Bakat adalah misteri yang unik. Ada tapi kadang seperti tidak ada.

Bagi saya, bakat masih menjadi seperti kepingan misteri yang tidak bisa saya temukan secara mudah dan utuh. Sampai detik ini pun saya masih bingung bakat saya ini sebenarnya apa. Dulu ketika SD saya pernah berpikir bahwa saya punya bakat main layangan.

Bagaimana tidak, dulu saya jago sekali main layangan. Tapi setelah pindah rumah dan pindah-pindah pulau, kemampuan saya main layangan seolah pudar seiring saya tidak pernah lagi main layangan. 

Waktu berlalu, akhirnya saya menemukan feeling baru ketika saya mulai menekuni aktivitas sepak bola. Masa-masa kelas 5 SD sampai kelas 3 SMP saya dipenuhi dengan keyakinan bahwa bakat saya adalah di sepak bola. Mulai siang bolong sampai larut malam, saya menggeluti sepak bola saking keranjingannya.

Bahkan sejak saat itu pula tercetus cita-cita mulia saya, saya ingin jadi ketua umum PSSI. Saya nggak tahu kenapa saya punya cita-cita seperti itu. Tapi yang saya yakini saat itu adalah saya berbakat main bola dan sepak bola adalah hidup saya. Memang ambisius sekali saya saat itu.

Beranjak SMA, saya merasa aneh sendiri. Ambisi, bakat, dan cita-cita yang saya gantungkan di dunia sepak bola seolah luntur seluntur-lunturnya. Saya merasa bakat yang saya miliki di sepak bola seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan teman-teman saya.

Ada perasaan ragu dan bertanya-tanya, "ini bakat aku apaan, sih? Main bola ya gitu gitu aja. Skill ngegocek ala kadarnya. Nendang juga nggak kencang-kencang amat." Pertanyaan itu seperti terus menghantui dan membuat saya galau hingga membuat saya makin tidak tertarik dengan sepak bola.

Perasaan galau saya terkait bakat apa yang sebenarnya saya miliki itu akhirnya menjerumuskan saya ke dunia yang baru. Musik. Tidak lagi menyukai sepak bola. Bermain musik menjadi hobi baru saya sejak kelas 2 SMA. Genre metal, rock, dan hal-hal yang berbau musik keras coba saya mainkan dengan sekali lagi, kemampuan yang pas-pasan. Sampai lulus SMA, saya kembali dibuat galau terkait bakat yang saya miliki.

Tidak ada satu pun bakat yang menonjol dalam diri saya. Main layangan dulu saya jago, tapi sekarang nggak. Main bola dulu merasa sangat berbakat, tapi sekarang merasa ampas. Main musik juga begitu, saya merasa nggak punya bakat di situ.

Periode bertanya-tanya soal bakat apa yang sebenarnya saya miliki terus berlanjut. Lulus SMA, om saya nanya, saya mau kuliah di mana dan ambil jurusan apa. Saya jawab saya nggak tahu. Om saya menyarankan ambil jurusan yang sesuai minat dan bakat saya saja. Saya mengiyakan sambil menggerutu dalam hati, "hah, bakat dan minat? Apa itu!"

Di masa setelah lulus SMA, saya coba menelusuri apa minat dan bakat saya. Sambil belajar buat tes SBMPTN. Saya akhirnya dan lagi-lagi menemukan dunia baru. Menulis.

Ketika kegabutan saya setelah lulus SMA terasa menyiksa, saya mencoba mencari aktivitas yang mungkin bisa membunuh kegabutan. Saya bertemu blog, saya menulis blog sampai semester dua. Sampai akhirnya lagi-lagi saya kembali mempertanyakan bakat saya, apakah menulis adalah bakat saya? Saya coba baca artikel dan tulisan saya di blog. Saya kembali yakin, saya masih nggak punya bakat apa-apa.

Hingga saat ini, pertanyaan terkait bakat apa yang sebenarnya saya miliki masih belum mendapatkan jawaban yang jelas dan gamblang. Walau aktivitas menulis masih saya tekuni hingga saat ini. Perasaan saya masih diselimuti rasa galau terkait apakah menulis adalah bakat saya yang sebenarnya atau hanya sekadar aktivitas membunuh waktu? Saya masih tidak tahu jawabannya.

Kemarin saya baru selesai membaca buku Daniel Coyle yang judulnya Bakat Sukses. Di bagian pengantar, Daniel Coyle mengatakan bahwa sejatinya bakat tidak terlalu ditentukan oleh gen yang kita miliki, melainkan lebih banyak oleh tindakan kita. Tepatnya, gabungan antara latihan yang tekun dan motivasi yang menghasilkan pertumbuhan otak.

Membaca pandangan Daniel Coyle tersebut, saya mencoba mengoreksi kembali pandangan saya mengenai bakat saya sendiri.

Saya pikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya jika saya terus memotivasi diri, tekun, dan tidak gampang bosan ada kemungkinan saya bisa jadi pro player dalam memainkan layang-layang. Begitu juga ketika dulu saya sempat tergila-gila bermain sepak bola. Seandainya saya tidak merasa minder, ada kemungkinan saya akhirnya menemukan bakat saya yang sebenarnya.

Lalu saya mencoba melihat realitas saat ini. Sekarang, setelah berganti-ganti hobi dan aktivitas, menulis masih terus saya tekuni. Selain karena merasa senang, faktor adanya cuan yang didapat juga menjadi alasan mengapa saya masih berusaha terus menulis. Ditambah saat ini saya memasuki fase menggarap skripsi. Aktivitas menulis sepertinya masih akan begitu dekat dengan kehidupan saya.

Bakat memang hal yang unik. Karena setiap individu punya waktunya masing-masing untuk menemukannya. Ada yang dengan cepat dan ada yang dengan usaha serta perjuangan yang begitu keras.

Kegalauan saya soal bakat apa sih sebenarnya yang saya miliki sampai saat ini jujur sering mampir di pikiran saya. Tapi saya ingin mencoba mengimplementasikan apa yang dikatakan Daniel Coyle, "Berpikirlah seperti tukang kebun dan bekerjalah seperti tukang kayu." Maksudnya adalah berpikir dengan sabar dan bekerja dengan tekun dan penuh strategi.

Konsep tersebut sudah saya coba terapkan dalam proses penggarapan skripsi saya saat ini. Dan semoga saja berhasil hingga tahap akhir. Maka dari itu, mari berdoa untuk selesainya skripsi saya dan ditemukannya bakat saya. Amin amin amin.