pada masa-nya , Konfusius masih dengan tekun memikirkan jalan untuk menciptakan keharmonisan dunia dan menemukan kebahagiaan. Konfusius sebenarnya tidak pernah menuliskan suatu teks mengenai kebahagiaan, akan tetapi ia meninggalkan pemikirannya tentang hal tersebut dalam Lúnyŭ atau dalam edisi bahasa Inggris The Analects of Confucius, artinya kumpulan kata-kata bijak dari Konfusius yang disusun oleh para muridnya.

Ajaran Mengenai Kebahagiaan

Kebahagiaan merupakan perasaan dan evaluasi hidup seorang individu yang sifatnya lebih subjektif daripada objektif. Konfusius dalam Lúnyŭ banyak membahas mengenai kebahagiaan, meskipun kata “kebahagiaan” tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan dari tulisan para muridnya. “Kebahagiaan” yang dimaksudkan oleh Konfusius, memiliki makna yang lebih dalam daripada makna “senang”, yang ada dalam kata Mandarin xìngfú, kuàilè, huānlè.

Kebahagiaan, menurut Konfusius, adalah suatu seni alunan irama yang harmonis. Berbeda dengan pandangan bahwa hidup manusia adalah penderitaan dan sikap rasa bersalah, menurut Konfusius, hidup manusia adalah seperti denting musik yang mengalun dan membentuk keselarasan nada. 

Bagi Konfusius, dunia adalah seperti masa musim semi yang menyimpan keelokan dalam setiap babak pertumbuhan kelopak bunga. Ia juga melihat dunia dengan penuh kehangatan bagaikan sinar matahari pada musim semi dan kehidupan tanpa akhir.

“子曰。吾十有五而志于學、三十而立、四十而不惑、五十而知天命、六十而耳順、七十而從心所欲、不踰矩。”

(Kongzi berkata: pada usia 15, aku menaruh tekad untuk belajar. Saat usia 30, aku telah mampu berdikari. Saat aku 40, aku telah mampu hidup tanpa dibingungkan oleh gelombang kehidupan. saat usia 50, aku mengenal jalan hidupku. Saat usia 60, aku mampu berdamai dengan jalan hidupku. Pada usia 70, aku telah mampu sepenuhnya menikmati kehidupan tanpa mengumbar hawa nafsu atau melampaui norma. (analect 2.4))

Konfusius mengatakan bahwa kebahagiaan sejati dalam hidup hanya bisa didapatkan setelah seseorang mengenal jalan hidupnya. Jalan hidup tersebut hanya bisa dikenali jika seseorang mendedikasikan hidupnya untuk belajar/menimba ilmu dan mengasah moralnya. 

Kata belajar sendiri dalam karakter Mandarin adalah Xué (學) yang menggambarkan kepak sayap burung ketika terbang. Seperti seekor burung yang mampu terbang dengan mengepakkan kedua sayapnya, manusia yang ingin mencapai tujuan kebahagiaan sejati harus membina diri terus menerus melalui proses yang disebut belajar. 

Hal yang mendasari pemikiran Konfusius mengenai belajar ialah budaya feodal di zamannya dimana hanya para bangsawan dan tuan tanah yang memperoleh akses pendidikan seperti belajar aksara, ilmu humaniora, sastra dan budaya, strategi perang, dan astronomi. 

Dalam konteks tersebut dan bahwa belajar bisa mempengaruhi pengetahuan dan kesantunan seseorang, Konfusius menekankan pentingnya belajar untuk semua kelas sosial masyarakat, sehingga rakyat jelata juga bisa memiliki jalan untuk mencapai keberhasilan dalam jalan hidupnya.

Menurut Konfusius, seseorang yang menimba ilmu hanya untuk pamor dan kekayaan tidak akan pernah mengenal jalan hidupnya sehingga tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Orang yang mengejar pamor dan kekayaan akan cenderung mudah diombang-ambingkan oleh gelombang kehidupan dan akan mudah bingung ketika menghadapi perubahan dalam kehidupannya. 

Bagi Konfusius, hanya untuk orang yang tekun belajar, menimba ilmu, dan mengasah akhlak yang akan “berdiri” dalam kehidupan sebagai manusia yang berkarya dan berguna untuk sesamanya. Kebahagiaan yang sejati hanya dapat diraih oleh orang-orang yang demikian, karena kepuasan dalam hidupnya didapat dari berdamai jalan hidupnya, bukan dari pemenuhan hawa nafsu semata.

Ajaran Mengenai Dunia yang Harmonis

“孟武伯問孝。子曰。父母唯其疾之憂。”

(Meng Wu Bo bertanya apakah arti “berbakti”. Kong Zi menjawab, “Berbakti adalah sikap sedemikian rupa sehingga orang tua tidak perlu mengkhawatirkan apa pun juga kecuali saat anaknya sakit (Analect 2.6))

Hal yang menjadi perhatian Konfusius pada zamannya adalah membangun harmoni dunia, yaitu hubungan yang harmonis antar manusia. Konfusius memulai perwujudan hal ini dalam mayarakat melalui keluarga. Menurut Konfusius terdapat tiga jenjang hubungan yang harus dipenuhi untuk mencapai dunia yang harmonis. 

