Minyak jelantah adalah minyak limbah yang berasal dari berbagai jenis minyak goreng seperti minyak sawit, minyak sayur, dan sebagainya. Minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga yang dapat digunakan kembali untuk keperluan kuliner atau mengolah bahan pangan.

Akan tetapi, bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak ini mengandung senyawa yang bersifat karsinogenik karena sangat mudah untuk mengalami oksidasi.

Limbah minyak goreng atau jelantah yang dibuang ke perairan dapat menyebabkan rusaknya ekosistem perairan karena meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) serta Biological Oxygen Demand (BOD). Permukaan air yang tertutup dengan lapisan minyak menyebabkan sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan, sehingga mengakibatkan biota-biota perairan mengalami kematian, dan akhirnya mengganggu ekosistem perairan tersebut.

Demikian rilis yang disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup Jakarta (4/2/2019).

Awal 2020, wabah penyakit mematikan mengguncang dunia. Pada 11 Februari 2020, WHO mengumumkan virus baru ini disebut dengan Covid-19. Pandemi ini berlangsung di semua wilayah dunia termasuk Indonesia, membuat aktivitas dan kegiatan semua orang menjadi terbatas.

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah dilakukan di Sumatra Barat beberapa bulan terakhir ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pendukung program PSBB yang diterapkan salah satunya adalah sistem kegiatan dari rumah atau Work From Home (WFH). 

Koperasi Mandiri Dan Merdeka (KMDM) yang beranggotakan umumnya adalah para Dosen Universitas Andalas dari berbagai disiplin ilmu menyelenggarakan unit usaha yaitu Pasar Rabu Tani (PRT).

KMDM bagi para Dosen merupakan wadah untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang berkelanjutan sebagai salah satu bentuk tugas pokok dan fungsi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. PRT sebagai sebuah program PKM diselenggarakan untuk menciptakan pasar bagi produk para Petani, Peternak, dan Produsen Kecil di Salingka Kampus.

Para Dosen sebagai Anggota KMDM menyadari bahwa selain memasarkan produk kepada para Konsumen PRT juga akan berdampak dengan menghasilkan sampah, termasuk limbah minyak goreng atau jelantah yang jika tidak dikelola dengan baik maka akan mencemari lingkungan.

Oleh sebab itu, KPM daring atau online workshop berbasis apilkasi Zoom ini dilakukan dalam kerangka kerja sama antara KMDM dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas. PKM daring yang telah diselenggarakan pada Kamis, 04 Juni 2020 pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dengan topik “Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Sabun Cuci” tersebut diikuti oleh 120 orang peserta yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, ibu-ibu Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (PKK), wirausahawan baru, dosen, mahasiswa, dan terutama para Anggota KMDM sendiri serta para Konsumen PRT.

Minyak jelantah sesungguhnya membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Memasak dengan minyak goreng berulang-ulang juga akan memimbulkan sejumlah persoalan selain isu kesehatan dalam jangka waktu yang panjang juga berdampak pada pencemaran lingkungan, demikian disampaikan Rahmi Awalina sebagai Manajer Penjualan PRT, dan salah satu Dosen Teknik Pertanian Unand.

Virtuous Setyaka selaku Ketua KMDM serta Manajer Promosi PRT dan juga Dosen Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unand menyatakan pemanfaatan jelantah minyak sisa menggoreng adalah salah satu upaya untuk mengurangi sampah yang akan menjadi beban bumi. Selanjutnya hasil olahan minyak jelantah juga dapat memberikan keterampilan tambahan bagi masyarakat untuk produktif di masa pandemi dan kedepan.

Untuk menghindari hal-hal tersebut di dalam tubuh manusia dan lingkungan di mana manusia hidup, maka dimanfaatkan menjadi sebuah produk inovasi yang dapat bernilai jual tinggi. Salah satunya adalah diolah menjadi sabun cuci untuk keperluan sehari-hari rumah tangga juga.

Rozidateno Putri Hanida yang merupakan Dosen Administrasi Negara FISIP Unand dan Mentor dalam mempraktikkan pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci kepada para peserta pelatihan melalui via Zoom. Bahan-bahan serta peralatan yang diperlukan cukup sederhana dan mudah didapat seperti NaOH, pewarna alami (daun pandan), dan minyak jelantah.

Pertama yang dilakukan adalah persiapan bahan, kemudian masukkan larutan NaOH sedikit demi sedikit ke dalam air, aduk hingga larutan tersebut larut. Diamkan hingga suhu mencapai 37-38°C. Masukkan larutan tersebut ke dalam minyak jelantah, aduk hingga merata.

Pengadukan dilakukan sampai ‘trace’, tujuannya agar semua bahan homogen. Terakhir masukkan bahan tersebut kedalam cetakan. Biarkan sabun mengeras sehingga terbentuk sabun padat yang bisa digunakan dalam mencuci baju kotor.

Sabun padat yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sendiri untuk kebutuhan rumah tangga sehingga menghemat pengeluaran keluarga. Sabun hasil pengolahan jelantah ini juga bisa dijual jika sudah melalui pengujian laboratorium, jika layak maka bisa menjadi usaha keluarga dalam bentuk UMKM dan dijual di PRT, ujar Eli Ratni (Dosen Fakultas Peternakan Unand) selaku Direktur PRT dan Bendahara KMDM.

Mendukung pendapat di atas, Donny Eros (Dosen Sastra Inggris Unand) selaku Manajer Distribusi PRT dan sebagai moderator dalam pelatihan tersebut juga menyatakan sabun hasil pengolahan jelantah bisa didistribusikan melalui koperasi, karena koperasi juga menciptakan pasar sendiri di mana anggotanya adalah produsen sekaligus konsumen.

Wellyalina selaku Ketua Pelaksanan PKM, Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, dan Manajer Logistik PRT menyampaikan bahwa kegiatan PKM ini diharapkan bermanfaat dan bisa dilakukan secara berkelanjutan serta yang terpenting walaupun hanya di rumah saja tetapi semua orang bisa berkarya.

Ini adalah bentuk dukungan dan edukasi dari koperasi kepada masyarakat. Selain itu, KMDM juga siap bekerjasama dengan berbagai pihak.