Hubungan hutan dan kertas itu bagaikan hubungan pecandu dengan narkobanya. Semakin banyak menggunakan kertas akan membuat hutan rusak, sama seperti halnya menggunakan narkoba. Semakin banyak penggunaan narkoba akan menyebabkan si pemakai akan rusak bahkan mati. Dalam menangani narkoba, ada banyak pihak yang harus terlibat seperti Kepolisian, BNN dan masyarakat. 

Merawat hutan yang akan digunakan untuk memproduksi kertas pun bisa dilakukan jika ada kerja sama antara pemerintah, perusahaan kertas dan masyarakat. Peranan ketiga elemen ini berbeda-beda tetapi saling berkaitan. Tanpa bisa dipungkiri, disatu sisi kita menginginkan pelestarian hutan untuk kelangsungan hidup manusia, flora dan fauna, tapi disatu sisi kita masih menggunakan kertas hampir di setiap kegiatan seperti menulis, mencetak dan menggambar.

Walaupun teknologi sudah berkembang pesat dengan adanya internet dan perangkat-perangkatnya. Maka dari itu, diperlukan langkah-langkah konkrit untuk mengatasi hal tersebut. Dimana kita bisa menggunakan kertas tanpa merusak hutan dan kita bisa melestarikan hutan tanpa menghilangkan produksi kertas.

Menurut Kemenperin, penggunaan kertas di Indonesia diprediksi meningkat 8,3% menjadi 13 juta ton dari 12 juta ton. Oleh karena itu, produksi kertas dipastikan akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar. Peningkatkan kebutuhan ini akan mempengaruhi penggunaan hutan. Hal ini bisa berakibat fatal jika 3 elemen tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Dalam merawat hutan yang akan digunakan sebagai bahan baku kertas, setiap elemen mempunyai tugas dan peranan masing-masing. Peranan secara umum seperti mengawasi dan membuat kebijakan (pemerintah), pelaksana dan pembuat produk (perusahaan kertas) dan pengguna (masyarakat). Langkah-langkah umum dalam pelestarian hutan seperti reboisasi, menerapkan sistem tebang pilih, tidak membuang sampah di hutan dan mengidentifikasi terjadinya kebakaran hutan dinilai tidak efektif jika diterapkan untuk pelestarian hutan yang akan digunakan untuk industri.

Ada satu cara yang mungkin bisa dibilang lebih baik dari cara-cara yang lain, yaitu menerapkan Hutan Tanaman Industri (HTI). Hutan Tanaman Industri adalah kawasan hutan produksi yang ditanam dan dipanen untuk memenuhi bahan baku industri seperti industri kayu, serat dan pulp maupun industri arang. Lahan yang dijadikan untuk HTI adalah lahan yang sudah tidak produktif lagi. Di Indonesia, sistem ini sudah diterapkan. Tetapi aktualnya, ada HTI yang menggunakan lahan hutan hujan tropis yang menyebabkan kerusakan ekosistem.

Pemerintah sebagai badan legislatif, eksekutif dan yudikatif telah membuat dan mensahkan undang-undang dan PP tentang Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Langkah ini sangat tepat karena semua kegiatan yang menggunakan atau memanfaatkan alam di Indonesia harus diatur agar dipergunakan secara bijak. Pemerintah akan menjadi pengawas dalam pelaksanaannya.

Hal yang tidak kalah penting dari perijinan dan pengawasan adalah pelaksana. Pelaksana yang dimaksud disini adalah perusahaan yang menggunakan bahan baku kayu, seperti perusahaan kertas. Mereka tidak hanya sekedar menebang dan menanam kembali pohon industri yang akan mereka gunakan. Semua perusahaan kertas bertanggung jawab dalam pelestarian lingkungan.

Banyak cara menuju ke arah pelestarian lingkungan. Salah satunya mereka harus berinovasi untuk mencari teknologi atau proses baru yang ramah lingkungan untuk pembuatan kertas. Para perusahaan kertas sekarang ini memproduksi kertas dengan proses recycle atau membuat bahan baku kertas tidak hanya dari virgin fiber tetapi dari kertas-kertas bekas.