Susunan jenjang relasi ini, menurutnya tidak dapat dibalik. Pertama, relasi antara orang tua dan anak: filial reverence dan filial piety anak harus berbakti kepada orang tua. Kedua, relasi antara penguasa dan rakyat: kesetiaan atau zhong, mengenai bagaimana seharusnya rakyat setia pada penguasa. 

Kesetiaan terletak di tengah hati manusia dan menunjukkan pengaruh besar sebagai karakter manusia yang paling mulia dan luhur. Ketiga, relasi dalam hubungan yang lebih umum: kepedulian. Konfusius meletakkan kesalehan anak dan rasa hormat persaudaraan sebagai akar kemanusiaan. Membantu orang lain, menurut Konfusius, pada dasarnya membantu diri sendiri untuk mencapai keberhasilan dan mendidik orang lain sebenarnya juga mendidik diri sendiri. sikap yang demikian yang disebut konfusius sebagai kepedulian.

“子貢問曰。有一言而可以終身行之者乎。子曰。其恕乎。己所不欲、勿施於人。”

(Zi Gong bertanya: “apakah ada konsep tunggal yang kami bisa ambil sebagai pedoman untuk bertindak dalam seluruh kehidupan kami?

Kong Zi, “apa itu “timbal-balik”? Apa yang kamu tidak inginkan orang lain perbuat kepadamu, jangan lakukan kepada orang lain.” (Analect 15.24))

Kedekatan hubungan antar-manusia di sisi lain dapat menimbulkan masalah. Menurut Konfusiu, sikap mencegah terjadinya konflik adalah sikap menahan diri, saling pengertian, perhatian dan keramahan satu sama lain. Sikap-sikap tersebut dijalankan oleh manusia untuk mencapai tujuan yang saling menguntungkan dan harmonis dalam hubungan antar-manusia. Untuk mengatasi kedengkian, manusia perlu memiliki sikap integritas. 

Kebajikan dalam hal timbal-balik dihargai demi kebaikan, sebab menurut Konfusius alam semesta memiliki gerak energi yang teratur. Konfusius mengajak setiap manusia untuk tidak melakukan kepada orang lain apa yang tidak diinginkan oleh orang lain.

“子曰。富與貴、是人之所欲也。 不以其道得之、不處也。貧與賤、是人之惡也。 不以其道得之、不去也。君子去仁、惡乎成名。君子無終食之間違仁、造次必於是、顚沛必於是。”

Kong Zi berkata, “Jika orang berbudi meninggalkan kemanusiaan, bagaimana mereka disebut orang berbudi? Seorang berbudi tidak meninggalkan kemanusiaan, bahkan di saat sedang makan, seorang yang berbudi berpegang teguh pada kemanusiaan bahkan dalam keadaan bahaya sekalipun (Analect 4.5)

Dalam mewujudkan keadaan harmoni, manusia perlu mendasarkan diri pada prinsip tata krama/etiket. Tata krama menjadi dasar perilaku manusia dan penguasa. Bagai Konfusius, penghargaan tinggi pada tata krama dalam hidup manusia menjadi satu-satunya cara untuk mencapai keadaan harmoni. 

Jika manusia mengejar harmoni secara berlebihan tanpa menggunakan tata krama untuk mengendalikannya, maka keadaan harmonis tidak dapat digapai. Kebajikan, dalam pemikiran Konfusius, perlu untuk ditempa dengan tata krama/etiket karena etiketlah yang mengatur tatanan sosial masyarakat dan tatanan negara kerajaan pada masa itu.

Harmoni bukan hanya mengukur dalam nilai menangani hubungan, namun juga menjadi tujuan dalam komunikasi antar-pribadi. Harmoni dapat terwujud dalam kejujuran, kemurahan hati, dan kebajikan. Menjaga dan menjalankan prinsip ini, menurut Konfusius, sama dengan menjaga keseimbangan greak hukum alam. Konsep ini digunakan untuk mengatur hubungan antara diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Menurut Konfusius, setiap manusia yang menghadapi kejahatan orang lain dengan niat jahat dan dendam, maka dunia akan menjadi lingkaran kejahatan yang tidak berujung.

Penutup

Untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, Konfusius mengajarkan kepada kita mengenai pentingnya belajar dan mengasah moral supaya dapat mengenal jalan hidup. Belajar menurut Konfusius adalah suatu proses membina diri secara terus-menerus sehingga mampu kebahagiaan sejati. Di tengah pandemi, manusia tidak boleh berhenti untuk menimba pelajaran melalui situasi yang dialaminya.

Kemudian, kemanusiaan menjadi hal utama yang harus diperhatikan dalam masa pandemi untuk menjaga harmoni. Kesetiaan menjaga kesehatan, kebersihan diri sendiri dan kesetiaan menjalankan protokol kesehatan bisa mengurangi resiko orang-orang lain terlebih lansia yang rentan terhadap penularan. Hal ini hanya bisa terwujud apabila seseorang memegang dengan teguh tata-krama/etiket dalam masa pandemi ini.