3 tahun lalu · 360 view · 1 min baca menit baca · Politik kartini_0.jpg

Merawat Impian RA Kartini

Untuk Kartini-Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April, setiap institusi di negeri ini memperingati kelahiran RA Kartini, perempuan ningrat Jawa yang tersohor karena pemikiranya yang mampu melewati masanya saat itu.

Kondisi zaman penjajahan Belanda yang membuat kaum pribumi sulit mendapatkan akses pendidikan ditambah kentalnya budaya patriarki Jawa saat itu menjadi anomali mengapa RA Kartini dapat memiliki pemikiran mengenai emansipasi perempuan atau kesetaraan gender. Tapi entah mengapa setiap tanggal 21 April itu juga berbagai lembaga justru merayakannya lewat penggunaan kebaya/baju daerah, upacara, bahkan peragaan busana.

Peringatan hari Kartini yang salah kaprah ini juga semakin menggelikan mengingat mulai banyak generasi penerus kartini kekinian yang justru lebih gandrung dengan tulisan-tulisan “udah putusin aja”, “yuk taaruf”, ataupun ketika via media sosial salah seorang ustad memberikan diskursus perempuan domestik justru banyak perempuan yang merasa bersalah.

Penulis tidak ingin suuzon apakah ada korelasi langsung antara perayaan RA Kartini yang salah kaprah ini dengan meningkatnya perempuan yang gampang galau ketika ditanya tentang pernikahan. Namun, saya yakin apabila RA Kartini hari ini masih hidup, beliau lebih memilih hidup bebas makan batu daripada hidup selayaknya di cangkang emas.

Tulisan ini tidak akan membahas pemahaman keagamaan mengenai kodrat perempuan ataupun pertentangan lebih baik jadi perempuan karir atau ibu rumah tangga. Tetapi jelas bagaimana setelah nyaris 100 tahun Kartini, budaya patriarki masih berkeliaran bebas dan terus membayangi perempuan lewat budaya pop yang menyebar melalui berbagai media.

Pemikiran Kartini mengenai sifat altruisnya, mimpi besarnya, semangat emansipasi dan kesetaraan gendernya seolah direduksi habis-habisan melalui perayaan-perayaan yang sifatnya “domestik” dan dilanggengkan oleh Negara. Ditambah meledaknya dipasaran buku-buku  yang menceramahi perempuan untuk kembali ke ranah domestik.

Kartini kekinian yang dibayangi budaya patriarki semakin limbung kehilangan daya imajinya untuk bermimpi besar, meraih pendidikan, berkarir cemerlang. Akibat kelimbungan tersebut, konsumsi buku-buku “galau” ataupun pernikahan  dini menjadi laris di pasaran.

Sehingga menurut saya perlu ada sebuah perawatan ingatan akan pemikiran RA Kartini secara massif agar menjadi counter dari diskursus contoh perempuan domestik ideal yang dapat menumpulkan impian Kartini masa kini.

Selamat Hari Kartini, 21 April, Maju terus Perempuan Indonesia!

Artikel Terkait