Proses ini mengurangi penggunaan pulp yang signifikan. Rata-rata penggunaan kertas bekas bisa mencapai 50% dari bahan baku keseluruhan, bahkan ada jenis kertas yang memakai 100% dari bahan kertas bekas. Ini merupakan salah satu cara dari perusahaan kertas untuk melestarikan hutan dengan mengurangi penggunaan pulp.

Jika perusahaan bisa memproses kertas bekas menjadi kertas baru maka ketersediaan bahan baku kertas bekas harus disiapkan. Kertas bekas ada sangat melimpah di sekitar kita, tinggal bagaimana cara mensortirnya. Langkah kongkrit yang bisa dilakukan oleh perusahaan dan pemerintah adalah menambahkan pemilahan tempat sampah.

Secara umum pemilahan tempat sampah saat ini hanya ada untuk organik dan non organik atau hanya sampah basah dan kering. Sudah saatnya ditambahkan untuk sampah kertas agar lebih mudah dalam persiapan bahan baku pada saat proses pengambilan sampah kertas. Pendekatan lain yang bisa dilakukan oleh perusahaan kertas untuk melestarikan lingkungan adalah dengan mengadakan kampanye-kampanye melestarikan hutan dan mengadakan seminar tentang pelestarian hutan sebagai agenda Corporate Social Responsibility (CSR) mereka.

Kampanye dan seminar seperti ini bisa diikuti oleh semua kalangan seperti mahasiswa, pencinta lingkungan dan masyarakat yang mau ikut berpatisipasi dalam pelestarian lingkungan. Perusahaan kertas bisa juga membuat slogan untuk media pemasaran mereka tetapi juga untuk mengkampanyekan pelestarian hutan. Seperti slogan yang tertera pada packaging salah satu perusahaan kertas di Indonesia, “use our paper, we plant more trees”. Dengan menyertakan slogan seperti ini disetiap packaging mereka, memperlihatkan komitmen perusahaan kertas untuk melestarikan hutan.

Elemen terahkir untuk melengkapi kesinambungan pelestarian hutan adalah konsumen kertas itu sendiri. Konsumen kertas yang dimaksud adalah kita semua. Penggunaan kertas di kehidupan sehari-hari masih vital. Mulai dari menulis hingga mencetak uang. Walaupun kita membeli kertas dengan uang kita sendiri, bukan berarti kita bisa seenaknya menggunakan kertas. Kita sebagai makhluk yang paling sempurna, seharusnya bisa dengan bijak dalam penggunaan kertas untuk membantu melestarikan lingkungan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi dalam hal tersebut. Contoh kecil di lingkungan sekolah, kita bisa lebih teliti dalam menulis maupun mengetik sebelum dicetak agar tidak membuang-buang kertas jika salah dalam penulisan. Contoh lain yang sederhana, jika kita mendapatkan bingkisan sebaiknya membuka bingkisan secara perlahan agar kertas pembungkus dapat kita gunakan untuk bingkisan yang lain.

Di dunia pekerjaan, berkas-berkas dan dokumen dapat disimpan di komputer sebagai wujud paperless. Masih banyak contoh lain yang dapat kita terapkan dalam penggunaan kertas secara bijak.

Kerja sama antara pemerintah, perusahaan kertas dan konsumen sangat penting dalam pelestarian hutan. Mereka tidak dapat bekerja sendiri-sendiri dalam mewujudkan pelestarian hutan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita masih bergantung dengan kertas. Hampir setiap hari kita berkegiatan melibatkan kertas. Perilaku bijak harus diterapkan oleh pemerintah, perusahaan kertas dan konsumen. Pemerintah harus bijak dalam memberikan izin dan pengawasan, perusahaan kertas harus bijak dalam proses pembuatan kertas dan konsumen juga harus bijak dalam pemakaian kertas.

Jika ketiga elemen dengan padu melakukan itu semua, hutan dan kertas tidak akan menjadi pecandu dengan pil narkobanya yang dapat membunuh pecandu itu sendiri, tetapi akan menjadi ahli obat dengan pil narkobanya yang dapat merubah pil narkoba menjadi pil obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Dimana hutan dan kertas adalah satu kesatuan. Tidak ada hutan, tidak ada kertas. Kertas ada, hutan dijaga.